Mengenal Sape, Alat Musik Petik Khas Dayak yang Mendunia
Penulis: Mursyidah Auni | Editor : Rein
KARTANEWS.COM, INDONESIA - Sape yang juga dikenal dengan sebutan sampe atau sapeq merupakan alat musik petik tradisional masyarakat Dayak di Kalimantan. Instrumen ini tidak hanya berfungsi sebagai pengiring hiburan, tetapi memiliki akar historis dan spiritual yang kuat dalam kehidupan sosial budaya suku Dayak, khususnya subetnis Kayan, Kenyah, dan Bahau.
Karakter suaranya yang lembut, meditatif, dan repetitif, sape kerap dijuluki sebagai “alat musik dari surga” oleh para pegiat seni karena nuansanya yang menenangkan dan reflektif.
Jejak Sejarah dan Nilai Spiritual
Dalam tradisi lisan masyarakat Dayak, sape diyakini berasal dari ilham spiritual. Salah satu legenda yang berkembang di kalangan Dayak Kenyah menyebutkan bahwa alat musik ini tercipta dari mimpi seorang lelaki yang mendengar alunan bunyi indah dari alam, baik dari dasar sungai maupun dari hutan.
Ia kemudian membuat instrumen dari kayu berbentuk menyerupai perahu dengan dawai dari serat pohon, mengikuti petunjuk dalam mimpinya. Sejak saat itu, sape dipercaya memiliki kekuatan untuk menenangkan jiwa dan mengiringi ritual penyembuhan.
Pada masa lalu, sape dimainkan dalam upacara adat, ritual pengobatan (belian), serta sebagai sarana komunikasi simbolik dengan roh alam. Permainannya bersifat repetitif dan hipnotik, selaras dengan fungsi ritual yang sakral.
Dalam beberapa komunitas, terdapat pula aturan adat yang membatasi siapa yang boleh memainkan sape, termasuk larangan bagi perempuan pada masa tertentu.
Konstruksi dan Ciri Fisik
Secara organologis, sape termasuk dalam kelompok kordofon (alat musik berdawai). Bentuknya memanjang dengan bagian tubuh menyerupai perahu atau badan manusia tanpa lubang suara di bagian depan, rongga resonansi biasanya berada di bagian belakang atau bawah badan instrumen.
Secara tradisional, sape dibuat dari satu balok kayu utuh yang dilubangi bagian tengahnya. Kayu yang umum digunakan antara lain kayu adau (nangka hutan) dan kayu marang, karena ringan serta memiliki kualitas resonansi yang baik.
Pada masa lalu, dawai dibuat dari serat pohon aren atau rotan yang dipilin. Seiring perkembangan zaman, bahan tersebut digantikan oleh kawat baja atau senar gitar untuk menghasilkan suara yang lebih kuat dan stabil.
Bagian fret atau penentu nada awalnya dibuat dari potongan kayu atau bambu kecil yang ditempel menggunakan lilin lebah hutan (kelulut), sehingga dapat digeser sesuai kebutuhan tangga nada.
Transformasi ke Panggung Dunia
Perkembangan sape tidak terlepas dari perubahan fungsi sosialnya. Jika dahulu digunakan terutama untuk ritual adat dan penyembuhan, kini sape tampil sebagai instrumen hiburan dan pertunjukan seni.
Jumlah dawai yang semula hanya dua atau tiga, kini dapat mencapai empat hingga delapan dawai pada sape modern. Bahkan, beberapa pengrajin menambahkan pickup elektrik sehingga lahir sape elektrik yang dapat tampil di panggung besar bersama instrumen modern lainnya.
Transformasi ini membuka ruang kolaborasi lintas genre, mulai dari musik pop, jazz, hingga world music. Sape kerap dipentaskan dalam festival budaya tingkat nasional dan internasional, memperkenalkan identitas Dayak ke panggung global.
Makna Ornamen dan Identitas Budaya
Hampir seluruh sape dihiasi ukiran khas Dayak yang sarat makna simbolik. Motif yang sering digunakan antara lain motif pakis, aso (naga anjing), serta ornamen geometris yang merepresentasikan hubungan manusia dengan alam dan leluhur.
Ukirannya bukan sekadar elemen estetika, tetapi menjadi penanda identitas budaya, status sosial, serta perlindungan spiritual bagi pemiliknya.
Keberadaan ornamen ini menegaskan bahwa sape bukan sekadar alat musik, melainkan karya seni ukir yang menyatu dengan nilai kosmologi masyarakat Dayak.
Peran Maestro dan Upaya Pelestarian
Popularitas sape di kancah nasional dan internasional tidak terlepas dari kontribusi para maestro, seperti Uyau Moris dan sejumlah seniman Dayak lainnya yang aktif memperkenalkan sape melalui rekaman dan pertunjukan lintas negara.
Berbagai sanggar seni dan komunitas budaya di Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, dan Sarawak (Malaysia) juga terus mengajarkan teknik bermain sape kepada generasi muda.
Dalam konteks pelestarian, sape kini diajarkan di sejumlah sekolah dan ditampilkan dalam agenda kebudayaan daerah. Pemerintah daerah bersama komunitas adat juga mendorong dokumentasi musik tradisional ini sebagai bagian dari warisan budaya takbenda.
Warisan yang Terus Beradaptasi
Keberlanjutan sape menunjukkan bahwa tradisi dapat beradaptasi tanpa kehilangan esensinya. Meskipun material, jumlah dawai, dan sistem penguat suara mengalami perubahan, karakter bunyi yang lembut dan kontemplatif tetap menjadi ciri khas utama.
Sape bukan sekadar instrumen musik, melainkan representasi identitas, spiritualitas, dan daya tahan budaya masyarakat Dayak. Dari rumah panjang di pedalaman Kalimantan hingga panggung internasional, alunan sape terus mengalir sebagai simbol harmoni antara manusia, alam, dan tradisi yang diwariskan lintas generasi.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0