Dilema Sampah Tangsel: Ciputat Tercekik Kemacetan, Serang Pasang Barikade Penolakan

Jan 7, 2026 - 12:09
Jan 9, 2026 - 16:34
 0  5
Dilema Sampah Tangsel: Ciputat Tercekik Kemacetan, Serang Pasang Barikade Penolakan
Sejumlah pengendara melintas di tupukan sampah yang ada di bahu Jalan Otista Raya, Ciputat, Tangerang Selatan, Banten (inilah.com)

KARTANEWS.COM, TANGERANG SELATAN – Wajah Jalan Otista Raya, Ciputat, kembali diperburuk oleh gunungan sampah setinggi dua meter yang tumpah ke badan jalan. Bukan hanya soal estetika yang rusak, limbah yang menggunung ini telah menjadi monster kemacetan baru yang menyedot waktu para pengendara setiap harinya. Bau menyengat yang menusuk hidung kini menjadi "sajian" wajib bagi warga dan pedagang pasar yang terpaksa beraktivitas di tengah kepungan polusi aroma tersebut.

Berdasarkan laporan inilah.com. Laju kendaraan di kawasan ini praktis lumpuh saat jam berangkat dan pulang kerja akibat penyempitan lajur oleh sampah. Ilham (40), seorang pengguna jalan, mengaku frustrasi karena waktu tempuhnya terbuang sia-sia hanya untuk melewati blokade sampah ini.  

“Kalau pagi saat orang-orang pada masuk kerja arus lalu lintas tersendat karena sebagian jalannya tertutup sampah,” keluhnya.

Ia mendesak pemerintah tidak hanya sekadar mengangkut sampah, tapi juga memperbaiki aspal yang mulai hancur akibat rembesan air sampah.

Senada dengan Ilham, para pedagang di sekitar lokasi juga mulai kehilangan kesabaran terhadap kemacetan yang seolah menjadi rutinitas abadi di Ciputat. Rara (36), salah satu pedagang, menyebutkan bahwa pembiaran tumpukan sampah ini secara perlahan mematikan minat pengunjung untuk datang ke pasar.

“Macet tiap hari di sini. Pagi dan sore macet terus. Enggak hari libur, enggak hari biasa, memang sering macet di sini,” tuturnya menggambarkan kondisi Jalan Otista yang kian semrawut.

Namun, saat Tangsel berupaya membuang beban limbahnya ke TPAS Cilowong, mereka justru disambut tembok perlawanan di Kota Serang. Warga Taktakan secara terang-terangan membentangkan spanduk protes dan menolak wilayah mereka dijadikan "tong sampah" tetangga. Warga merasa dikhianati oleh klaim sepihak pemerintah yang menyebut masyarakat telah setuju.

“Mohon ditunjukkan tanda tangan masyarakat yang setuju. Berarti ini bukan mengatasnamakan masyarakat Taktakan,” tegasnya.

Kekhawatiran warga Serang bukan tanpa alasan; aroma busuk dan tetesan air lindi dari truk pengangkut menjadi ancaman nyata bagi kesehatan lingkungan mereka. Ansori, warga yang aktif melakukan pemantauan, mengungkapkan fakta di lapangan bahwa truk-truk dari Tangsel masih menyisakan jejak kotor di sepanjang jalan menuju pembuangan.

“Waktu malam ketiga mobil dari Tangsel air lindinya bercucuran. Malam itu juga kami minta dibalikkan, putar balik,” ujarnya menceritakan aksi pengusiran truk sampah beberapa waktu lalu.

Menanggapi gejolak di hilir, Pemkot Serang melalui Dinas Lingkungan Hidup akhirnya mengakui adanya miskomunikasi terkait sosialisasi di tengah masyarakat.

Kepala Dinas LH, Farach Richi, menyatakan akan mengevaluasi kembali kesepakatan antar-daerah ini mengingat gelombang penolakan warga yang kian masif. Kini, ribuan ton sampah di Ciputat berada di ambang ketidakpastian; tertahan di bahu jalan Tangsel atau dipaksa balik oleh barikade warga Serang. (J) 

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0