Menelusuri Jejak Sejarah Hari Valentine

Penulis: Mursyidah Auni

Feb 13, 2026 - 16:52
Feb 13, 2026 - 17:01
 0  3
Menelusuri Jejak Sejarah Hari Valentine
Poto ilustrasi

KARTANEWS.COM - Setiap tanggal 14 Februari, berbagai belahan dunia merayakan Hari Valentine yang identik dengan bunga mawar, cokelat, serta ungkapan kasih sayang.

Namun, di balik simbol-simbol itu, tersimpan sejarah panjang pada legenda keagamaan, tradisi Romawi kuno, hingga transformasi sosial dan budaya yang berlangsung selama berabad-abad.

Asal-usul Nama dan Tokoh Santo Valentinus

Nama “Valentine” diyakini merujuk pada Santo Valentinus, seorang martir Kristen yang hidup pada abad ke-3 Masehi pada masa Kekaisaran Romawi. Catatan sejarah menunjukkan adanya lebih dari satu tokoh bernama Valentinus yang wafat pada tanggal 14 Februari, sehingga identitas historisnya masih menjadi perdebatan.

Legenda yang paling dikenal menyebutkan bahwa Valentinus merupakan seorang imam di Roma pada masa pemerintahan Kaisar Claudius II. Pada periode ini, kaisar melarang prajurit muda untuk menikah dengan alasan bahwa pria lajang dinilai lebih fokus dan tangguh dalam peperangan. Valentinus menentang kebijakan itu dan secara diam-diam tetap menikahkan pasangan muda.

Tindakan tersebut diketahui oleh otoritas kekaisaran, sehingga ia ditangkap dan dijatuhi hukuman mati. Sebelum dieksekusi pada 14 Februari, ia disebut menulis surat kepada putri sipir penjara yang konon pernah ia sembuhkan dari kebutaan. Suratnya ditandatangani dengan kalimat “From your Valentine” yang kemudian menjadi frasa populer dalam tradisi kartu Valentine.

Pengaruh Tradisi Lupercalia

Selain legenda Santo Valentinus, sejumlah sejarawan mengaitkan peringatan 14 Februari dengan festival Romawi kuno bernama Lupercalia yang dirayakan pada pertengahan Februari. Lupercalia merupakan ritual kesuburan yang melibatkan berbagai prosesi keagamaan dan simbol-simbol kemakmuran.

Pada akhir abad ke-5, Paus Gelasius I menetapkan 14 Februari sebagai Hari Santo Valentinus. Langkah ini kerap dipandang sebagai upaya mengalihkan atau menggantikan tradisi pagan dengan perayaan yang lebih bernuansa Kristen.

Seiring waktu, makna perayaannya mengalami pergeseran dan berkembang melampaui konteks keagamaan semata.

Perkembangan pada Abad Pertengahan

Asosiasi antara 14 Februari dan cinta romantis mulai menguat pada Abad Pertengahan di Eropa. Penyair Inggris Geoffrey Chaucer, dalam karyanya “Parlement of Foules” pada tahun 1382, mengaitkan Hari Santo Valentinus dengan musim kawin burung. Sejak saat itu, peringatannya semakin diasosiasikan dengan perjodohan dan cinta.

Pada abad ke-15 dan ke-16, tradisi saling bertukar pesan dan puisi cinta mulai berkembang di kalangan bangsawan Eropa. Memasuki abad ke-18, kartu Valentine buatan tangan menjadi populer di Inggris.

Revolusi Industri kemudian memungkinkan produksi massal kartu ucapan, sehingga perayaan ini semakin meluas dan terjangkau oleh berbagai lapisan masyarakat.

Transformasi di Era Modern

Pada era modern, Hari Valentine telah bertransformasi dari peringatan religius menjadi perayaan universal yang melintasi batas agama dan budaya. Setidaknya terdapat tiga makna utama yang kerap dilekatkan pada perayaan ini:

1. Apresiasi terhadap Hubungan

    Hari Valentine menjadi momentum untuk menyampaikan rasa terima kasih dan kasih sayang kepada pasangan, keluarga, maupun sahabat.

2. Ekspresi Perasaan

    Bagi sebagian orang, tanggal 14 Februari menjadi kesempatan untuk mengungkapkan perasaan yang selama ini belum tersampaikan.

3. Penghargaan terhadap Diri Sendiri

    Dalam beberapa tahun terakhir, berkembang pula pemaknaan Hari Valentine sebagai waktu untuk merawat dan menghargai diri sendiri.

Dari sisi komersialisasi turut memainkan peran penting. Industri bunga, cokelat, perhiasan, serta layanan restoran dan pariwisata mengalami peningkatan transaksi menjelang 14 Februari.

Ragam Tradisi di Berbagai Negara

Perayaan Hari Valentine memiliki variasi tradisi di berbagai negara:

Jepang

Pada 14 Februari, perempuan memberikan cokelat kepada laki-laki, baik sebagai ungkapan perasaan pribadi maupun bentuk penghormatan kepada rekan kerja. Sebulan kemudian, pada 14 Maret, laki-laki membalas pemberian tersebut dalam perayaan White Day.

Korea Selatan

Selain Valentine dan White Day, terdapat pula peringatan Black Day pada 14 April. Mereka yang tidak menerima hadiah pada dua perayaan sebelumnya biasanya berkumpul dan menyantap mi hitam sebagai simbol kebersamaan para lajang.

Wales

Masyarakat Wales merayakan “Dydd Santes Dwynwen” pada 25 Januari. Pasangan saling bertukar sendok kayu berukir yang dikenal sebagai love spoons sebagai simbol cinta dan komitmen.

Tradisi-tradisi tersebut menunjukkan bahwa Hari Valentine telah mengalami adaptasi budaya sesuai dengan konteks sosial masing-masing negara.

Perspektif Sosial dan Budaya

Di sejumlah negara, termasuk Indonesia, perayaan Hari Valentine kerap menjadi perdebatan publik. Sebagian kalangan memandangnya sebagai budaya asing yang tidak selaras dengan nilai lokal atau keagamaan, sementara yang lain menilainya sebagai momentum universal untuk mengekspresikan kasih sayang.

Dinamika ini mencerminkan interaksi antara arus globalisasi dan identitas budaya lokal. Dalam praktiknya, makna Valentine dapat diterima, dimodifikasi, atau bahkan ditolak, tergantung pada sudut pandang masyarakat setempat.

Terlepas dari kontroversi dan aspek komersial, esensi Hari Valentine pada akhirnya kembali pada nilai kasih sayang, empati, dan perhatian terhadap sesama.

Ungkapan apresiasi yang tulus, baik dalam bentuk kata-kata maupun tindakan sederhana, diyakini memiliki dampak positif terhadap kualitas hubungan antarmanusia.

Hari Valentine mungkin diperingati hanya sekali dalam setahun, tetapi nilai yang dikandungnya sejatinya bersifat berkelanjutan. Konsistensi dalam memelihara hubungan dan menunjukkan kepedulian sehari-hari merupakan makna terdalam dari perayaannya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0