Isra Mi’raj, Peristiwa Sakral yang Hidup dalam Tradisi Nusantara
KARTANEWS.COM, INDONESIA – Peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW menjadi salah satu momen penting dalam kalender keagamaan umat Islam di Indonesia. Selain dimaknai sebagai peristiwa spiritual, Isra Mi’raj juga hidup dalam berbagai tradisi lokal yang berkembang di tengah masyarakat Nusantara.
Secara historis, Isra Mi’raj terjadi pada malam 27 Rajab, sekitar tahun 621 M, menjelang hijrahnya Nabi Muhammad SAW ke Madinah. Dalam peristiwa ini, Nabi Muhammad SAW melakukan perjalanan dari Masjidil Haram di Makkah ke Masjidil Aqsa di Palestina, kemudian naik ke Sidratul Muntaha. Dari peristiwa tersebut, umat Islam menerima perintah utama berupa kewajiban melaksanakan shalat lima waktu yang hingga kini menjadi fondasi ibadah umat Islam.
Dalam konteks Indonesia, peringatan Isra Mi’raj kerap disebut Rajaban dan dirayakan dengan beragam tradisi yang mencerminkan akulturasi antara ajaran Islam dan budaya lokal. Seperti di Yogyakarta dan Solo, tradisi Rajaban dilaksanakan melalui kirab simbolik burung buraq.
Sementara di Bangka Belitung, masyarakat mengenal tradisi Nganggung dengan membawa makanan ke masjid untuk disantap bersama. Adapun di sejumlah wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur, pembacaan Kitab Arjo menjadi bagian dari peringatan Isra Mi’raj, sedangkan masyarakat Cirebon memadukannya dengan ziarah dan pengajian umum.
Lebih dari sekadar tradisi, Isra Mi’raj memiliki nilai edukasi yang kuat bagi umat Islam. Peristiwa ini mengajarkan pentingnya ketaatan dalam menjalankan shalat sebagai ibadah utama, sekaligus menanamkan nilai kedisiplinan, kejujuran, dan tanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari. Melalui peringatan ini, masyarakat diajak untuk merefleksikan kembali kualitas ibadah dan akhlak sosial.
Dalam praktiknya, terdapat pula sebagian kalangan yang memandang peringatan Isra Mi’raj sebagai bid’ah, terutama jika dirayakan dalam bentuk ritual tertentu yang tidak secara eksplisit dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW. Perbedaan pandangan ini merupakan bagian dari dinamika pemahaman keagamaan di tengah umat Islam.
Namun, para ulama dan tokoh agama di Indonesia umumnya menekankan bahwa peringatan Isra Mi’raj yang diisi dengan pengajian, selawat, dan penguatan nilai ibadah tidak dimaksudkan untuk menambah ajaran baru, melainkan sebagai sarana dakwah dan pendidikan. Selama tidak bertentangan dengan prinsip syariat, peringatan tersebut dipandang sebagai media untuk mengingatkan umat terhadap makna shalat dan keteladanan Nabi Muhammad SAW.
Dalam konteks Indonesia yang majemuk, peringatan Isra Mi’raj sekaligus menjadi contoh nyata praktik moderasi beragama. Perbedaan pandangan disikapi dengan saling menghormati, sementara nilai persatuan dan kebersamaan tetap dijaga. Negara sendiri menetapkan Isra Mi’raj sebagai hari libur nasional, sebagai bentuk pengakuan atas pentingnya peristiwa ini dalam kehidupan beragama dan berbangsa. (AUNI)
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0