Mengapa Natal Dirayakan 25 Desember? Ini Jejak Sejarahnya

Dec 25, 2025 - 19:27
Dec 25, 2025 - 20:21
 0  8
Mengapa Natal Dirayakan 25 Desember? Ini Jejak Sejarahnya
Istimewa

KARTANEWS.COM, INDONESIA - Setiap 25 Desember, umat Kristiani di seluruh belahan dunia memperingati Hari Raya Natal. Namun, tidak banyak yang mengetahui bahwa penetapan tanggal tersebut merupakan hasil dari perjalanan sejarah panjang yang melibatkan keyakinan teologis, tradisi kuno, serta keputusan Gereja.

Secara historis, Alkitab tidak mencatat secara spesifik tanggal kelahiran Yesus Kristus. Fokus utama umat Kristen awal justru lebih tertuju pada perayaan Paskah, yang memperingati wafat dan kebangkitan Yesus. Bahkan, sejumlah tokoh gereja pada abad pertama dan kedua Masehi sempat memandang perayaan ulang tahun sebagai praktik yang identik dengan budaya pagan.

Meski demikian, seiring berkembangnya agama Kristen di wilayah kekaisaran Romawi, muncul kebutuhan akan satu tanggal resmi untuk memperingati kelahiran Yesus. Para sejarawan mencatat setidaknya terdapat dua teori utama yang menjelaskan mengapa 25 Desember akhirnya dipilih.

Teori pertama berkaitan dengan adaptasi budaya Romawi. Pada akhir Desember, masyarakat Romawi merayakan sejumlah festival penting, seperti Saturnalia, perayaan untuk menghormati Dewa Saturnus yang identik dengan pesta dan pemberian hadiah. 

Selain itu, terdapat pula perayaan Dies Natalis Solis Invicti atau hari kelahiran “Matahari yang Tak Terkalahkan”yang bertepatan dengan titik balik matahari musim dingin. Gereja pada masa itu diduga menetapkan kelahiran Yesus pada tanggal yang sama sebagai upaya memberi makna baru terhadap tradisi yang sudah mengakar dengan memaknai Yesus sebagai terang sejati bagi dunia.

Teori kedua berangkat dari perhitungan teologis. Tradisi gereja awal meyakini bahwa peristiwa penting dalam hidup tokoh besar terjadi pada tanggal yang sama, termasuk antara saat dikandung dan wafat. 

Berdasarkan tradisi ini, hari Anunsiasi yakni saat Maria mengandung Yesus, ditetapkan pada 25 Maret. Jika dihitung sembilan bulan sejak tanggal tersebut, maka kelahiran Yesus jatuh pada 25 Desember.

Dalam catatan sejarah, penyebutan tanggal 25 Desember sebagai hari kelahiran Yesus mulai muncul pada awal abad ketiga. Sejarawan Kristen Sextus Julius Africanus pada tahun 221 Masehi telah menyinggung tanggal tersebut dalam tulisannya. 

Selanjutnya, pada tahun 336 Masehi, kalender Romawi mencatat perayaan Natal secara resmi pada 25 Desember, bertepatan dengan masa pemerintahan Kaisar Konstantinus Agung. Penetapan ini kemudian diperkuat oleh Paus Julius I pada sekitar tahun 350 Masehi untuk Gereja Barat.

Meski demikian, tidak semua gereja merayakan Natal pada tanggal yang sama. Sejumlah gereja Ortodoks Timur, seperti di Rusia dan Mesir, masih menggunakan Kalender Julian, sehingga perayaan Natal jatuh pada 7 Januari menurut kalender Gregorian yang digunakan secara luas saat ini.

Seiring waktu, Natal berkembang melampaui ranah liturgi. Tradisi pohon Natal, kartu ucapan, hingga figur Santa Claus muncul dari pengaruh budaya Eropa Utara dan berkembang pesat pada abad ke-19. Revolusi industri dan media massa kemudian menjadikan Natal sebagai perayaan sosial dan ekonomi berskala global.

Meski demikian, makna religius Natal tetap menjadi inti perayaan bagi umat Kristiani. Natal dipahami sebagai peringatan inkarnasi, yakni kehadiran Tuhan dalam sejarah manusia, yang membawa pesan kasih, pengharapan, dan perdamaian.

Dengan latar sejarah tersebut, perayaan Natal pada 25 Desember tidak hanya dimaknai sebagai tradisi keagamaan, tetapi juga sebagai hasil dialog panjang antara iman, budaya, dan sejarah. 

Terlepas dari perbedaan tanggal, makna utama Natal tetap berpusat pada peringatan kelahiran Yesus Kristus sebagai simbol harapan, damai, dan terang bagi umat manusia. (AUNI)

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0