Sagu, Sorgum, dan Mocaf: Wajah Baru Pangan Lokal Indonesia
KARTANEWS.COM, INDONESIA – Pangan lokal Indonesia kini tidak lagi diposisikan sekadar sebagai alternatif, melainkan mulai menjadi instrumen strategis dalam mewujudkan kedaulatan pangan nasional dan diversifikasi konsumsi masyarakat.
Di tengah tingginya ketergantungan terhadap beras dan gandum impor, pemerintah bersama sektor swasta terus mendorong pengembangan dan pemanfaatan komoditas pangan asli Nusantara.
Sejumlah komoditas pangan lokal menunjukkan tren pertumbuhan yang signifikan, baik dari sisi produksi, inovasi olahan, maupun penetrasi pasar. Salah satunya adalah sagu.
Indonesia tercatat memiliki cadangan sagu terbesar di dunia dengan luas mencapai sekitar 5,5 juta hektare, terutama di Papua, Maluku, dan Riau. Saat ini, sagu tidak hanya dikonsumsi secara tradisional tetapi telah diolah menjadi produk modern seperti mie sagu dan beras analog.
Selain sagu, sorgum juga mulai menjadi perhatian nasional. Tanaman ini dikenal tahan terhadap kondisi iklim ekstrem dan kekeringan, sehingga dinilai cocok dikembangkan sebagai substitusi gandum. Wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) menjadi pusat pengembangan sorgum nasional. Pemerintah menargetkan pengembangan sorgum hingga ribuan hektare sebagai bagian dari strategi ketahanan pangan jangka panjang.
Komoditas porang juga mengalami perkembangan pesat dalam beberapa tahun terakhir. Tanaman umbi ini mengandung glukomanan tinggi yang menjadi bahan baku produk pangan sehat seperti shirataki. Produk olahan porang telah menembus pasar ekspor, terutama ke Jepang dan China, seiring meningkatnya permintaan pangan rendah kalori.
Sementara itu, singkong terus diarahkan menjadi bahan pangan strategis melalui pengembangan tepung mocaf (Modified Cassava Flour). Melalui berbagai program, termasuk Food Estate, singkong dioptimalkan sebagai pengganti terigu karena kualitasnya yang semakin mendekati gandum impor.
Badan Pangan Nasional (NFA) mencatat, pengembangan pangan lokal sejalan dengan strategi diversifikasi pangan nasional. Melalui peningkatan skor Pola Pangan Harapan (PPH), pemerintah berupaya menekan konsumsi beras per kapita dan meningkatkan konsumsi umbi-umbian serta sumber karbohidrat lokal lainnya.
Tren gaya hidup sehat turut menjadi pendorong utama. Permintaan produk bebas gluten di perkotaan meningkat, mendorong tepung lokal seperti tepung garut, tepung jagung, dan mocaf semakin banyak tersedia di pasar modern.
Selain itu, hilirisasi produk pangan lokal juga semakin berkembang, ditandai dengan hadirnya mie jagung, mie sagu, hingga beras analog dengan indeks glikemik lebih rendah.
Dalam peta jalan diversifikasi pangan 2020–2024, NFA menetapkan enam komoditas utama pengganti nasi, yakni singkong, talas, sagu, jagung, ubi jalar, dan kentang.
Singkong yang sebelumnya dianggap sebagai “makanan kelas dua” kini diolah menjadi berbagai produk inovatif seperti tiwul instan dan gula singkong yang mampu menjangkau pasar nasional hingga ekspor. Ubi jalar bahkan telah berhasil menembus pasar Jepang melalui produk olahan bernilai tambah.
Meski menunjukkan perkembangan positif, pangan lokal masih menghadapi sejumlah tantangan. Stigma sosial terhadap konsumsi non-beras masih kuat di sebagian masyarakat. Selain itu, rantai pasok pangan lokal dinilai belum seefisien beras yang telah lama mendapat subsidi, serta keterbatasan teknologi pengolahan di sejumlah daerah yang memengaruhi konsistensi kualitas produk.
Namun demikian, dukungan pemerintah melalui pelatihan, bantuan peralatan, serta penguatan UMKM pangan lokal terus digencarkan. Inovasi teknologi, perubahan pola pikir masyarakat, serta kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, akademisi, dan komunitas dinilai menjadi kunci keberhasilan diversifikasi pangan ke depan.
Dengan pengelolaan yang tepat dan hilirisasi berkelanjutan, pangan lokal Indonesia diyakini memiliki potensi ekonomi yang besar sekaligus mampu memperkuat ketahanan pangan nasional secara berkelanjutan. (AUNI)
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0