BPS Prediksi Lonjakan Inflasi Ramadan 2026 Terjadi di Bulan Maret

Jan 30, 2026 - 16:40
Jan 30, 2026 - 17:22
 0  8
BPS Prediksi Lonjakan Inflasi Ramadan 2026 Terjadi di Bulan Maret
(Liputan6.com)

KARTANEWS.COM, JAKARTA — Badan Pusat Statistik (BPS) memproyeksikan tekanan inflasi tertinggi selama periode Ramadan 2026 akan terjadi pada Maret. Pola tersebut dinilai konsisten dengan tren inflasi musiman yang tercatat dalam beberapa tahun terakhir.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Puji Ismartini, menjelaskan bahwa waktu dimulainya Ramadan memiliki pengaruh signifikan terhadap distribusi inflasi bulanan. 

Menurutnya, apabila Ramadan dimulai di awal bulan, lonjakan harga cenderung terkonsentrasi dalam satu periode. Sebaliknya, jika dimulai di pertengahan bulan, tekanan inflasi akan terbagi ke dua bulan berbeda.

“Ketika Ramadan tidak berlangsung satu bulan penuh dalam satu periode kalender, biasanya puncak inflasi justru bergeser ke bulan berikutnya. Pola ini terlihat konsisten dalam data lima tahun terakhir,” ujarnya.

BPS mencatat, pada Ramadan 2023 yang dimulai pada 23 Maret, kenaikan harga mulai terlihat pada Maret namun mencapai puncaknya pada April 2023. 

Sementara itu, pada 2025 ketika Ramadan dimulai pada 1 Maret, inflasi bulanan pada Maret melonjak hingga 1,65 persen, menjadi yang tertinggi dalam lima tahun terakhir.

“Inflasi tersebut relatif tinggi karena seluruh periode Ramadan berlangsung dalam satu bulan penuh,” kata Puji.

Dengan mempertimbangkan pola historis tersebut, BPS menilai pembacaan inflasi Ramadan 2026 perlu dilakukan secara hati-hati, terutama karena awal puasa jatuh di pertengahan Februari. Kondisi ini berpotensi membuat tekanan harga meningkat secara bertahap dan mencapai puncaknya pada Maret.

Di sisi lain, Sekretaris Jenderal Kementerian Dalam Negeri, Tomsi Tohir, mengingatkan bahwa inflasi menjelang Idulfitri merupakan fenomena yang berulang setiap tahun. Namun, ia menegaskan lonjakan harga yang terlalu tinggi tidak dapat dibenarkan.

“Setiap menjelang Lebaran memang selalu ada kenaikan harga. Tapi kalau lonjakannya tidak wajar, itu yang harus dicegah,” ujarnya.

Menurut Tomsi, inflasi bulanan dalam kondisi normal berada di kisaran 0,3 persen. Namun, pada periode Lebaran 2025, inflasi tercatat melonjak hingga sekitar 1,6 persen, atau lebih dari lima kali lipat dari kondisi normal.

Ia menilai lonjakan tersebut terjadi hampir di seluruh kelompok komoditas, dengan beberapa harga pangan bahkan meningkat hingga tiga sampai empat kali lipat. Menurutnya, pemerintah pusat dan daerah diminta lebih aktif melakukan pengendalian harga menjelang dan selama Ramadan.

 “Pengendalian inflasi akan terus dilakukan, terutama pada periode rawan seperti Ramadan dan Idulfitri,” tegasnya.

BPS mencatat, sejumlah komoditas pangan secara konsisten menjadi penyumbang inflasi pada awal Ramadan, antara lain daging ayam ras, telur ayam ras, beras, minyak goreng, dan cabai rawit. Komoditas-komoditas tersebut dinilai perlu mendapat perhatian khusus melalui penguatan distribusi dan pengawasan stok.

Di sisi lain, beberapa bahan pangan justru berpotensi memberikan andil deflasi, seperti cabai rawit, cabai merah, bawang merah, dan tomat, terutama ketika pasokan melimpah. (AUNI)

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0