Karst Sangkulirang–Mangkalihat Berau Diusulkan Jadi Geopark Dunia, Simpan Warisan Alam dan Peradaban Tertua

Jan 30, 2026 - 16:36
Jan 30, 2026 - 17:21
 0  10
Karst Sangkulirang–Mangkalihat Berau Diusulkan Jadi Geopark Dunia, Simpan Warisan Alam dan Peradaban Tertua
Bukit Karst Sangkulirang-Mangkalihat yang dapat disaksikan dari wilayah Kampung Merabu (YKAN)

KARTANEWS.COM, BERAU — Kawasan Karst Sangkulirang–Mangkalihat di Kalimantan Timur kian menguat sebagai salah satu bentang alam karst paling penting di Indonesia, baik dari sisi geologi, ekologi, maupun sejarah peradaban manusia. 

Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur bersama Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) terus mendorong kawasan ini untuk ditetapkan sebagai Taman Bumi (Geopark), hingga ke tingkat pengakuan internasional melalui UNESCO Global Geopark.

Membentang seluas sekitar 1,8 juta hektare dari Kabupaten Berau hingga Kabupaten Kutai Timur, Karst Sangkulirang–Mangkalihat tercatat sebagai ekosistem karst terbesar di Kalimantan. 

Kawasan ini menyimpan lanskap batu gamping yang menyatu dengan hutan tropis, sistem gua, sungai bawah tanah, serta jejak budaya manusia purba yang bernilai tinggi.

Upaya pengusulan geopark telah dimulai sejak 2019, ditandai dengan inventarisasi keragaman geologi sebagai dasar penetapan kawasan. Pendampingan teknis dilakukan oleh YKAN bersama pemerintah daerah untuk memastikan setiap aspek geologi, ekologi, dan budaya terdokumentasi secara ilmiah.

Proses tersebut membuahkan hasil pada 2024, ketika Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menerbitkan keputusan penetapan 26 situs warisan geologi (geosite) di kawasan karst tersebut. Dari jumlah itu, 15 situs berada di Kabupaten Berau dan 11 situs lainnya di Kabupaten Kutai Timur.

Selain kekayaan geologi, kawasan ini juga dikenal sebagai salah satu situs arkeologi terpenting di dunia. Penelitian lintas negara menemukan lebih dari 2.300 lukisan cadas di dinding gua, yang didominasi cap telapak tangan, figur hewan, dan gambar perahu. 

Hasil penanggalan menunjukkan sebagian lukisan tersebut berusia lebih dari 40.000 tahun, menjadikannya salah satu karya seni figuratif tertua yang pernah ditemukan.

Temuan ilmiah lain yang menarik perhatian dunia adalah kerangka manusia purba Liang Tebo. Mengutip jurnal Nature, tim arkeolog dari BRIN dan Griffith University Australia, menyimpulkan bahwa individu berusia sekitar 31.000 tahun tersebut mengalami amputasi kaki kiri saat masih hidup dan bertahan selama bertahun-tahun setelahnya.

Dari sisi ekologis, Karst Sangkulirang–Mangkalihat memiliki peran strategis sebagai daerah tangkapan air dan hulu sedikitnya lima sungai besar di Kalimantan Timur. 

Struktur karst berfungsi sebagai penyimpan air alami, sekaligus berkontribusi sebagai penyerap karbon yang penting dalam mitigasi perubahan iklim.

Keanekaragaman hayati di kawasan ini juga sangat tinggi. Data konservasi mencatat lebih dari 120 spesies burung hidup di kawasan karst tersebut, termasuk burung walet yang menghasilkan sarang bernilai ekonomi bagi masyarakat setempat.

Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur menyatakan optimismenya agar Karst Sangkulirang–Mangkalihat dapat masuk dalam daftar Taman Bumi Nasional pada tahun ini, sebelum diajukan sebagai UNESCO Global Geopark, mengikuti jejak belasan geopark Indonesia yang telah lebih dulu diakui dunia.

Lebih dari sekadar bentang alam, Karst Sangkulirang–Mangkalihat merupakan arsip alam dan budaya yang merekam perjalanan panjang manusia dan lingkungannya. 

Upaya pelestarian kawasan ini dipandang sebagai tanggung jawab bersama, tidak hanya untuk kepentingan lokal dan nasional, tetapi juga sebagai warisan berharga bagi peradaban dunia. (AUNI)

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0