Trump Umumkan Pergerakan Armada AS ke Timur Tengah, Tekankan Tekanan Militer terhadap Iran
KARTANEWS.COM, WASHINGTON DC — Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan pengerahan armada militer dalam skala besar ke kawasan sekitar Iran. Langkah tersebut sebagai bagian dari tekanan strategis Washington untuk mendorong Teheran kembali ke jalur diplomasi terkait isu nuklir.
Trump menyampaikan bahwa armada tersebut dipimpin oleh kapal induk USS Abraham Lincoln dan memiliki kemampuan operasional penuh untuk menjalankan misi secara cepat apabila situasi memburuk.
“Sebuah armada besar sedang bergerak menuju Iran, dengan kecepatan tinggi, kekuatan besar, serta tujuan yang jelas,” tulis Trump melalui akun Truth Social miliknya, diikutip dari Kompas.com, Kamis (29/1/2026).
Ia menegaskan bahwa pengerahan militer kali ini lebih besar dibandingkan operasi Angkatan Laut AS sebelumnya di kawasan Amerika Latin. Menurutnya, kekuatan tersebut disiapkan untuk merespons berbagai skenario, termasuk tindakan militer berskala besar.
“Ini adalah armada yang lebih besar, dipimpin oleh kapal induk Abraham Lincoln, dibandingkan pengerahan yang pernah dilakukan ke Venezuela,” ujarnya.
Trump juga melontarkan peringatan keras kepada Iran dengan menyebut bahwa serangan lanjutan, jika terjadi, akan berdampak jauh lebih besar dibandingkan operasi militer AS terhadap fasilitas Iran pada Juni 2025.
“Armada ini siap, bersedia, dan mampu melaksanakan misinya dengan cepat, termasuk dengan kekuatan penuh jika diperlukan,” tegas Trump.
Meski demikian, Trump kembali menekankan bahwa Washington masih membuka ruang diplomasi. Ia mendesak pemerintah Iran agar segera bersedia berunding dan menghentikan ambisi pengembangan senjata nuklir.
“Saya berharap Iran segera datang ke meja perundingan dan menyepakati kesepakatan yang adil dan setara, tanpa senjata nuklir, demi kepentingan semua pihak,” katanya.
Trump juga menyebut bahwa peluang diplomatik sebelumnya telah diberikan, namun tidak dimanfaatkan secara maksimal oleh Teheran.
Meningkatnya ketegangan tersebut, posisi Amerika Serikat menghadapi tantangan dari sekutu-sekutunya di kawasan Teluk. Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) secara terbuka menyatakan tidak akan mendukung atau memfasilitasi serangan militer AS terhadap Iran.
Pada Selasa (27/1/2026), pemerintah Arab Saudi secara resmi melarang penggunaan wilayah udara dan teritorialnya untuk kepentingan serangan ke Iran. Sikap ini menyusul pernyataan Kementerian Luar Negeri UEA sehari sebelumnya, sebagaimana dilaporkan "The Wall Street Journal".
Putra Mahkota Arab Saudi, Pangeran Mohammed bin Salman, menyampaikan sikap tersebut secara langsung kepada Presiden Iran Masoud Pezeshkian dalam percakapan telepon.
“Kerajaan Arab Saudi tidak akan mengizinkan wilayah udara maupun wilayahnya digunakan untuk tindakan militer apa pun terhadap Iran,” demikian pernyataan resmi pemerintah Saudi.
Penolakan dua negara Teluk tersebut dinilai sebagai hambatan diplomatik serius bagi pemerintahan Trump, terutama di tengah pertimbangan opsi militer sebagai respons atas situasi politik dan keamanan di Iran, termasuk penindakan terhadap aksi demonstrasi dalam negeri.
Para analis menilai, tanpa dukungan logistik dan geopolitik dari sekutu regional utama, opsi militer AS terhadap Iran berpotensi menghadapi risiko strategis yang lebih besar, baik dari sisi operasi maupun stabilitas kawasan Timur Tengah secara keseluruhan. (AUNI)
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0