Amazon Umumkan PHK 16.000 Karyawan, Restrukturisasi Difokuskan pada Kecerdasan AI
KARTANEWS.COM, INDONESIA — Perusahaan teknologi Amazon kembali melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) dalam jumlah besar. Perusahaan asal Amerika Serikat tersebut mengonfirmasi akan memberhentikan sekitar 16.000 karyawan, menandai gelombang PHK kedua dalam tiga bulan terakhir.
Manajemen Amazon menyebut kebijakan ini sebagai bagian dari penataan ulang organisasi untuk mempercepat proses pengambilan keputusan dan meningkatkan daya saing perusahaan, khususnya di tengah ketatnya persaingan pengembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Dalam pernyataan resmi melalui blog perusahaan pada Rabu (28/1/2026) dikutip dari Kompas.com, Amazon menilai struktur organisasi yang lebih ramping dibutuhkan agar perusahaan dapat beradaptasi lebih cepat terhadap perubahan teknologi.
“Kami terus menyederhanakan organisasi dengan mengurangi lapisan manajemen, memperkuat kepemilikan, dan menghilangkan birokrasi yang tidak perlu,” ujar Beth Galetti, Senior Vice President Human Resources Amazon.
PHK terbaru ini menyusul pengumuman sebelumnya pada Oktober 2025, ketika Amazon menyatakan akan memangkas sekitar 14.000 karyawan korporat.
Dengan demikian, total pengurangan tenaga kerja dalam dua gelombang terakhir mencapai sekitar 30.000 orang atau hampir 9 persen dari total staf kantor Amazon.
Berdasarkan laporan yang diajukan ke Komisi Kesempatan Kerja Setara Amerika Serikat (EEOC) pada 2024, Amazon memiliki lebih dari 350.000 karyawan korporat, menjadikannya salah satu perusahaan swasta terbesar di Amerika Serikat.
Amazon menegaskan, langkah PHK ini sejalan dengan visi CEO Andy Jassy yang mendorong perusahaan agar beroperasi lebih gesit, menyerupai perusahaan rintisan terbesar di dunia. Menurut Jassy, kecepatan inovasi menjadi faktor penting dalam mempertahankan daya saing di era AI.
Meski demikian, Galetti menekankan bahwa pengurangan tenaga kerja ini tidak akan menjadi pola rutin. Amazon, kata dia, masih terus melakukan evaluasi menyeluruh terhadap struktur organisasinya.
“Kami menilai kembali kepemilikan, kecepatan, dan kemampuan berinovasi demi kepentingan pelanggan, serta melakukan penyesuaian jika diperlukan,” ujarnya.
Di saat yang sama, Amazon menyatakan tetap membuka rekrutmen secara selektif, terutama untuk posisi yang berkaitan langsung dengan pengembangan teknologi dan layanan berbasis AI.
Sejalan dengan restrukturisasi tenaga kerja, Amazon juga mengumumkan penyesuaian pada bisnis ritel fisiknya. Perusahaan berencana menutup sejumlah gerai Amazon Fresh dan Amazon Go, serta memusatkan operasional ritel pada jaringan Whole Foods Market.
Langkah tersebut mencerminkan evaluasi berkelanjutan Amazon terhadap efektivitas berbagai lini bisnis, sekaligus upaya memfokuskan sumber daya pada sektor yang dinilai memiliki prospek jangka panjang.
Sebelumnya, Andy Jassy menyatakan bahwa adopsi AI akan membawa perubahan signifikan terhadap struktur tenaga kerja perusahaan. Menurutnya, teknologi AI berpotensi meningkatkan efisiensi, namun juga mengubah kebutuhan jenis pekerjaan di masa depan.
“Kami akan membutuhkan lebih sedikit orang untuk beberapa jenis pekerjaan, dan lebih banyak orang untuk pekerjaan lain yang muncul seiring berkembangnya AI,” kata Jassy dalam pernyataan terpisah.
Kebijakan terbaru Amazon ini menunjukkan bagaimana transformasi berbasis AI mulai berdampak langsung pada strategi bisnis dan pengelolaan sumber daya manusia di perusahaan teknologi global. (AUNI)
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0