Refleksi 100 Tahun Nahdlatul Ulama: Kilas Balik Sejarah dan Perannya
Oleh: Mursyidah Auni
KARTANEWS.COM, INDONESIA - Berdiri pada 31 Januari 1926 atau bertepatan dengan 16 Rajab 1344 Hijriah, Nahdlatul Ulama (NU) telah menapaki satu abad perjalanan sejarah. Dalam lintasan waktu tersebut, NU tidak hanya tumbuh sebagai organisasi keagamaan, tetapi menjelma menjadi kekuatan sosial, kultural, dan kebangsaan yang berpengaruh, baik di tingkat nasional maupun global.
NU tidak lahir dari ruang kosong sejarah. Kelahirannya merupakan respons atas kegelisahan para ulama Nusantara terhadap situasi keagamaan dan geopolitik global pada awal abad ke-20. Secara internal, terdapat kekhawatiran akan tergerusnya tradisi Islam Nusantara yang berakar pada pesantren, bermadzhab, dan berwatak moderat.
Sementara secara eksternal, dinamika politik di Timur Tengah, khususnya setelah penguasaan Hijaz oleh Dinasti Saud memunculkan ancaman terhadap keberlangsungan praktik keagamaan yang beragam, termasuk kebebasan bermadzhab serta pelestarian situs-situs sejarah Islam.
Dalam konteks tersebut, para ulama pesantren yang dipimpin oleh Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari bersama KH. Abdul Wahab Hasbullah membentuk Komite Hijaz. Komite ini bertujuan menyuarakan aspirasi umat Islam Nusantara kepada penguasa Hijaz. Dari gerakan inilah kemudian lahir Nahdlatul Ulama yang secara harfiah berarti “kebangkitan para ulama”.
Sejak awal, NU menegaskan diri sebagai penjaga ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) dengan berpegang pada empat prinsip utama, yakni tawassuth (moderat), tawazun (seimbang), i’tidal (adil), dan tasamuh (toleran). Prinsip-prinsip ini menjadi fondasi ideologis NU dalam merespons perubahan sosial dan politik, tanpa kehilangan akar tradisi keilmuan Islam.
Selama satu abad perjalanannya, NU meneguhkan khidmah sebagai orientasi utama gerakannya. Khidmah dimaknai bukan sekadar pengabdian ritual keagamaan, melainkan kerja nyata untuk meningkatkan martabat umat dan menjaga keutuhan bangsa.
Dalam bidang pendidikan, NU mengelola puluhan ribu pesantren yang tersebar di seluruh Indonesia, serta ribuan lembaga pendidikan formal di bawah naungan Lembaga Pendidikan Ma’arif NU. Pesantren NU tidak hanya menjadi pusat transmisi ilmu-ilmu keislaman, tetapi juga ruang pembentukan karakter, etika sosial, dan nasionalisme religius.
Dalam bidang sosial dan ekonomi, NU hadir melalui berbagai lembaga, seperti LAZISNU yang bergerak dalam pengelolaan zakat, infak, dan sedekah, serta LPNU yang mendorong penguatan ekonomi umat. Upaya pemberdayaan ini menyasar masyarakat bawah dengan tujuan menciptakan kemandirian ekonomi dan mengurangi ketimpangan sosial.
Kontribusi NU dalam sejarah kebangsaan Indonesia tidak dapat dipisahkan dari momen-momen krusial perjalanan republik.
Pada masa revolusi kemerdekaan, NU memainkan peran penting melalui Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 yang membakar semangat perlawanan rakyat terhadap kolonialisme. Resolusi ini menjadi salah satu tonggak penting dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Pada masa-masa berikutnya, NU konsisten berdiri di garis depan dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). NU terlibat aktif dalam menghadapi pemberontakan ideologis yang mengancam persatuan bangsa, serta menjadi pilar utama dalam mempertahankan Pancasila sebagai dasar negara. Dengan konsep Hubbul Wathan Minal Iman, NU berhasil merajut harmoni antara nilai keislaman dan kebangsaan.
Memasuki era globalisasi, peran NU melampaui batas-batas nasional. NU mulai tampil sebagai aktor penting dalam diplomasi keagamaan internasional. Melalui gagasan Islam Nusantara, NU menawarkan model Islam yang damai, inklusif, dan kontekstual kepada dunia.
Inisiatif seperti Religion of Twenty (R20) menjadi bukti konkret keterlibatan NU dalam forum global. R20 menghadirkan para pemimpin agama dunia untuk membahas kontribusi agama dalam menyelesaikan persoalan global, mulai dari konflik, ekstremisme, hingga krisis kemanusiaan.
Selain itu, Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) kini tersebar di lebih dari 30 negara. Keberadaan PCINU menjadi jembatan dakwah kultural, dialog lintas iman, serta diplomasi masyarakat sipil di berbagai belahan dunia, termasuk Eropa, Amerika, dan Afrika.
Memasuki abad kedua, tantangan yang dihadapi NU semakin kompleks. Disrupsi digital, krisis identitas generasi muda, serta ketegangan geopolitik global menuntut NU untuk terus beradaptasi tanpa kehilangan jati diri.
Transformasi digital menjadi keniscayaan agar dakwah dan pendidikan pesantren tetap menjangkau generasi Z dan Alpha. Di saat yang sama, NU dituntut memperkuat kemandirian ekonomi organisasi agar khidmahnya tidak terkooptasi kepentingan politik praktis.
Refleksi satu abad Nahdlatul Ulama menegaskan bahwa NU bukan sekadar organisasi massa, melainkan gerakan keilmuan, kebudayaan, dan pengabdian.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0