“#KaburAjaDulu”: Sebuah Gambaran Dinamis Opini Publik dan Tantangan Brain Drain Indonesia

Oleh: Alim Basri (Mahasiswa Magister Administrasi Publik Universitas Mulawarman)

Jan 7, 2026 - 00:24
Jan 10, 2026 - 16:15
 0  8
“#KaburAjaDulu”: Sebuah Gambaran Dinamis Opini Publik dan Tantangan Brain Drain Indonesia
Sumber : liks.suara.com

Fenomena brain drain, atau perpindahan sumber daya manusia terdidik dan berkualitas tinggi ke luar negeri, sejatinya merupakan realitas yang telah dialami oleh banyak negara berkembang. Di Indonesia, wacana itu mendapatkan dimensi baru ketika tagar #KaburAjaDulu menjadi viral di media sosial pada awal tahun 2025, mencerminkan kekecewaan sekaligus keinginan kuat generasi muda untuk mencari peluang di luar negeri.

Secara substansial, brain drain merujuk pada migrasi sukarela para ilmuwan, intelektual, dan tenaga profesional dari negara asalnya ke negara lain demi memperoleh kesempatan yang lebih baik, baik dalam hal pekerjaan, pendidikan, maupun kualitas hidup. Fenomena ini bukan sekadar peristiwa statistik, tetapi berakar pada persepsi, harapan, dan pengalaman hidup masyarakat yang kompleks.

 

Menurut Prof. Hermanto Siregar, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB University, brain drain bukanlah fenomena yang bisa disikapi semata sebagai ancaman, melainkan sebuah realitas yang tak terelakkan di era globalisasi. Menurutnya, mobilitas tenaga kerja terampil adalah bagian dari dinamika ekonomi global — suatu konsekuensi dari keterbukaan pasar tenaga kerja dan perbedaan insentif antara negara berkembang dan negara maju.

 

Prof. Hermanto juga menekankan bahwa brain drain dapat membawa manfaat tertentu apabila dikelola secara strategis. Tenaga kerja Indonesia yang berpijak di luar negeri berpotensi mengirimkan remitansi, meningkatkan devisa, serta membawa pengalaman dan pengetahuan baru yang kelak dapat dimanfaatkan untuk memperkuat praktik dan inovasi di tanah air apabila ada mekanisme brain gain yang efektif.

 

Namun demikian, pandangan kritis untuk tidak memandang fenomena ini sebagai bentuk kegagalan total juga datang dari Dr. Hempri Suyatna, Dosen Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan Universitas Gadjah Mada (UGM). Ia menilai bahwa viralnya tagar tersebut mencerminkan sikap kritis generasi muda terhadap bagaimana negara hadir dalam kehidupan mereka sehari-hari, khususnya dalam menciptakan kesempatan kerja, menjamin kualitas pendidikan, dan memberikan kepastian sosial.

 

Dari sudut pandang ekonomi makro, Wijayanto Samirin, Ekonom Senior Universitas Paramadina, mengingatkan bahwa kehilangan talenta terampil justru bisa memperlemah daya saing nasional, terutama ketika Indonesia sedang berada dalam fase bonus demografi yang idealnya harus dimanfaatkan untuk mempercepat pembangunan.


Banyak warganet, terutama di platform seperti Reddit, menggambarkan tagar #KaburAjaDulu sebagai ekspresi frustrasi mendalam terhadap fenomena sosial dan ekonomi di Indonesia. Salah satu pengguna yang sedang bekerja di luar negeri, atau TKI_Kesasar, menceritakan perspektif pribadinya sebagai programmer Indonesia yang sudah 15 tahun tinggal di New York, menunjukkan bahwa sebagian diaspora masih mempertimbangkan pulang, tetapi menilai peluang hidup dan pertumbuhan karier di luar negeri jauh lebih menjanjikan.

 

Komentar lain dari netizen di Reddit mencerminkan bahwa bagi sebagian generasi muda, pilihan untuk “kabur” bukan semata tentang meninggalkan negara, tetapi mencari ruang di mana kompetensi mereka dihargai dan bisa berkembang secara maksimal — sebuah penilaian yang muncul dari pengalaman pribadi menghadapi kurangnya kesempatan di dalam negeri.


Narasi lain dalam opini publik mengaitkan fenomena ini dengan persepsi bahwa negara tidak cukup hadir dalam menjawab kebutuhan generasi muda: minimnya lapangan kerja berkualitas, biaya hidup yang tinggi, serta sulitnya akses terhadap fasilitas sosial yang layak. Bagi mereka, tagar #KaburAjaDulu sekaligus menjadi bentuk sindiran terhadap kebijakan yang dinilai kurang responsif terhadap aspirasi masyarakat.

Fenomena brain drain yang mencuat melalui wacana publik seperti #KaburAjaDulu memiliki implikasi signifikan bagi kebijakan nasional. Tidak hanya menjadi cerminan ketidakpuasan, tetapi juga panggilan bagi pembuat kebijakan untuk merumuskan strategi retensi talenta yang lebih efektif, memperkuat kualitas pendidikan tinggi, serta menciptakan lapangan kerja yang kompetitif secara global.

Pendekatan kebijakan yang progresif seperti memastikan keterlibatan diaspora dalam pembangunan nasional, merancang insentif untuk talent asing asal Indonesia, atau mengurangi hambatan struktural yang membuat kompetensi domestik kurang dihargai, perlu menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk mengatasi fenomena ini secara komprehensif.

 

Tagar #KaburAjaDulu bukan sekadar tren viral. Fenomena ini mencerminkan lapisan opini publik yang kompleks, antara friksi antara harapan individu terhadap masa depan mereka dan realitas sosial-ekonomi yang ada di Indonesia. Suara para pakar seperti Prof. Hermanto Siregar, Dr. Hempri Suyatna, dan Wijayanto Samirin menggarisbawahi bahwa brain drain merupakan aspek global yang tidak bisa dihindari, namun tetap membutuhkan respons kebijakan yang cerdas dan manusiawi. Sementara narasi dari masyarakat umum menunjukkan bahwa di balik angka migrasi, terdapat cerita pribadi, aspirasi profesional, serta kritik struktural yang perlu diperhatikan oleh khalayak luas dan pembuat kebijakan.

Fenomena brain drain, atau perpindahan sumber daya manusia terdidik dan berkualitas tinggi ke luar negeri, sejatinya merupakan realitas yang telah dialami oleh banyak negara berkembang. Di Indonesia, wacana itu mendapatkan dimensi baru ketika tagar #KaburAjaDulu menjadi viral di media sosial pada awal tahun 2025, mencerminkan kekecewaan sekaligus keinginan kuat generasi muda untuk mencari peluang di luar negeri.

Secara substansial, brain drain merujuk pada migrasi sukarela para ilmuwan, intelektual, dan tenaga profesional dari negara asalnya ke negara lain demi memperoleh kesempatan yang lebih baik, baik dalam hal pekerjaan, pendidikan, maupun kualitas hidup. Fenomena ini bukan sekadar peristiwa statistik, tetapi berakar pada persepsi, harapan, dan pengalaman hidup masyarakat yang kompleks.

 

Menurut Prof. Hermanto Siregar, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB University, brain drain bukanlah fenomena yang bisa disikapi semata sebagai ancaman, melainkan sebuah realitas yang tak terelakkan di era globalisasi. Menurutnya, mobilitas tenaga kerja terampil adalah bagian dari dinamika ekonomi global — suatu konsekuensi dari keterbukaan pasar tenaga kerja dan perbedaan insentif antara negara berkembang dan negara maju.

 

Prof. Hermanto juga menekankan bahwa brain drain dapat membawa manfaat tertentu apabila dikelola secara strategis. Tenaga kerja Indonesia yang berpijak di luar negeri berpotensi mengirimkan remitansi, meningkatkan devisa, serta membawa pengalaman dan pengetahuan baru yang kelak dapat dimanfaatkan untuk memperkuat praktik dan inovasi di tanah air apabila ada mekanisme brain gain yang efektif.

 

Namun demikian, pandangan kritis untuk tidak memandang fenomena ini sebagai bentuk kegagalan total juga datang dari Dr. Hempri Suyatna, Dosen Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan Universitas Gadjah Mada (UGM). Ia menilai bahwa viralnya tagar tersebut mencerminkan sikap kritis generasi muda terhadap bagaimana negara hadir dalam kehidupan mereka sehari-hari, khususnya dalam menciptakan kesempatan kerja, menjamin kualitas pendidikan, dan memberikan kepastian sosial.

 

Dari sudut pandang ekonomi makro, Wijayanto Samirin, Ekonom Senior Universitas Paramadina, mengingatkan bahwa kehilangan talenta terampil justru bisa memperlemah daya saing nasional, terutama ketika Indonesia sedang berada dalam fase bonus demografi yang idealnya harus dimanfaatkan untuk mempercepat pembangunan.


Banyak warganet, terutama di platform seperti Reddit, menggambarkan tagar #KaburAjaDulu sebagai ekspresi frustrasi mendalam terhadap fenomena sosial dan ekonomi di Indonesia. Salah satu pengguna yang sedang bekerja di luar negeri, atau TKI_Kesasar, menceritakan perspektif pribadinya sebagai programmer Indonesia yang sudah 15 tahun tinggal di New York, menunjukkan bahwa sebagian diaspora masih mempertimbangkan pulang, tetapi menilai peluang hidup dan pertumbuhan karier di luar negeri jauh lebih menjanjikan.

 

Komentar lain dari netizen di Reddit mencerminkan bahwa bagi sebagian generasi muda, pilihan untuk “kabur” bukan semata tentang meninggalkan negara, tetapi mencari ruang di mana kompetensi mereka dihargai dan bisa berkembang secara maksimal — sebuah penilaian yang muncul dari pengalaman pribadi menghadapi kurangnya kesempatan di dalam negeri.


Narasi lain dalam opini publik mengaitkan fenomena ini dengan persepsi bahwa negara tidak cukup hadir dalam menjawab kebutuhan generasi muda: minimnya lapangan kerja berkualitas, biaya hidup yang tinggi, serta sulitnya akses terhadap fasilitas sosial yang layak. Bagi mereka, tagar #KaburAjaDulu sekaligus menjadi bentuk sindiran terhadap kebijakan yang dinilai kurang responsif terhadap aspirasi masyarakat.

Fenomena brain drain yang mencuat melalui wacana publik seperti #KaburAjaDulu memiliki implikasi signifikan bagi kebijakan nasional. Tidak hanya menjadi cerminan ketidakpuasan, tetapi juga panggilan bagi pembuat kebijakan untuk merumuskan strategi retensi talenta yang lebih efektif, memperkuat kualitas pendidikan tinggi, serta menciptakan lapangan kerja yang kompetitif secara global.

Pendekatan kebijakan yang progresif seperti memastikan keterlibatan diaspora dalam pembangunan nasional, merancang insentif untuk talent asing asal Indonesia, atau mengurangi hambatan struktural yang membuat kompetensi domestik kurang dihargai, perlu menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk mengatasi fenomena ini secara komprehensif.

 

Tagar #KaburAjaDulu bukan sekadar tren viral. Fenomena ini mencerminkan lapisan opini publik yang kompleks, antara friksi antara harapan individu terhadap masa depan mereka dan realitas sosial-ekonomi yang ada di Indonesia. Suara para pakar seperti Prof. Hermanto Siregar, Dr. Hempri Suyatna, dan Wijayanto Samirin menggarisbawahi bahwa brain drain merupakan aspek global yang tidak bisa dihindari, namun tetap membutuhkan respons kebijakan yang cerdas dan manusiawi. Sementara narasi dari masyarakat umum menunjukkan bahwa di balik angka migrasi, terdapat cerita pribadi, aspirasi profesional, serta kritik struktural yang perlu diperhatikan oleh khalayak luas dan pembuat kebijakan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0