IHSG Merosot Tajam di Tengah Transisi OJK, Menkeu Jamin Stabilitas Ekonomi Masih Aman
Oleh: Mursyidah Auni
KARTANEWS.COM, JAKARTA – Pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada awal perdagangan Februari mendapat perhatian pemerintah. Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa menilai tekanan di pasar modal lebih dipengaruhi faktor ketidakpastian kelembagaan, khususnya terkait kepemimpinan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), ketimbang memburuknya kondisi fundamental ekonomi nasional.
Pada perdagangan Senin (2/2/2026), IHSG mencatat penurunan tajam. Indeks sempat bergerak di bawah level psikologis 8.000 sebelum akhirnya ditutup melemah di kisaran 7.900-an. Tekanan jual terlihat cukup merata di berbagai sektor, seiring kehati-hatian investor pasca volatilitas yang terjadi pada pekan sebelumnya.
Menanggapi kondisi tersebut, Purbaya mengatakan pasar masih menunggu kepastian terkait pengisian jabatan Ketua OJK definitif setelah pengunduran diri Mahendra Siregar pada akhir Januari lalu.
“Pasar keuangan sangat sensitif terhadap kepastian institusional. Saat ini, pelaku pasar kemungkinan masih menunggu siapa yang akan memimpin OJK secara definitif,” ujarnya, dikutip dari Kompas.com pada Selasa (3/2/2026).
Ia memastikan pemerintah tengah menyiapkan pembentukan panitia seleksi pimpinan OJK. Proses seleksi direncanakan dilakukan secara terbuka dan transparan guna menjaga kepercayaan pasar terhadap stabilitas sektor keuangan.
Purbaya menilai situasi tersebut justru dapat dimanfaatkan investor jangka panjang. Menurutnya, pelemahan harga saham tidak mencerminkan kondisi ekonomi riil yang masih solid.
“Fundamental ekonomi Indonesia tidak berubah. Justru masih menunjukkan tren perbaikan. Kalau melihat dari kacamata investasi, ini bisa menjadi momentum akumulasi,” katanya.
Ia menegaskan pemerintah terus menjaga stabilitas makroekonomi melalui pengendalian inflasi, pengelolaan fiskal yang hati-hati, serta penguatan sektor keuangan.
Gambaran Kondisi Ekonomi Indonesia
Secara makro, sejumlah indikator menunjukkan perekonomian Indonesia masih berada pada jalur yang relatif stabil, dimana:
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2025 berada di kisaran 5 persen. Pemerintah menargetkan percepatan pertumbuhan mendekati 6 persen pada 2026 melalui peningkatan investasi dan belanja produktif.
Bank Indonesia melaporkan inflasi tetap berada dalam kisaran sasaran 2,5 ± 1 persen, didukung stabilitas harga pangan dan kebijakan moneter yang terukur.
Defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tetap dijaga di bawah 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), mencerminkan disiplin fiskal yang konsisten.
Posisi cadangan devisa Indonesia masih berada pada level aman untuk membiayai impor dan pembayaran utang luar negeri, menjadi bantalan penting di tengah ketidakpastian global.
Tekanan eksternal masih datang dari perlambatan ekonomi global, ketegangan geopolitik, serta arah kebijakan suku bunga negara maju. Faktor-faktor ini turut memengaruhi arus modal ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Sebelumnya, Purbaya juga menyampaikan keyakinan bahwa pelaku pasar pada akhirnya akan kembali berfokus pada kekuatan fundamental ekonomi nasional. Pemerintah, kata dia, terus mendorong iklim investasi yang kondusif agar pasar keuangan kembali stabil.
“Kami terus perbaiki fondasi ekonomi. Kalau itu terjaga, pasar akan menyesuaikan dengan sendirinya,” ujarnya.
Purbaya juga meminta pelaku pasar dan investor untuk tidak bereaksi berlebihan terhadap fluktuasi jangka pendek, seraya menegaskan optimisme bahwa pasar saham domestik akan kembali menemukan momentumnya.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0