FourMo For Bike, Ciptakan Closingan Berbeda Jelang Ramadan

Penulis: Sigit Pamungkas | Editor: Rein

Feb 16, 2026 - 17:07
Feb 16, 2026 - 17:16
 0  12
FourMo For Bike, Ciptakan Closingan Berbeda Jelang Ramadan
FourMo For Bike

KARTANEWS.COM - Closingan adalah kata musiman yang hampir selalu muncul menjelang Ramadan. Sayangnya, ia kerap datang bersama prasangka. Di kepala banyak orang, closingan identik dengan pelampiasan: mabuk-mabukan, begadang tanpa arah, atau aktivitas yang biasanya ditutup dengan kalimat pamungkas, “nanti juga tobat pas puasa.”

Namun Minggu malam, (15/2/2026), Tanjung Redeb menunjukkan versi closingan yang lain. Bukan botol atau asap rokok yang mendominasi jalanan, melainkan cahaya lampu sepeda dan wajah-wajah lelah yang tampak puas. 

Lewat agenda FourMo for Bike, hasil kolaborasi Abissia Bike, Fourmo Coffee, dan Sore Seru, closingan dibelokkan ke jalur yang lebih sehat: bersepeda bersama.

Ratusan pesepeda dari berbagai kelompok usia ikut turun ke jalan. Tidak ada niat balapan, apalagi adu kuat. Antusiasme peserta bahkan melampaui hitungan panitia.

“Ini di luar ekspektasi kami, pesertanya dua kali lipat dari yang kami bayangkan,” ujar Diffa Fajar, sebagai Koordinator Agenda.

Sebuah kejutan yang menyenangkan, sekaligus bukti bahwa ajakan sederhana sering kali justru paling mudah diterima.

Tujuan kegiatan ini pun dibuat sesederhana mungkin. “Cuma mau menyambut bulan Ramadan dengan ke-bike-an,” tambahnya.

Tidak ada jargon besar atau narasi perubahan dunia. Cukup memberi ruang untuk bergerak bersama, sebelum ritme hidup kembali melambat saat puasa tiba.

Soal keselamatan, panitia memilih bersikap tegas. Setiap peserta diwajibkan menyalakan lampu sepeda, ditambah lightstick yang disediakan penyelenggara. 

Beberapa marshal turut mengawal agar barisan tidak melebar dan menguasai jalan. Jalan raya tetaplah jalan raya euforia tidak boleh mengalahkan kewaspadaan

Meski rute awalnya dipilih karena dianggap relatif sepi, kenyataan di lapangan tidak selalu sejalan. Di beberapa titik, jalan justru lebih ramai dari biasanya. Mungkin efek libur panjang, atau bisa jadi kota memang sedang ingin ikut merayakan malam.

Sepanjang Jalan Tendenan, gemerlap lampion khas Imlek menambah riuh suasana. Pantulan cahaya di helm dan rangka sepeda membuat sebagian peserta refleks berhenti sejenak bukan untuk istirahat, melainkan untuk mengabadikan momen.

Di garis finis, suasana semakin cair. Hadiah dibagikan lewat mini games, disambut tawa dan sorak kecil. “Saya senang banget, dapat hadiah kaos. Terima kasih Fourmo dan Abissia Bike,” ujar salah satu peserta, Habibi, dengan nada puas yang sulit disembunyikan.

Malam itu, closingan seolah kehilangan reputasi buruknya. Tidak ada drama, tidak ada penyesalan, apalagi janji tobat mendadak. Lewat aksi kecil ini, panitia dan peserta seperti ingin menyampaikan bahwa anggapan lama tentang closingan barangkali sudah waktunya dianggap usang.

Di zaman sekarang, memamerkan catatan Strava terasa lebih bergengsi daripada naik peringkat gim. Foto kopi americano tampak lebih relevan ketimbang unggahan botol anggur merah. 

Dan menutup malam dengan gowes bareng, rasanya jauh lebih masuk akal dibanding menutupnya dengan cerita yang ingin segera dilupakan.

Closingan, rupanya, tidak selalu harus sesuatu gelap. Kadang cukup diterangi lampu sepeda dan niat baik.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0