BPOM Dorong Modernisasi Jamu agar Berdaya Saing di Pasar Global
Oleh: Mursyidah Auni
KARTANEWS.COM, JAKARTA – Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) terus memperkuat perannya dalam mendorong transformasi jamu Indonesia agar mampu bersaing di tingkat global.
Upaya dilakukan melalui penguatan standar keamanan, mutu, serta pendampingan terhadap pelaku usaha, khususnya usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Kepala BPOM, Taruna Ikrar mengatakan bahwa jamu merupakan bagian penting dari sejarah panjang peradaban bangsa Indonesia. Menurutnya, pemanfaatan herbal telah menjadi bagian dari upaya manusia menjaga kesehatan sejak ribuan tahun lalu.
“Jamu berakar dari kearifan lokal Nusantara dan telah digunakan selama ribuan tahun sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan, kebugaran, dan keseimbangan hidup,” ujarnya saat meresmikan grand opening Café Jamu Acaraki di kawasan Pantai Indah Kapuk (PIK) 2, Jakarta, Rabu (4/2/2026).
Dirinya menjelaskan, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa penggunaan tanaman herbal telah dikenal sejak masa prasejarah.
Salah satu temuan ilmiah bahkan mengungkap praktik medis kuno yang memanfaatkan bahan alam sebagai penunjang penyembuhan.
“Para peneliti menemukan bukti bahwa sekitar 31.000 tahun lalu telah dilakukan praktik amputasi bedah di Pulau Kalimantan yang diperkirakan menggunakan obat-obatan herbal untuk membantu penyembuhan, mencegah infeksi, dan memberikan efek anestesi,” jelasnya.
Lebih lanjut, Taruna menilai Indonesia memiliki modal besar untuk mengembangkan jamu sebagai produk kesehatan modern. Ia menyebutkan, keanekaragaman hayati Indonesia menjadi kekuatan utama dalam pengembangan obat berbasis bahan alam.
“Indonesia memiliki lebih dari 31 ribu spesies tumbuhan, dan ribuan di antaranya memiliki potensi farmakologis yang sangat besar untuk dikembangkan,” katanya.
Dengan potensi tersebut, BPOM mendorong modernisasi jamu agar tidak hanya diproduksi berdasarkan tradisi, tetapi juga memenuhi standar keamanan, mutu, dan manfaat sesuai perkembangan ilmu pengetahuan serta kebutuhan masyarakat modern.
Menurutnya, BPOM secara aktif melakukan pendampingan terhadap pelaku usaha agar mampu meningkatkan kualitas produk dan daya saing industri jamu nasional.
“Kami berkomitmen melakukan pendampingan agar semakin banyak UMKM mampu memenuhi standar keamanan, mutu, dan manfaat produk,” ujarnya.
Ia optimistis pada tahun 2026 akan terjadi peningkatan signifikan jumlah UMKM yang mendapatkan pendampingan BPOM.
“Kami optimis pada 2026 akan ada penambahan ratusan ribu UMKM yang didampingi oleh BPOM agar semakin maju dan berdaya saing,” katanya.
Taruna berharap kehadiran Café Jamu Acaraki dapat menjadi etalase modernisasi jamu Indonesia sekaligus menginspirasi pelaku usaha lain untuk terus berinovasi.
“Terobosan ini diharapkan dapat menjadi spirit baru dalam mengembangkan jamu Indonesia, sehingga mampu menjadi tuan rumah di negeri sendiri dan produk herbal yang diperhitungkan di tingkat global,” tuturnya.
Melalui sinergi antara regulator dan pelaku usaha, BPOM menargetkan jamu Indonesia dapat tumbuh sebagai industri berbasis kearifan lokal yang modern, aman, dan kompetitif di pasar internasional.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0