Kasus HIV di Indonesia Masih Menjadi Tantangan Serius pada 2025

Penulis: Mursyidah Auni

Feb 10, 2026 - 15:33
Feb 10, 2026 - 18:33
 0  4
Kasus HIV di Indonesia Masih Menjadi Tantangan Serius pada 2025

KARTANEWS.COM, INDONESIA – Pengendalian Human Immunodeficiency Virus (HIV) di Indonesia masih menghadapi tantangan besar. Data terbaru Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI dan laporan lembaga kesehatan terkait menunjukkan bahwa sepanjang tahun 2025 jumlah kasus HIV terus mengalami peningkatan. 

Berdasarkan estimasi Kemenkes RI, jumlah Orang Dengan HIV (ODHIV) di Indonesia pada tahun 2025 diproyeksikan mencapai 564.000 orang. Hingga pertengahan tahun, tren temuan kasus baru masih menunjukkan peningkatan seiring dengan masifnya pelaksanaan tes HIV di fasilitas pelayanan kesehatan.

Pada periode Januari hingga Maret 2025, tercatat 15.382 kasus baru HIV serta 4.850 kasus AIDS. Data ini menunjukkan bahwa penularan HIV masih berlangsung, terutama pada kelompok usia produktif dan kelompok dengan faktor risiko tinggi.

Kemenkes juga mencatat peningkatan kasus pada kelompok remaja usia 15–19 tahun. Pada Maret 2025, sekitar 2.700 remaja tercatat terinfeksi HIV. Kondisi ini dikaitkan dengan keterbatasan edukasi kesehatan reproduksi serta perilaku berisiko di kalangan remaja.

Dari sisi sebaran wilayah, sekitar 76 persen kasus HIV nasional terkonsentrasi di 11 provinsi prioritas. Berdasarkan data penemuan kasus baru pada triwulan pertama 2025, Jawa Timur menjadi provinsi dengan jumlah kasus tertinggi, yakni 2.599 kasus, disusul Jawa Barat sebanyak 2.233 kasus dan Jawa Tengah dengan 1.432 kasus.

Sementara itu, DKI Jakarta mencatat 1.069 kasus, Sumatera Utara sebanyak 809 kasus, dan Papua dengan 672 kasus baru. Papua tetap menjadi salah satu provinsi dengan tingkat prevalensi HIV yang tinggi meskipun memiliki jumlah penduduk lebih kecil dibandingkan wilayah lain.

Pola penularan HIV pada tahun 2025 masih didominasi oleh hubungan seksual berisiko. Kasus terbanyak ditemukan pada kelompok Lelaki Seks Lelaki (LSL) dan pelanggan pekerja seks. Selain itu, penularan juga terjadi melalui hubungan heteroseksual, penggunaan jarum suntik tidak steril, serta faktor risiko lainnya.

Penularan HIV dari ibu ke anak juga masih ditemukan. Pada triwulan pertama 2025, terdeteksi 488 ibu hamil positif HIV. Pemerintah terus mengintensifkan pelaksanaan program Triple Elimination untuk mencegah penularan HIV, sifilis, dan hepatitis B dari ibu ke bayi.

Sejumlah tantangan utama juga masih terletak pada kesenjangan akses dan kepatuhan terapi. Data menunjukkan bahwa sekitar 31 hingga 67 persen ODHIV tercatat aktif menjalani terapi Antiretroviral (ARV). Rendahnya cakupan pengobatan ini berpotensi menghambat upaya penekanan angka kematian dan penularan HIV.

Kemenkes menargetkan pencapaian 95-95-95 pada tahun 2030, yakni 95 persen ODHIV mengetahui status HIV-nya, 95 persen menjalani terapi ARV, dan 95 persen dari mereka yang menjalani terapi berhasil mencapai supresi virus. 

Hingga Maret 2025, sekitar 63 persen ODHIV telah terdeteksi, dan 55 persen di antaranya berhasil menekan jumlah virus.

Data historis menunjukkan bahwa kasus HIV/AIDS di Indonesia telah menunjukkan tren peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Sepanjang tahun 2022 tercatat 62.856 kasus HIV/AIDS, sementara pada tahun 2023 dilaporkan 16.410 kasus AIDS baru dengan Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jawa Tengah sebagai provinsi dengan jumlah kasus tertinggi.

Tingginya angka kasus HIV di Indonesia menjadi tantangan serius dan tanggung jawab perlunya penguatan upaya pencegahan, peningkatan edukasi kesehatan, perluasan pemeriksaan HIV, serta penurunan stigma terhadap ODHIV guna mendukung keberhasilan pengendalian HIV secara nasional.

Jika HIV dibiarkan tanpa penanganan yang komprehensif, dampaknya tidak hanya mengancam kesehatan individu, tetapi juga berpotensi memperluas penularan, meningkatkan beban sistem kesehatan, serta menggerus produktivitas sosial dan ekonomi masyarakat Indonesia khususnya bagi generasi muda. 

Penanggulangan HIV menuntut perhatian dan keterlibatan seluruh elemen, baik pemangku kebijakan maupun masyarakat di semua lapisan, tanpa memandang status sosial.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0