Indonesia Masuk Jajaran Negara Paling Bahagia di Dunia, Ikatan Sosial dan Spiritualitas Jadi Kunci Utama

Oleh: Mursyidah Auni

Feb 1, 2026 - 16:27
Feb 1, 2026 - 18:42
 0  4
Indonesia Masuk Jajaran Negara Paling Bahagia di Dunia, Ikatan Sosial dan Spiritualitas Jadi Kunci Utama

KARTANEWS.COM, JAKARTA — Indonesia kembali mencatatkan capaian positif di tingkat global. Sejumlah survei internasional menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan tingkat kebahagiaan penduduk tertinggi di dunia pada periode 2024–2025 mengungguli banyak negara maju yang secara ekonomi jauh lebih mapan.

Hasil Global Flourishing Study (GFS) 2024–2025, riset kolaboratif antara Harvard University, Baylor University,  dan Gallup, menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia menempati posisi teratas dalam indeks kebahagiaan dan kebermaknaan hidup. 

Studi ini menilai kesejahteraan manusia secara menyeluruh, tidak hanya dari sisi ekonomi, tetapi juga relasi sosial, kesehatan mental, makna hidup, dan kualitas hubungan antarmanusia.

Dalam survei tersebut, sekitar 79 persen warga Indonesia menyatakan diri merasa bahagia dan puas dengan kehidupannya, angka yang melampaui rata-rata global. Indonesia bahkan melampaui sejumlah negara maju di Eropa dan Amerika Utara yang memiliki pendapatan per kapita jauh lebih tinggi.

Temuan serupa juga tercermin dalam laporan Ipsos Global Advisor 2024. Survei tersebut mencatat 82 persen responden di Indonesia mengaku bahagia, menempatkan Indonesia di peringkat ketiga dunia dan menjadi negara dengan tingkat kebahagiaan tertinggi di Asia Tenggara. Angka ini berada jauh di atas rata-rata global yang tercatat sekitar 73 persen.

Para peneliti menilai, tingginya tingkat kebahagiaan masyarakat Indonesia tidak didorong oleh faktor materi semata. Sebaliknya, kekuatan hubungan sosial, nilai kekeluargaan, budaya gotong royong, serta spiritualitas menjadi fondasi utama yang menopang rasa bahagia masyarakatnya.

Dalam laporan GFS, Indonesia menonjol dalam indikator dukungan sosial, rasa memiliki komunitas, serta kemampuan menghadapi tekanan hidup. Nilai-nilai tersebut dinilai membentuk ketangguhan mental (resiliensi) yang kuat, bahkan di tengah keterbatasan ekonomi.

Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, turut menanggapi hasil survei tersebut. Ia menyebut capaian itu sebagai sebuah paradoks yang mengharukan.

“Ini membuktikan bahwa kebahagiaan tidak selalu identik dengan kemewahan. Meskipun masih banyak rakyat kita hidup sederhana, rasa syukur, kebersamaan, dan solidaritas sosial membuat bangsa ini tetap bahagia,” ujar Prabowo dalam salah satu pernyataannya.

Fenomena ini juga menguatkan temuan berbagai studi psikologi sosial yang menyebutkan bahwa makna hidup, relasi sosial yang sehat, dan rasa tujuan memiliki pengaruh lebih besar terhadap kebahagiaan jangka panjang dibandingkan kekayaan materi semata.

Peneliti dari Harvard University dalam Global Flourishing Study menegaskan bahwa negara-negara dengan ikatan komunitas kuat cenderung mencatat skor kebahagiaan lebih tinggi, meskipun menghadapi tantangan ekonomi. 

Indonesia disebut sebagai contoh nyata bagaimana nilai budaya lokal mampu menjadi penyangga kesejahteraan psikologis masyarakat.

Namun demikian, para ahli juga mengingatkan bahwa capaian ini tidak boleh membuat pemerintah abai terhadap persoalan struktural, seperti kemiskinan, ketimpangan pendapatan, akses pendidikan, dan layanan kesehatan. Kebahagiaan yang dirasakan masyarakat perlu diiringi dengan peningkatan kualitas hidup yang berkelanjutan.

Dengan hasil ini, Indonesia tidak hanya mencatat prestasi dalam aspek kesejahteraan subjektif, tetapi juga memberi pelajaran penting bagi dunia bahwa kebahagiaan manusia tidak semata-mata ditentukan oleh angka ekonomi, melainkan oleh kualitas hubungan sosial, nilai budaya, dan rasa makna dalam kehidupan sehari-hari. 

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0