Alasan Medis di Balik Anjuran Berbuka dengan Buah Kurma
Penulis: Mursyidah Auni | Editor: Dewi
KARTANEWS.COM - Berbuka puasa dengan kurma telah lama dikenal sebagai sunnah Nabi Muhammad SAW. Namun di balik nilai religiusnya praktik ini juga memiliki dasar ilmiah yang kuat. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa kurma merupakan sumber energi dan mikronutrisi yang sangat efektif untuk memulihkan kondisi tubuh setelah berpuasa seharian.
Buah yang banyak dibudidayakan di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara ini kerap dijuluki sebagai superfood karena kandungan gizinya yang padat. Dalam 100 gram kurma, terkandung karbohidrat alami dalam jumlah tinggi, serat pangan, vitamin, serta berbagai mineral esensial yang dibutuhkan tubuh.
Selama 12 hingga 14 jam berpuasa, kadar glukosa darah cenderung menurun. Kondisi ini dapat memicu rasa lemas, pusing, sulit berkonsentrasi, hingga perubahan suasana hati. Mengonsumsi kurma saat berbuka membantu mengatasi kondisi tersebut secara cepat.
Kurma mengandung gula alami berupa glukosa, fruktosa, dan sukrosa dengan komposisi sekitar 70–80 persen dari total berat keringnya. Gula sederhana ini mudah diserap usus dan langsung masuk ke aliran darah, sehingga tubuh memperoleh suplai energi dalam waktu relatif singkat.
Berbeda dengan karbohidrat kompleks seperti nasi atau roti yang membutuhkan proses pencernaan lebih lama, kurma tidak membebani sistem pencernaan yang baru “aktif” kembali setelah seharian beristirahat. Efeknya, energi pulih tanpa menimbulkan rasa begah atau lonjakan metabolik yang berlebihan.
Sumber Mineral dan Vitamin Esensial
Selain karbohidrat, kurma kaya akan mineral penting yang berperan dalam menjaga keseimbangan tubuh selama puasa.
Kalium (potasium) yang terkandung dalam kurma membantu menjaga keseimbangan cairan, fungsi saraf, serta stabilitas detak jantung. Kandungan kaliumnya bahkan dikenal lebih tinggi dibandingkan pisang dalam takaran yang setara.
Magnesium di dalamnya berperan dalam relaksasi otot dan sistem saraf, sehingga membantu mengurangi ketegangan setelah aktivitas seharian. Sementara itu, vitamin B6 mendukung fungsi otak serta pembentukan sel darah merah.
Kandungan zat besi pada kurma juga berperan dalam mencegah anemia ringan yang dapat menyebabkan rasa pusing, terutama saat berdiri secara tiba-tiba setelah duduk atau berbaring.
Salah satu keluhan umum saat berbuka adalah gangguan pencernaan akibat konsumsi makanan berat secara mendadak. Kurma dapat menjadi “pembuka” yang ideal sebelum hidangan utama.
Kandungan serat dalam kurma, baik serat larut maupun tidak larut, membantu merangsang gerakan peristaltik usus dan mencegah sembelit. Serat ini juga berfungsi sebagai prebiotik alami yang mendukung pertumbuhan bakteri baik dalam saluran cerna.
Dengan mengonsumsi kurma terlebih dahulu, sistem pencernaan diaktifkan secara bertahap sehingga tubuh lebih siap menerima asupan makanan berikutnya.
Kaya Antioksidan, Lawan Stres Oksidatif
Kurma termasuk salah satu buah kering dengan kandungan antioksidan tinggi. Antioksidan berperan melawan radikal bebas yang dapat meningkat akibat stres oksidatif, termasuk ketika tubuh dalam kondisi kekurangan asupan dalam waktu lama.
Beberapa senyawa penting yang terkandung dalam kurma antara lain flavonoid, karotenoid, dan asam fenolat.
Flavonoid memiliki efek anti-inflamasi yang membantu mengurangi peradangan pada lambung, sementara karotenoid berkontribusi terhadap kesehatan jantung dan mata. Asam fenolat juga diketahui memiliki sifat antioksidan dan anti-inflamasi yang mendukung pemulihan sel-sel tubuh.
Membantu Menyeimbangkan Asam Lambung
Perut yang kosong dalam waktu lama dapat meningkatkan kadar asam lambung. Mengonsumsi kurma yang memiliki sifat relatif basa membantu menetralkan kelebihan asam sebelum makanan utama masuk ke lambung.
Bagi individu yang memiliki riwayat gastritis atau gastroesophageal reflux disease (GERD), pola berbuka dengan kurma dan air putih hangat dapat mengurangi risiko munculnya rasa perih atau nyeri lambung.
Indeks Glikemik dan Kendali Gula Darah
Meski manis, kurma memiliki indeks glikemik yang tergolong sedang, tergantung jenisnya. Konsumsi dalam jumlah wajar, sekitar tiga hingga lima butir umumnya tidak menyebabkan lonjakan gula darah yang ekstrem pada individu sehat.
Namun, bagi penyandang diabetes, konsumsi kurma tetap perlu dibatasi dan disesuaikan dengan anjuran tenaga medis. Beberapa varietas seperti Ajwa diketahui memiliki indeks glikemik lebih rendah dibandingkan jenis lainnya.
Anjuran Konsumsi
Secara medis, konsumsi tiga hingga lima butir kurma saat berbuka dinilai cukup untuk:
- Mengembalikan kadar glukosa darah secara bertahap
- Mengaktifkan sistem pencernaan secara perlahan
- Menyediakan mikronutrisi penting dalam waktu singkat
- Mengurangi risiko makan berlebihan saat hidangan utama disajikan
Mengombinasikan kurma dengan air putih membantu proses hidrasi, sementara jeda beberapa menit sebelum menyantap makanan berat memberi waktu bagi tubuh untuk beradaptasi.
Tradisi berbuka dengan kurma bukan sekadar praktik budaya atau keagamaan, melainkan memiliki dasar ilmiah yang rasional. Kandungan gula alami, serat, vitamin, mineral, serta antioksidan menjadikan kurma sebagai pilihan ideal untuk memulai asupan setelah berpuasa.
Konsumsilah dengan bijak dan proporsional, kurma dapat berperan sebagai jembatan nutrisi yang aman dan efektif antara kondisi tubuh yang kosong seharian dengan kebutuhan energi untuk melanjutkan aktivitas malam Ramadan.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0