Tak Sekadar Ibadah, Ternyata dengan Berpuasa Bisa Bantu Perbaiki Metabolisme dan Fungsi Otak

Penulis: Mursyidah Auni | Editor: Dewi

Feb 21, 2026 - 14:48
Feb 21, 2026 - 14:54
 0  3
Tak Sekadar Ibadah, Ternyata dengan Berpuasa Bisa Bantu Perbaiki Metabolisme dan Fungsi Otak
(Halodoc)

KARTANEWS.COM, INDONESIA – Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, Taruna Ikrar menjelaskan puasa Ramadan memicu serangkaian proses fisiologis yang kompleks dan berdampak langsung pada metabolisme, kesehatan sel, hingga fungsi otak.

Ia menilai periode menahan makan dan minum selama kurang lebih 14–16 jam memberi kesempatan bagi tubuh melakukan penyesuaian biologis yang jarang terjadi dalam pola makan yang normal.

Dilansir dari detikhealth, Taruna menjelaskan terdapat sejumlah tahapan penting yang berlangsung secara bertahap selama puasa:

1. Fase Pemanfaatan Glukosa (0–8 Jam Pertama)

Pada tahap awal, tubuh masih menggunakan cadangan glukosa dari makanan terakhir sebagai sumber energi utama melalui proses glikolisis. Glukosa yang tersimpan dalam bentuk glikogen di hati dan otot akan dipecah untuk menjaga kestabilan kadar gula darah.

Dalam fase ini, tubuh bekerja menjaga keseimbangan energi agar organ vital tetap berfungsi optimal.

2. Pembakaran Lemak (Setelah Cadangan Glukosa Menurun)

Ketika simpanan glikogen mulai habis, tubuh beralih menggunakan lemak sebagai sumber energi. Proses ini dikenal sebagai lipolisis dan menghasilkan asam lemak serta badan keton sebagai bahan bakar alternatif.

“Proses ini membantu membersihkan pembuluh darah dari simpanan yang berpotensi menjadi sumber penyakit,” ujar Taruna.

Peralihan ini juga menyebabkan penurunan kadar insulin dan meningkatkan sensitivitas tubuh terhadap hormon tersebut.

Dalam jangka panjang, kondisi ini dinilai berkontribusi terhadap pengendalian berat badan serta penurunan risiko penyakit metabolik, seperti diabetes tipe 2 dan obesitas.

3. Aktivasi Autofagi (Pembersihan dan Daur Ulang Sel)

Tahap berikutnya yang dinilai krusial adalah autofagi, yaitu mekanisme alami ketika sel mendeteksi komponen yang rusak atau tidak berfungsi optimal, lalu mendaur ulangnya untuk membentuk struktur sel baru.

Taruna menjelaskan bahwa proses ini merupakan bagian dari sistem pertahanan biologis tubuh terhadap penuaan sel dan akumulasi kerusakan jaringan.

“Tubuh secara otomatis membuang sel-sel yang rusak dan menggantinya dengan sel baru. Itu bagian dari regenerasi alami,” katanya.

Autofagi mendapat perhatian luas dalam dunia kedokteran modern karena dikaitkan dengan pencegahan penyakit degeneratif seperti gangguan jantung koroner, gangguan neurodegeneratif, serta beberapa jenis kanker.

4. Dampak terhadap Sistem Saraf dan Fungsi Otak

Dalam perspektif neurosains, pembatasan asupan kalori sementara dapat merangsang produksi protein pelindung sel saraf yang berperan dalam meningkatkan daya tahan neuron terhadap stres oksidatif.

Kondisi ini diyakini mendukung fungsi kognitif, konsentrasi, dan ketahanan mental. Selain itu, produksi badan keton sebagai sumber energi alternatif bagi otak juga disebut memiliki efek protektif terhadap sel saraf.

5. Penyesuaian Hormonal dan Imunitas

Puasa turut memengaruhi regulasi hormon, termasuk hormon pertumbuhan yang berperan dalam perbaikan jaringan. Dalam kondisi tertentu, respons imun juga menjadi lebih terkontrol karena berkurangnya proses inflamasi yang dipicu pola makan berlebihan.

Meski demikian, Taruna menekankan bahwa manfaat biologis tersebut sangat dipengaruhi oleh pola konsumsi saat sahur dan berbuka. Asupan yang berlebihan, tinggi gula, dan tinggi lemak jenuh justru dapat menghambat proses adaptasi metabolik yang telah berlangsung selama puasa.

Ia juga mengingatkan bahwa individu dengan kondisi medis tertentu tetap perlu berkonsultasi dengan tenaga kesehatan sebelum menjalankan puasa secara penuh.

“Ramadan bukan hanya datangnya bulan, tetapi datangnya kesempatan. Kita siapkan hati sebelum tubuh berpuasa,” ujarnya.

Dengan demikian, puasa Ramadan dapat dipahami tidak hanya sebagai praktik spiritual, tetapi juga sebagai periode adaptasi metabolik yang melibatkan pembakaran lemak, regenerasi sel, hingga penguatan fungsi otak.

Proses biologis tersebut menunjukkan bahwa tubuh memiliki mekanisme pemulihan alami ketika diberi jeda dari asupan makanan secara berkala.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0