5 Peluang Usaha yang Tetap Cuan di Tengah Krisis Ekonomi Global
KARTANEWS.COM, INDOESIA – Ketidakpastian ekonomi global akibat perlambatan pertumbuhan, gejolak geopolitik, hingga fluktuasi harga energi terus menjadi perhatian pelaku usaha. Meski demikian, sejumlah sektor bisnis dinilai tetap memiliki ketahanan tinggi dan berpeluang memberikan keuntungan meskipun kondisi ekonomi sedang tertekan.
Pengamat ekonomi menilai, dalam situasi krisis, pola konsumsi masyarakat cenderung bergeser dari kebutuhan tersier ke kebutuhan primer serta layanan yang bersifat solutif dan hemat biaya. Berdasarkan tren tersebut, terdapat sejumlah peluang usaha yang relatif lebih stabil dan berpotensi bertahan dalam jangka panjang.
Certified Financial Planner sekaligus Director & Co-Founder Oneshildt Financial Planning, Budi Raharjo, mengatakan terdapat beberapa jenis usaha yang tangguh di tengah situasi ekonomi global yang tidak menentu ini. Jenis usaha tersebut adalah yang menjual kebutuhan pokok.
"(Jenis usaha) yang paling bisa bertahan yang hampir risk free bisnis adalah jualan bahan pokok, kebutuhan pokok primer," ujarnya dikutip dari Metrotvnews.com, Selasa (13/1/2026).
Berikut lima sektor usaha yang dinilai relatif tahan terhadap guncangan ekonomi global.
1. Usaha Kebutuhan Pokok dan Pangan
Sektor kebutuhan dasar seperti pangan dan sembako tetap menjadi penopang utama aktivitas ekonomi masyarakat. Permintaan terhadap beras, minyak goreng, telur, gula, hingga air minum dalam kemasan cenderung stabil meskipun daya beli melemah.
Pelaku usaha di sektor ini disarankan menekan biaya operasional melalui efisiensi rantai pasok agar harga jual tetap kompetitif. Selain itu, produk pangan olahan seperti frozen food dan bahan masakan siap olah dinilai memiliki peluang besar karena menawarkan kepraktisan dan harga yang lebih terjangkau dibandingkan konsumsi di luar rumah.
2. Sektor Kesehatan dan Farmasi
Layanan kesehatan dan produk farmasi termasuk sektor yang relatif tidak terdampak signifikan oleh krisis. Obat-obatan, vitamin, suplemen, serta alat kesehatan tetap dibutuhkan masyarakat dalam berbagai kondisi ekonomi.
Seiring perkembangan teknologi, layanan kesehatan berbasis digital seperti apotek daring dan konsultasi medis jarak jauh juga menunjukkan pertumbuhan. Model bisnis ini dinilai mampu menjangkau lebih banyak konsumen dengan biaya operasional yang lebih efisien.
3. Jasa Perbaikan dan Servis
Di tengah tekanan ekonomi, masyarakat cenderung menunda pembelian barang baru dan memilih memperpanjang usia pakai barang yang dimiliki. Kondisi ini membuka peluang besar bagi usaha jasa perbaikan, mulai dari bengkel kendaraan, servis gawai dan elektronik, hingga jasa penjahit.
Keunggulan sektor ini terletak pada kebutuhan modal yang relatif kecil karena mengandalkan keterampilan dan keahlian teknis. Dengan kualitas layanan yang baik, usaha jasa servis dinilai mampu memberikan margin keuntungan yang kompetitif.
4. Pendidikan dan Pelatihan Keterampilan
Krisis ekonomi sering mendorong masyarakat untuk meningkatkan kompetensi agar tetap bertahan di pasar kerja atau beralih ke bidang usaha baru. Oleh karena itu, sektor pendidikan nonformal dan pelatihan keterampilan dinilai tetap prospektif.
Kursus singkat di bidang digital seperti pemasaran daring, desain grafis, pengolahan data, hingga keterampilan teknis bersertifikat banyak diminati. Model pembelajaran berbasis daring melalui video dan webinar juga memungkinkan biaya lebih terjangkau dengan jangkauan peserta yang luas.
5. Bisnis Hiburan Skala Kecil dan Produk Perawatan Diri
Fenomena yang dikenal sebagai lipstick effect menunjukkan bahwa di tengah krisis, konsumen tetap mengalokasikan dana untuk hiburan kecil atau produk perawatan diri sebagai bentuk pelampiasan psikologis.
Produk seperti kosmetik dan perawatan kulit dengan harga terjangkau, camilan inovatif, hingga konten hiburan digital dinilai memiliki pasar tersendiri. Sektor ini bergantung pada kreativitas, diferensiasi produk, serta strategi pemasaran yang tepat sasaran.
Selain memilih sektor usaha yang tepat, pelaku bisnis juga diimbau memperkuat manajemen keuangan. Pengelolaan arus kas, pemanfaatan platform digital untuk efisiensi pemasaran, serta kemampuan beradaptasi terhadap perubahan tren pasar menjadi faktor kunci agar usaha tetap bertahan.
Menurut Budi, yang bisa dilakukan saat menjalankan usaha di tengah ketidakpastian ekonomi ini adalah mengetahui cara mengelola risikonya bukan hanya memikirkan potensi keuntungannya saja.
"Jadi yang paling penting bukan potensi keuntungannya saja. Tapi bagaimana cara kita mengelola resikonya. Yang bisa kita lakukan adalah mencegah," ujarnya.
Para analis menilai, krisis ekonomi tidak selalu berarti berhentinya aktivitas usaha, melainkan terjadinya pergeseran prioritas konsumsi masyarakat. Dengan menyesuaikan model bisnis pada kebutuhan dasar dan solusi hemat, peluang untuk bertahan dan berkembang di tengah tekanan ekonomi global masih terbuka. (AUNI)
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0