Terungkap dari Pedalaman Hutan Kaltim, Rafflesia Harjatii Resmi Jadi Spesies Baru Dunia

Feb 26, 2026 - 13:19
Feb 26, 2026 - 17:30
 0  3
Terungkap dari Pedalaman Hutan Kaltim, Rafflesia Harjatii Resmi Jadi Spesies Baru Dunia
Spesies baru bunga Rafflesia harjatii (Ridha Mahyuni)

KARTANEWS.COM, PENAJAM PASER UTARA – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama tim peneliti lintas institusi mengumumkan penetapan spesies baru bunga Rafflesia yang ditemukan di Kalimantan Timur.

Spesies tersebut diberi nama Rafflesia harjatii dan hasil kajiannya telah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Sains Malaysiana edisi 12 Januari 2026.

Penemuan ini merupakan hasil penelitian mendalam yang dilakukan sejak 2022 untuk mengungkap identitas bunga Rafflesia yang sebelumnya telah terpantau di kawasan konsesi PT ITCI Kartika Utama (ITCIKU), Kabupaten Penajam Paser Utara.

Jejak keberadaan bunga tersebut sebenarnya telah dicatat sejak dekade 1980-an. Pada 2019, peneliti kehutanan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Tri Atmoko, melaporkan populasi Rafflesia di kawasan tersebut, namun belum dapat memastikan status taksonominya.

Kepastian klasifikasi baru diperoleh setelah tim ahli botani melakukan analisis komprehensif, mencakup perbandingan morfologi rinci dan uji genetik molekuler.

Penelitian ini dipimpin Prof. Agus Susatya dari Universitas Bengkulu dan melibatkan sejumlah peneliti BRIN, antara lain Ridha Mahyuni, Sudarmono, Dian Latifah, Willie Smits, dan Arief Priyadi.

Hasil Analisis Morfologi dan Genetik

Berdasarkan hasil kajian, Rafflesia harjatii dinyatakan berbeda secara signifikan dari seluruh spesies Rafflesia yang telah teridentifikasi di Kalimantan. Perbedaan tersebut tidak hanya pada bentuk fisik, tetapi juga pada struktur internal bunga serta karakter genetiknya.

Secara morfologi, diameter bunga R. harjatii berkisar antara 17 hingga 22 sentimeter, menjadikannya salah satu Rafflesia berukuran relatif kecil di Pulau Kalimantan. Spesies ini memiliki bercak putih yang lebih jarang namun berukuran lebih besar dibandingkan spesies lain.

Bagian diafragma tampak lebih tebal dengan bukaan sempit. Struktur ramenta bagian menyerupai duri di dalam bunga berkembang baik, berbentuk silindris hingga menyerupai gada kecil. Ciri ini berbeda dari spesies lain yang umumnya memiliki ramenta pendek atau pipih.

Peneliti juga menyoroti ketiadaan struktur “jendela” pada permukaan dalam diafragma, yang menjadi pembeda utama dibandingkan empat spesies Rafflesia Kalimantan lainnya, yakni R. hasseltii, R. keithii, R. tuan-mudae, dan R. pricei. Selain itu, R. harjatii hanya memiliki satu anulus, sementara keempat spesies tersebut memiliki dua anulus.

Perbandingan dengan spesies yang deskripsinya belum lengkap, seperti R. borneensis dan R. witkampii, dinilai sulit dilakukan. Namun, secara karakter, R. harjatii memiliki kemiripan terdekat dengan R. tengku-adlinii, terutama karena sama-sama tidak memiliki struktur jendela pada diafragma.

Habitat dan Karakter Ekologi

Prof. Agus menjelaskan dalam risetnya bahwa spesies ini ditemukan tumbuh sebagai parasit pada tanaman inang Tetrastigma leucostaphyllum dari famili Vitaceae. Lokasinya berada di hutan sekunder tua campuran Dipterocarpaceae pada ketinggian 325–329 meter di atas permukaan laut dengan kemiringan lahan 10–25 persen.

Kondisi tanah di lokasi tersebut memiliki pH antara 5,4 hingga 7, dengan kelembapan mencapai 89 persen. Vegetasi dominan di kawasan itu meliputi Shorea laevis, Polyalthia tanuipes, Diplospora malaccensis, dan Xanthophyllum macrophyllum.

Kuncup dewasa R. harjatii berdiameter sekitar 8,4–10 sentimeter dengan periode mekar diperkirakan berlangsung pada November hingga Desember.

Status Endemik dan Tantangan Konservasi

Hingga saat ini, tim peneliti mencatat keberadaan tiga subpopulasi di area penelitian. Berdasarkan asesmen awal, Rafflesia harjatii dinyatakan sebagai spesies endemik Kalimantan Timur karena belum ditemukan di wilayah lain.

Dr. Ridha Mahyuni menjelaskan bahwa lokasi temuan berada dalam kawasan konservasi perusahaan yang relatif terlindungi dari gangguan aktivitas manusia. Namun demikian, ancaman alami seperti curah hujan tinggi dan perubahan kondisi mikrohabitat tetap menjadi faktor risiko bagi kelangsungan hidup spesies ini.

Tim peneliti berencana melanjutkan kerja sama dengan pengelola kawasan guna melakukan pemantauan populasi secara lebih komprehensif.

Penghormatan atas Nama Harjatii

Nama harjatii disematkan sebagai bentuk penghargaan kepada Harjati Hashim Djojohadikusumo atas kontribusinya dalam bidang konservasi dan pelestarian hutan. Ia diketahui aktif memimpin berbagai inisiatif melalui Yayasan Arsari Djojohadikusumo dan Wadah Foundation yang bergerak di bidang sosial, pendidikan, dan lingkungan.

Potensi Penemuan Lanjutan

Penemuan Rafflesia harjatii memperkuat posisi hutan Indonesia sebagai pusat keanekaragaman hayati dunia. BRIN mengisyaratkan bahwa masih terdapat sejumlah kandidat spesies Rafflesia lain yang tengah difinalisasi datanya dan berpotensi diumumkan dalam waktu dekat.

Temuan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa kawasan hutan tropis Indonesia bukan sekadar bentang alam, melainkan laboratorium alami yang menyimpan potensi ilmiah besar.

Upaya penelitian dan perlindungan habitat dinilai menjadi kunci untuk memastikan kekayaan hayati tersebut tetap lestari bagi generasi mendatang.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0