TNNGP Angkut 6 Ton Sampah di Puncak Bogor, Berpotensi Jadi Titik Rawan Bencana
KARTANEWS.COM, BOGOR — Permasalahan sampah di kawasan hulu kembali menjadi perhatian setelah aksi bersih lingkungan dilakukan di wilayah Puncak, Kabupaten Bogor.
Dalam kegiatan yang melibatkan berbagai pihak, sedikitnya 6 ton sampah berhasil diangkat dari area Desa Sukagalih, Kecamatan Megamendung.
Kegiatan yang berlangsung pada pertengahan Maret 2026 itu melibatkan sekitar 70 relawan, hasil kolaborasi antara EIGER Adventure Land, Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bogor, serta pengelola Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP).
Pembersihan difokuskan pada zona pemanfaatan kawasan konservasi yang selama ini menjadi titik penumpukan sampah. Dari tahap awal pembersihan, volume sampah yang berhasil diangkut setara dengan empat truk.
Meski demikian, total timbulan sampah di lokasi tersebut diperkirakan mencapai 30 ton, sehingga proses penanganan akan dilakukan secara bertahap hingga seluruh area dinyatakan bersih.
Kondisi ini mencerminkan kompleksitas persoalan sampah di wilayah hulu yang tidak hanya berdampak pada pencemaran lingkungan, tetapi juga berpotensi mengganggu sistem hidrologi, meningkatkan risiko banjir, serta memicu longsor di kawasan lereng.
Secara nasional, Kementerian Lingkungan Hidup dan Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) mencatat timbulan sampah Indonesia mencapai sekitar 56 juta ton per tahun pada 2023.
Dari jumlah tersebut, hanya sebagian yang tertangani dengan baik, sementara sisanya masih berakhir di tempat pembuangan terbuka atau tidak terkelola dan mencemari lingkungan.
Sementara itu, Kabupaten Bogor menghadapi tekanan signifikan dengan volume sampah yang mencapai ribuan ton per hari dan turut mendorong munculnya titik pembuangan liar, terutama di kawasan penyangga seperti Puncak.
Direktur Utama EIGER Adventure Land, Imanuel Wirajaya, menekankan bahwa persoalan sampah tidak semata berkaitan dengan jumlah, tetapi juga perilaku masyarakat dalam pengelolaannya.
Ia menilai perubahan pola pikir dan kebiasaan dalam memilah serta membuang sampah menjadi faktor kunci dalam mengatasi persoalan tersebut.
“Dampak pembuangan sampah sembarangan sangat luas, mulai dari pencemaran hingga potensi bencana. Perubahan perilaku dan pengelolaan dari sumber menjadi hal yang tidak bisa ditawar,” ujarnya.
Pendapat serupa disampaikan Guru Besar Teknik Sipil dan Lingkungan IPB University, Arief Sabdo Yuwono, yang menilai metode pengelolaan konvensional seperti open dumping sudah tidak relevan dengan kondisi saat ini. Menurutnya, sistem pengelolaan sampah yang terintegrasi dari hulu ke hilir harus didukung kesadaran masyarakat.
Aksi bersih ini sekaligus menjadi bagian dari upaya pengembangan kawasan berbasis ekowisata yang berkelanjutan.
Selain penanganan langsung, program lanjutan juga diarahkan pada edukasi dan pelibatan masyarakat lokal dalam sistem pengelolaan sampah yang lebih terstruktur.
Penguatan sistem pengelolaan sampah di kawasan Megamendung akan difokuskan pada pendekatan terpadu yang melibatkan masyarakat setempat, langkah ini diharapkan mampu menjaga keseimbangan ekosistem di wilayah hulu sekaligus menekan risiko bencana lingkungan akibat timbulan sampah. (AUNI/daa*)
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0