Bioetanol Jadi Kunci Ketahanan Energi, Indonesia Kurangi Ketergantungan BBM Impor

Apr 5, 2026
Bioetanol Jadi Kunci Ketahanan Energi, Indonesia Kurangi Ketergantungan BBM Impor
Ilustrasi cairan bioetanol (PT Pertamina)

KARTANEWS.COM, JAKARTA – Pengembangan bioetanol kembali menguat sebagai salah satu strategi penting dalam memperkuat ketahanan energi nasional, seiring meningkatnya kebutuhan energi dan tekanan terhadap penggunaan bahan bakar fosil yang masih mendominasi.

Bioetanol merupakan bahan bakar nabati yang dihasilkan melalui proses fermentasi bahan organik seperti tebu, jagung, maupun biomassa lainnya. Kemudian dapat dimanfaatkan sebagai campuran bensin dalam berbagai komposisi, termasuk skema E10 atau campuran 10 persen etanol.

Dalam konteks energi nasional, bioetanol dipandang sebagai solusi yang menjembatani kepentingan ketahanan energi dan keberlanjutan lingkungan khususnya di tengah konflik Timur Tengah.

Selain bersumber dari bahan terbarukan, penggunaannya juga mampu menekan emisi gas rumah kaca dibandingkan bahan bakar konvensional.

Wakil Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Oki Muraza, menegaskan bahwa pengembangan bioetanol tidak hanya berkaitan dengan inovasi energi, tetapi juga menyentuh aspek strategis seperti kemandirian pasokan energi dan stabilitas ekonomi jangka panjang.

“Bioetanol menjadi titik temu antara ketahanan energi dan keberlanjutan, sehingga pengembangannya perlu didukung melalui diversifikasi bahan baku, penguatan regulasi, serta kesiapan infrastruktur,” ujarnya dalam siaran pers, Jumat (3/4/2026).

Pernyataan tersebut mencerminkan tantangan yang masih dihadapi Indonesia, mulai dari keterbatasan pasokan bahan baku berkelanjutan hingga belum optimalnya rantai pasok dan distribusi. Di sisi lain peluang pengembangan bioetanol cukup besar, mengingat Indonesia memiliki sumber daya pertanian yang melimpah.

Selain berpotensi mengurangi ketergantungan pada impor bahan bakar minyak, pengembangan bioetanol juga dapat memberikan dampak ekonomi bagi sektor pertanian melalui peningkatan nilai tambah komoditas lokal serta penciptaan lapangan kerja baru di sektor hilir.

Dari sisi lingkungan, penggunaan bioetanol sebagai bahan bakar campuran dinilai mampu menurunkan emisi karbon secara bertahap, sehingga mendukung komitmen Indonesia dalam transisi energi bersih dan pencapaian target penurunan emisi nasional.

Namun demikian, implementasi bioetanol secara luas tetap memerlukan kesiapan menyeluruh, termasuk dukungan kebijakan yang konsisten, insentif bagi pelaku industri, serta edukasi publik terkait manfaat bahan bakar campuran etanol.

Dengan berbagai potensi dan tantangan tersebut, bioetanol dinilai dapat menjadi salah satu pilar penting dalam bauran energi masa depan Indonesia, terutama dalam upaya mewujudkan kemandirian energi yang lebih kuat dan berkelanjutan di tengah dinamika global. (AUNI/daa*)

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0