Muhammadiyah Tegaskan Posisi PTMA Sebagai Aktor Utama Pendidikan Nasional
KARTANEWS.COM, INDONESIA – Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah menegaskan bahwa jaringan Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) kini telah bertransformasi menjadi aktor utama dalam peta pendidikan tinggi nasional, bukan lagi sekadar pelengkap.
Hal tersebut disampaikan oleh Sekretaris Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian dan Pengembangan (Diktilitbang) PP Muhammadiyah, Ahmad Muttaqin, dalam resepsi Milad ke-40 Universitas Muhammadiyah Ponorogo (UMPO), Senin (4/5/2026)
Dalam pidatonya, Muttaqin memaparkan data strategis yang menunjukkan ekspansi masif pendidikan Muhammadiyah. Saat ini, total PTMA telah mencapai 164 institusi yang tersebar di seluruh dunia, termasuk satu cabang di Malaysia.
“Muhammadiyah telah berkontribusi mengisi 4 persen dari total perguruan tinggi di Indonesia. Dari jumlah tersebut, sebanyak 21 PTMA telah meraih akreditasi unggul, dan UMPO adalah salah satu di antaranya,” ujar Muttaqin di hadapan civitas akademika UMPO berdasarkan keterangan dari kanal resmi PP Muhammadiyah.
Memasuki usia empat dekade, UMPO dinilai menunjukkan performa akademik yang impresif. Selain meraih akreditasi institusi 'Unggul' dari BAN-PT, UMPO juga telah menerapkan standar internasional ISO 21001:2018 terkait sistem manajemen organisasi pendidikan.
Peningkatan kualitas tersebut berbanding lurus dengan kepercayaan publik. Muttaqin mencatat adanya tren kenaikan tajam pada penerimaan mahasiswa baru. Dari sisi sumber daya manusia, UMPO saat ini diperkuat oleh 70 dosen bergelar doktor (S3) dan menargetkan pencapaian 100 doktor dalam waktu dekat.
“Kampus ini juga berhasil 'pecah telur' dengan melahirkan dua guru besar pertama, dan ditargetkan akan bertambah delapan guru besar lagi ke depannya,” tambahnya.
Muttaqin memberikan apresiasi khusus terhadap strategi penjenamaan (branding) UMPO sebagai “The Reog University”. Menurutnya, identitas ini berhasil memadukan kearifan lokal dengan peradaban global yang berlandaskan nilai-nilai Islam berkemajuan.
Namun, ia mengingatkan agar prestasi akademik tidak membuat perguruan tinggi menjadi eksklusif.
“Kita tidak ingin perguruan tinggi yang unggul hanya menjadi menara gading, tetapi harus menjadi menara air. Kampus yang berdampak tidak sekadar meluluskan sarjana, tetapi mampu menyelesaikan masalah nyata di tengah masyarakat," pungkasnya. (REIN/daa)
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0