Hening Nyepi dan Gema Takbir Beriringan, Bukti Harmoni Indonesia di Tengah Perbedaan
Penulis : Mursyidah Auni | Editor : Dewi
KARTANEWS.COM, JAKARTA – Bimbingan Masyarakat (Bimas) Hindu Kementerian Agama Republik Indonesia menetapkan Hari Suci Nyepi Tahun Baru Saka 1948 jatuh pada 19 Maret 2026.
Mengusung tema “Vasudhaiva Kutumbakam: Satu Bumi, Satu Keluarga, Nusantara Harmoni, Indonesia Maju” yang menekankan pentingnya persaudaraan, toleransi, serta keseimbangan hidup dalam keberagaman.
Tema tersebut mengandung pesan kuat tentang persatuan di tengah perbedaan, sekaligus mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjaga harmoni sosial dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika.
Perayaan Nyepi tahun ini memiliki makna tersendiri karena berlangsung dengan malam takbiran menyambut Idulfitri 1447 Hijriah, situasi ini mencerminkan realitas keberagaman Indonesia yang berjalan berdampingan dalam suasana saling menghormati.
Momentum dua perayaan keagamaan ini menjadi cerminan kuat nilai toleransi, di mana setiap umat menjalankan ibadah sesuai keyakinan masing-masing dengan tetap menjaga ketertiban dan menghargai ruang spiritual pihak lain.
Bagi umat Hindu, Nyepi merupakan hari suci yang dijalani melalui Catur Brata Penyepian selama 24 jam penuh yang mencakup tidak menyalakan api, tidak bekerja, tidak bepergian, serta tidak menikmati hiburan, keheningan dimaknai sebagai sarana introspeksi diri dan pengendalian pikiran serta perilaku.
Sementara itu, umat Muslim menyambut malam takbiran dengan gema takbir sebagai ungkapan rasa syukur setelah menunaikan ibadah puasa Ramadan, suasana penuh kebahagiaan ini menjadi simbol kemenangan spiritual yang sarat makna.
Perbedaan cara perayaan tersebut justru memperlihatkan nilai yang saling melengkapi, di mana Nyepi mengajarkan ketenangan dan refleksi diri, sedangkan takbiran menghadirkan semangat syukur dan kebersamaan.
Dalam konteks itulah, sikap saling menghormati menjadi kunci utama untuk menjaga keharmonisan di tengah masyarakat, setiap individu memiliki peran dalam menciptakan suasana kondusif agar kedua momentum keagamaan dapat berlangsung dengan khidmat dan damai.
Kondisi ini sekaligus menjadi pengingat bahwa keberagaman merupakan kekuatan bangsa, dengan menjaga toleransi dan memperkuat persaudaraan, masyarakat Indonesia mampu merawat harmoni sosial secara berkelanjutan di tengah perbedaan yang ada.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0