Konflik Timur Tengah Picu Kenaikan Harga Plastik

Apr 5, 2026
Konflik Timur Tengah Picu Kenaikan Harga Plastik
Ilustrasi penggunaan plastik (kompas.com/ist)

KARTANEWS.COM, JAKARTA — Kenaikan harga plastik global mulai dirasakan di dalam negeri seiring terganggunya pasokan bahan baku akibat konflik di kawasan Timur Tengah. 

Ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan baku plastik turut memperbesar dampak kenaikan tersebut terhadap industri nasional.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai impor plastik dan produk turunannya (HS 39) pada Februari 2026 mencapai US$873,2 juta atau sekitar Rp14,78 triliun. China menjadi pemasok terbesar dengan nilai US$380,1 juta, diikuti Thailand sebesar US$82,7 juta dan Korea Selatan US$66,7 juta. 

Selain itu, Indonesia juga mengimpor dari Amerika Serikat sebesar US$29,9 juta serta Arab Saudi sekitar US$14,9 juta, disusul negara lain seperti Vietnam, Jepang, Singapura, Malaysia, dan Taiwan.

Kenaikan harga plastik tidak terlepas dari lonjakan harga minyak dunia, mengingat sebagian besar bahan baku plastik seperti polyethylene (PE) dan polypropylene berasal dari hasil pengolahan minyak bumi. 

Ketika harga minyak meningkat akibat konflik geopolitik, biaya produksi bahan baku plastik ikut terdorong naik.

Dari sisi lain, kawasan Timur Tengah memiliki peran strategis sebagai pemasok utama bahan baku plastik global dengan kontribusi sekitar 25 persen terhadap ekspor polyethylene dan polypropylene dunia. 

Ketegangan di wilayah tersebut berdampak langsung pada rantai pasok, terutama karena jalur distribusi utama melalui Selat Hormuz menjadi titik krusial yang rentan terganggu.

"Sekitar 84% kapasitas polyethylene Timur Tengah bergantung pada Selat Hormuz untuk ekspor melalui jalur laut," kata Harrison Jacoby, Direktur Polyethylene di Independent Commodity Intelligence Services dikutip dari CNN Indonesia, Minggu (5/4/2026).

Secara faktual, kelangkaan plastik saat ini dipicu oleh beberapa faktor utama, antara lain gangguan distribusi akibat konflik yang mempengaruhi jalur logistik internasional, terbatasnya kapasitas produksi global karena ketergantungan pada kawasan tertentu, serta lonjakan permintaan industri manufaktur pascapandemi yang belum sepenuhnya diimbangi oleh pasokan.

Selain itu, kebijakan pembatasan ekspor di sejumlah negara produsen serta meningkatnya biaya energi dan transportasi turut memperparah kondisi pasokan. 

Kombinasi faktor-faktor tersebut menyebabkan pasokan bahan baku plastik menjadi terbatas di pasar global yang pada akhirnya berdampak pada kenaikan harga di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Kondisi ini menjadi perhatian bagi sektor industri dalam negeri yang masih bergantung pada bahan baku impor, sekaligus mendorong perlunya penguatan produksi bahan baku plastik nasional guna mengurangi ketergantungan terhadap pasar global. (AUNI/daa*)

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0