Dua Anak Harimau Benggala Mati, BBKSDA Jabar Ungkap Penyebab Infeksi Virus Mematikan

Penulis : Mursyidah Auni | Editor : Dewi

Mar 29, 2026 - 14:27
Mar 29, 2026 - 17:31
 0  2
Dua Anak Harimau Benggala Mati, BBKSDA Jabar Ungkap Penyebab Infeksi Virus Mematikan
Dua Harimau Benggala yang mati akibat Feline Panleukopenia Virus (dok. Kementerian Kehutanan)

KARTANEWS.COM, BANDUNG — Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA), Jawa Barat mengonfirmasi kematian dua anak harimau benggala koleksi Eks Kebun Binatang Bandung yang masing-masing bernama Hara dan Huru berusia delapan bulan.

Berdasarkan hasil pemeriksaan medis dan nekropsi, keduanya dinyatakan mati akibat infeksi Feline Panleukopenia Virus (FPV). 

Pelaksana Tugas Kepala BBKSDA Jawa Barat, Ammy Nurwaty, menjelaskan gejala awal terdeteksi pada 22 Maret 2026 saat Hara menunjukkan penurunan aktivitas disertai muntah dan diare, dari pemeriksaan awal juga ditemukan adanya infeksi parasit cacing.

“Satwa langsung diberikan penanganan berupa obat antiparasit, penurun asam lambung, serta vitamin untuk mendukung kondisinya,” ujarnya dalam keterangan resminya pada laman resmi Kementerian Kehutanan.

Sebagai langkah pencegahan, Harimau Huru yang berada dalam satu kandang turut diberikan penanganan awal dan dipisahkan guna meminimalkan risiko penularan.

“Upaya isolasi dilakukan sejak dini untuk mencegah penyebaran penyakit,” katanya.

BBKSDA Jawa Barat, kemudian berkoordinasi dengan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Bandung serta tim dokter hewan dari UPTD Rumah Sakit Hewan Provinsi Jawa Barat untuk melakukan penanganan terpadu.

Pada 23 Maret 2026, kondisi Hara dilaporkan memburuk dengan gejala diare berdarah, hasil uji cepat dari sampel feses menunjukkan positif Feline Panleukopenia Virus, meski telah mendapatkan terapi intensif, Hara dinyatakan mati pada 24 Maret 2026.

“Hasil nekropsi menunjukkan adanya perdarahan pada saluran pencernaan serta kerusakan vili usus yang merupakan ciri khas infeksi FPV,” jelasnya.

Sementara itu, Huru yang menunjukkan gejala serupa sempat mendapatkan penanganan intensif dari tim gabungan dan sempat melewati fase kritis, namun pada 26 Maret 2026 satwa tersebut juga dinyatakan mati.

“Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya kerusakan pada saluran pencernaan serta hasil uji yang juga positif FPV,” ungkapnya.

Ia menambahkan, Feline Panleukopenia Virus merupakan penyakit yang sangat menular pada satwa dari famili Felidae, virus ini menyerang sel-sel yang aktif membelah terutama pada saluran pencernaan sehingga menyebabkan kerusakan jaringan secara masif.

“Pada satwa muda dengan sistem kekebalan yang belum optimal, penyakit ini memiliki tingkat kematian yang sangat tinggi,” terangnya.

Sebagai langkah lanjutan, BBKSDA Jawa Barat bersama pengelola melakukan peningkatan biosekuriti, termasuk desinfeksi lingkungan secara intensif, pembatasan lalu lintas orang dan peralatan, serta pemantauan kesehatan seluruh satwa karnivora.

Langkah tersebut diharapkan dapat mencegah penyebaran penyakit serupa dan menjaga kondisi satwa lain tetap dalam keadaan sehat.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0