Atasi Krisis Iklim, Pemkab Kukar Tanam Puluhan Pohon di Taman Pujasera
KARTANEWS.COM, KUKAR - Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Pemkab Kukar) mengaktualisasikan puncak peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia Tahun 2026 lewat aksi riil penanaman pohon di area Taman Pujasera, Tenggarong, Kamis (25/6/2026).
Sedikitnya, sebanyak 81 bibit pohon beragam varietas ditanam sebagai bagian dari akselerasi mitigasi perubahan iklim sekaligus langkah menstimulus kepedulian publik terhadap kelestarian alam sekitar.
Agenda ini menjadi salah satu pilar utama dalam selebrasi Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 di Kukar yang tahun ini mengadopsi tema global “Inspired by Nature, For Climate, For Our Future: Saatnya Bekerja untuk Iklim”.
Dipaparkan oleh Plt. Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Kukar Slamet Hadiraharjo, tema yang diusung tahun ini merupakan instruksi bersama guna menggalang aksi kolektif menghadapi triple planetary crisis yang mencakup perubahan iklim, penurunan biodiversitas, serta polusi.
“Tema ini adalah panggilan untuk bergotong royong memobilisasi aksi nyata menghadapi triple planetary crisis yang meliputi perubahan iklim, penurunan keanekaragaman hayati, dan polusi,” tegasnya.
Dirinya menguraikan, gerakan menanam pohon di kawasan Taman Pujasera menjadi representasi riil dari spirit kerja iklim yang diamanatkan dalam momentum Hari Lingkungan Hidup Sedunia tahun ini.
Lewat aktivitas tersebut, pemerintah daerah berkomitmen memperlihatkan bahwa proteksi terhadap alam wajib diimplementasikan melalui kebijakan konkret yang dampaknya dapat diindra langsung oleh publik.
Adapun akumulasi 81 pohon yang ditanam mencakup 15 pohon ulin, 10 pohon meranti, 10 pohon kapur, 20 pohon buah-buahan, 8 pohon tabebuya, serta 18 tanaman hias. Prosesi penanaman dipimpin Sekda Sunggono Kasnu bersama Sultan Kutai Kartanegara Ing Martapura ke-21 Sultan Aji Muhammad Arifin.
Slamet menegaskan, penghijauan pohon tidak semata-mata diorientasikan estetika wilayah. Namun, juga mengandungi signifikansi ekologis yang krusial, mulai dari memperluas tutupan hijau, memfilter kualitas udara, hingga menjadi instrumen adaptasi dan reduksi dampak perubahan iklim lokal.
Di luar penanaman pohon, selebrasi Hari Lingkungan Hidup Tahun 2026 di Kukar pun dikonsep guna menguatkan komitmen lintas sektor pada aspek manajemen lingkungan hidup.
Minimal terdapat tiga sasaran utama yang dibidik lewat rangkaian program tahun ini, yakni memperkokoh sinergisitas seluruh elemen dalam mengendalikan dampak perubahan iklim.
Berikutnya, mengeskalasi keterlibatan aktif masyarakat untuk kolektif memangkas volume sampah sejak dari hulu, serta memformulasikan kultur gotong royong lewat gerakan peduli lingkungan secara kontinu.
“Keberhasilan pengelolaan lingkungan bukanlah tugas DLHK semata, melainkan tanggung jawab kita bersama,” urai Slamet dikutip dari Niaga Asia.
Sebagai informasi, rangkaian Hari Lingkungan Hidup ini sejatinya telah digulirkan semenjak awal Juni lewat variasi agenda berbasis lingkungan.
Program pembuka berupa Gerakan Peduli dan Berperilaku Ramah Lingkungan di Sekolah, melalui orientasi bagi calon sekolah Adiwiyata demi mendongkrak kualitas ekosistem edukasi dan membentuk sekolah berwawasan lingkungan.
Selanjutnya sambung Slamet, DLHK Kukar juga mengorganisasi Gerakan Aksi Pilah Sampah lewat edukasi manajemen sampah ke masyarakat. Langkah ini difungsikan guna mereduksi tumpukan sampah yang masuk menuju Tempat Pemrosesan Akhir (TPA), sekaligus menstimulasi warga memilah limbah dari lingkup domestik.
Puncaknya, pada momentum Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026, dilaksanakan Gerakan Aksi Iklim berwujud operasi bersih lingkungan dan penghijauan di Taman Pujasera. Menurutnya, skema kegiatan diformulasikan agar Hari Lingkungan Hidup tidak mandek sebagai seremoni musiman, melainkan bertransformasi menjadi gerakan berkelanjutan.
Di sela acara, ia turut mengekspos sederet capaian fundamental DLHK Kukar per tahun 2026 sebagai bukti autentik komitmen menjaga alam.
Pertama, Program Kampung Iklim (Proklim). Kini terdapat 71 desa/kelurahan yang dicanangkan sebagai Desa Ramah Lingkungan. Dari total itu, 26 desa/kelurahan dianugerahi sertifikat oleh Kementerian Lingkungan Hidup sebagai Kampung Iklim berpredikat Utama.
Kedua, tata kelola sampah. Ia mengonfirmasi persentase volume sampah terolah tadinya menyentuh 12,34 persen. Menurutnya, indikator tersebut dipengaruhi transformasi regulasi Kementerian Lingkungan Hidup.
“Sampah yang masuk ke TPA dengan sistem open dumping, secara metodologi baru tidak lagi dihitung sebagai capaian pengelolaan sampah. Karena aturan bakar sampah ke TPA adalah residu yang sudah tidak ada nilai ekonomi,” urainya.
Ketiga, parameter lingkungan. Mengacu Indeks Kualitas Lingkungan Hidup (IKLH) tahun 2025/2026, akumulasi nilai kualitas lingkungan hidup di Kukar menyentuh angka 80 atau masuk kualifikasi sedang.
“Untuk meningkatkan agar Indeks Kualitas Lingkungan Hidup kita meningkat, marilah kita bersama-sama menjaga lingkungan, dimulai dari sekitar kita melalui pemilahan sampah rumah tangga,” imbaunya.
Lewat momentum Hari Lingkungan Hidup Sedunia Tahun 2026, dirinya menyerukan seluruh komponen masyarakat untuk mengonversi kerja untuk iklim menjadi habituasi harian, bukan sekadar agenda momentum tahunan semata.
Aktivitas simpel layaknya menyortir sampah domestik, meminimalkan produksi sampah dari hulu, merawat kebersihan sekitar, hingga menanam tanaman merupakan wujud sumbangsih riil masyarakat dalam memelihara bumi.
“Melalui momentum Hari Lingkungan Hidup Se-Dunia Tahun 2026 ini, marilah kita jadikan kerja untuk iklim sebagai gaya hidup sehari-hari,” pungkasnya.(Rein/Rdk)
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0