BRIN dan UGM Temukan Mangrove Langka di Teluk Balikpapan, Diduga Berkaitan dengan Habitat Bekantan

May 28, 2026
BRIN dan UGM Temukan Mangrove Langka di Teluk Balikpapan, Diduga Berkaitan dengan Habitat Bekantan
Tim Peneliti BRIN saat meneliti Mangrov Balikpapan

KARTANEWS.COM, BALIKPAPAN — Tim peneliti gabungan dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Universitas Gadjah Mada (UGM) berhasil menemukan populasi mangrove langka jenis Camptostemon philippinensis di kawasan Teluk Balikpapan. Temuan ini sekaligus membuka babak baru dalam upaya perlindungan keanekaragaman hayati pesisir di Indonesia.

Camptostemon philippinensis bukan mangrove biasa. Spesies ini masuk dalam kategori terancam punah berdasarkan daftar merah International Union for Conservation of Nature (IUCN) dan telah berstatus dilindungi di Indonesia. Populasinya sangat terbatas, hanya tersebar di titik-titik tertentu di Kalimantan dan Sulawesi.

Tim BRIN dan UGM menemukannya di pesisir Kelurahan Pantai Lango dan Pulau Kowangan, Kabupaten Penajam Paser Utara, setelah sebelumnya menyusuri sekitar 200 kilometer kawasan mangrove Teluk Balikpapan menggunakan perahu — mulai dari Sepaku hingga pesisir kota Balikpapan.

Lebih dari 500 Individu Terdata

Penemuan pertama bermula dari satu pohon di Pulau Kowangan, yang kemudian diikuti sejumlah pohon lain di Pantai Lango. Penelusuran lanjutan dilakukan untuk memetakan jumlah individu, tahap pertumbuhan, dan distribusi spesies di habitat alaminya.

Hasil penelitian yang didanai BRIN dan LPDP melalui skema Pendanaan Ekspedisi dan Eksplorasi (2022) serta RIIM Batch II (2023–2024) mencatat 527 individu C. philippinensis di kawasan Pantai Lango, terdiri dari 452 individu berupa semaian atau anakan muda, 49 pohon dewasa, 26 pancang.

Data ini menunjukkan spesies tersebut masih memiliki kemampuan regenerasi alami yang cukup baik, meski hidup dalam habitat yang sangat terbatas.

Ancaman Nyata di Depan Mata

Peneliti di Pusat Riset Botani Terapan BRIN, Istiana Prihatini, menegaskan bahwa keberadaan spesies ini membuktikan betapa pentingnya Teluk Balikpapan sebagai kantong biodiversitas pesisir yang wajib dijaga.

"Keberadaan C. philippinensis di Teluk Balikpapan menunjukkan kawasan ini memiliki nilai biodiversitas yang sangat penting dan perlu mendapat perhatian serius dalam upaya konservasi," ujar Istiana, Selasa (26/5/2026).

Namun ancaman terhadap spesies ini nyata dan datang dari berbagai arah alih fungsi lahan, pencemaran lingkungan, pembalakan liar, hingga tekanan dari pembangunan Ibu Kota Nusantara yang berada tak jauh dari habitat spesies ini.

"Habitat C. philippinensis sangat terbatas. Jika terjadi kerusakan habitat, risiko kepunahan lokal spesies ini akan semakin besar," tegasnya.

Jejak Bekantan di Balik Daun Mangrove
Temuan menarik lain ikut menyertai penelitian ini. Tim menemukan indikasi bekas gigitan primata pada daun C. philippinensis, dan nelayan setempat yang mendampingi tim selama di lapangan juga melaporkan keberadaan kelompok bekantan (Nasalis larvatus) di sekitar kawasan tersebut.

Hal ini memunculkan dugaan adanya hubungan ekologis antara mangrove langka ini dengan bekantan — satwa endemik Kalimantan yang juga berstatus dilindungi. Penelitian lanjutan terkait kaitan keduanya dinilai mendesak untuk dilakukan.

Langkah Konservasi yang Direkomendasikan

Tim peneliti merekomendasikan sejumlah langkah konkret untuk menyelamatkan populasi mangrove langka ini, antara lain perlindungan habitat alami, restorasi kawasan mangrove yang rusak, penyimpanan material genetik, serta pengembangan konservasi ex-situ melalui perbanyakan tanaman.

Penelitian lanjutan mengenai keragaman genetik dan peran ekologis C. philippinensis juga dinilai penting sebagai fondasi strategi konservasi jangka panjang di Indonesia.

Teluk Balikpapan bukan sekadar perairan biasa, ia adalah rumah bagi kehidupan yang tak ternilai. Sudah saatnya kita jaga sebelum terlambat. (REIN/daa)

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0