Dari Hutan ke Pasar: Langkah Maju Kelompok Perempuan Berau Mengolah Ekonomi Biru
Penuloas : Rein | Editor: Dewi
KARTANEWS.COM, BERAU - Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) bersama Pemerintah Kabupaten Berau menginisiasi kegiatan bertajuk “Mangrove to Market - Pelatihan Holistik Kelompok Perempuan untuk Penguatan Kelembagaan, Produksi, dan Literasi Keuangan” pada 9–11 Februari 2026.
Program ini merupakan bagian dari skema Solutions for Marine and Coastal Resilience in the Coral Triangle (SOMACORE) yang mendapatkan dukungan penuh dari Kementerian Federal Jerman untuk Lingkungan, Aksi Iklim, Konservasi Alam, dan Keselamatan Nuklir (BMUKN) melalui International Climate Initiative (IKI).
Pendekatan ekonomi biru yang diterapkan dalam program SOMACORE ini melibatkan konsorsium dari 10 organisasi lintas negara.
Di Berau, fokus utama adalah memberikan bekal keterampilan kepada perempuan dari berbagai desa, meliputi Kampung Tabalar Muara, Pegat Batumbuk, Tubaan, Semurut, Buyung-Buyung, dan Pilanjau.
Melalui pelatihan ini, peserta tidak hanya diajarkan cara mengolah hasil perikanan dan produk berbasis mangrove, tetapi juga dibekali pemahaman mengenai tata kelola organisasi yang profesional.
Sekretaris Daerah Kabupaten Berau, Muhammad Said, menegaskan bahwa peran perempuan sangat strategis dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Menurutnya, mangrove harus dilihat sebagai penopang kehidupan yang produktif.
"Pemerintah Kabupaten Berau sangat mendukung inisiatif yang mendorong ekonomi pesisir berbasis sumber daya lokal, terutama yang melibatkan kelompok perempuan dan UMKM," ucapnya.
Ia menambahkan bahwa melalui pendekatan Mangrove to Market, masyarakat mendapatkan keterampilan praktis untuk mengembangkan usaha yang berkelanjutan secara mandiri.
Sejalan dengan hal tersebut, Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Berau, Abdul Majid, menyoroti pentingnya standar mutu dalam setiap produk yang dihasilkan.
Bagi Majid bahwa produksi tidak boleh berdiri sendiri tanpa memperhatikan kelestarian lingkungan dan manajemen kelompok yang kuat.
“Kita harus memastikan praktiknya ramah lingkungan, produknya memenuhi standar mutu, dan kelompoknya memiliki manajemen yang kuat,” tutur Majid.
Dengan standar yang terjaga, hasil olahan mangrove dan perikanan diharapkan memiliki daya saing yang lebih tinggi di pasar luas.
Manajer Senior Ekonomi Biru YKAN, Kiki Anggraini, menjelaskan bahwa keberhasilan ekonomi pesisir sangat bergantung pada kapasitas perempuan dalam mengelola keuangan usaha mereka.
Jika kelembagaan kuat dan pencatatan keuangan rapi, dampak positifnya akan langsung dirasakan oleh kesejahteraan keluarga.
“Pendekatan Mangrove to Market memastikan bahwa pemanfaatan sumber daya alam berjalan seiring dengan upaya konservasi,” ungkap Kiki.
Manfaat nyata dari pelatihan ini dirasakan langsung oleh para peserta, salah satunya Riska Febriani dari Kelompok Pengolah dan Pemasar (Poklahsar) Kerjasama Jaya, Kampung Pegat Batumbuk. Riska mengaku mendapatkan perspektif baru mengenai cara mengelola usaha tanpa harus mengeksploitasi alam secara berlebihan.
“Kami jadi lebih memahami bagaimana memanfaatkan mangrove tanpa merusaknya, sekaligus belajar cara mengelola usaha dengan lebih rapi, mulai dari produksi sampai pencatatan keuangan,” katanya.
Harapannya, setelah pelatihan ini berakhir, pendampingan yang berkelanjutan akan terus dilakukan.
Kelompok-kelompok perempuan di enam kampung tersebut diharapkan tidak hanya mampu memproduksi barang berkualitas, tetapi juga menjadi penggerak utama dalam menjaga kelestarian hutan mangrove di Kabupaten Berau untuk generasi mendatang.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0