Mukjizat di Labirin Hijau, 36 Jam Bertahan Hidup di Hutan Bakau

May 26, 2026
Mukjizat di Labirin Hijau, 36 Jam Bertahan Hidup di Hutan Bakau

KARTANEWS.COM, BERAU – Sabtu sore 23 Mei 2026, langit di atas Kampung Batu Putih, Kabupaten Berau, tampak bersahabat seperti biasa. Suriansyah (47), seorang nelayan yang menggantungkan hidupnya pada kemurahan lautan, berpamitan kepada sang istri sekitar pukul tiga sore.

Dia membawa pancing dan jala, bekal seadanya, dan sejuta harapan, ia mendorong perahu kayunya membelah ombak laut pesisir berau. Tak ada yang menduga, lambaian tangan hari itu akan menjadi awal dari drama mencekam sepanjang 36 jam berikutnya.

​Minggu pagi berganti, namun sauh belum juga diturunkan Suriansyah di pelabuhan rumah. Kegelisahan mulai merayap di benak keluarga. Pukul delapan pagi, dering telepon genggam memecah keheningan. Ardiansyah (41), sesama rekan nelayan, menelepon dengan nada cemas untuk memastikan apakah Suriansyah sudah kembali ke rumah.

Mendengar jawaban bahwa suaminya belum pulang, Ardiansyah langsung memacu perahunya menuju titik koordinat Lat 1.397498 Long 118.445408—sebuah lokasi di tengah laut tempat sahabatnya biasa melemparkan umpan pancing.

​Setibanya di sana, dada Ardiansyah berdegup kencang. Ia hanya menemukan perahu kayu milik korban terapung-apung sendirian, menari pelan dipermainkan ombak. Di atas perahu, alat pancing tergeletak rapi. Namun, sang pemilik raib tanpa jejak.
​Solidaritas di Atas Gelombang
​Kabar hilangnya Suriansyah menyebar secepat angin laut. Rohid, sang adik ipar, langsung berlari menuju Pos Polairud Batu Putih dengan napas memburu untuk membuat laporan resmi. Respons yang lahir setelahnya adalah bukti nyata betapa kuatnya ikatan persaudaraan masyarakat pesisir Berau.

​Dalam hitungan jam, perairan Batu Putih yang biasanya tenang berubah riuh. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Berau bersama Basarnas langsung turun tangan memimpin operasi pencarian.

Kekuatan sejati malam itu lahir dari rahim masyarakat sendiri. Sebanyak 31 perahu nelayan kecil, dua unit speedboat cepat, dan satu kapal besar milik warga lokal secara sukarela merapatkan barisan. Mereka membelah malam, menyorotkan senter ke permukaan air, menolak menyerah pada takdir buruk.

"Di laut, kami adalah keluarga. Jika satu orang hilang, semua merasa kehilangan pegangan. Kami tidak akan pulang sebelum dia ditemukan," lirih salah seorang nelayan di lapangan.

Titik Terang di Labirin Hijau

Memasuki hari kedua, Senin, 25 Mei 2026, ketegangan kian memuncak. Petugas BPBD seperti Eko Triyanto, Iskandar, Sahril, dan Lukman Hakim mematangkan strategi pasca-apel pagi pukul sembilan. Radius pencarian dipersempit, fokus diarahkan dalam lingkaran 500 meter dari tempat perahu tak bertuan itu ditemukan.

​Tepat pukul 13.47 WITA, mukjizat itu akhirnya datang. Di sela-sela akar bakau yang saling melilit rapat di pinggiran hutan mangrove, mata jeli seorang nelayan menangkap sesosok bayangan manusia.

​Itu Suriansyah. Tubuhnya lemas, pakaiannya basah kuyup oleh air asin, dan wajahnya menyiratkan kelelahan yang luar biasa setelah melewati dinginnya malam tanpa perlindungan. Selama hampir 36 jam, ia bertahan hidup di tengah kepungan nyamuk dan pasang surut air laut di labirin hijau tersebut.

​Sorak haru seketika pecah di tengah laut. Tubuh ringkih Suriansyah segera diangkat dengan penuh kehati-hatian ke atas kapal dan dilarikan menuju Pelabuhan Posko Gabungan SAR Batu Putih untuk mendapatkan pertolongan medis darurat.

​Menyisakan Tanya

​Meskipun kegembiraan meluap karena Suriansyah berhasil pulang dalam keadaan bernyawa, kisah ini belum sepenuhnya usai. Hingga saat ini, perahu kayu dan perlengkapan memancingnya masih tertambat di Pos Polairud Batu Putih sebagai saksi bisu dari malam yang panjang itu.

​Di sudut Sub Sektor Batu Putih, polisi masih mengumpulkan serpihan cerita dengan memeriksa Ardiansyah, Muksir, dan Rohid.
Mereka mencari jawaban atas satu pertanyaan besar: Bagaimana bisa seorang nelayan berpengalaman tiba-tiba terpisah dari perahunya dan berakhir di dalam pekatnya hutan bakau?

Bagi warga Batu Putih, misteri itu urusan nanti yang terpenting, malam ini, satu kursi di meja makan rumah Suriansyah tidak lagi kosong. Ia telah kembali dari pelukan sunyi lautan.(Rein/daa)

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0