Pantau Penyu di Berau, KKP dan YKAN Terbangkan Pesawat Nirawak Beresolusi Tinggi
KARTANEWS.COM, BERAU – Langkah modern diambil oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Balai Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut (BPSPL) Pontianak bersama Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN).
Mereka resmi mengintegrasikan teknologi pesawat nirawak (drone) untuk memantau konservasi penyu kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur.
Aksi kolaboratif ini juga menggandeng Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Kaltim serta kelompok masyarakat pegiat konservasi setempat. Fokus utama mereka adalah memantau populasi penyu di pulau-pulau kecil seperti Kepulauan Derawan dan Perairan sekitarnya (KKP3K KDPS).
Kepala BPSPL Pontianak-KKP, Syarif Iwan Taruna Alkadrie, menjelaskan bahwa intervensi teknologi ini terbukti memangkas waktu pemantauan sekaligus memberikan hasil yang jauh lebih presisi.
"Pemanfaatan teknologi pesawat nirawak membantu menghasilkan data yang lebih akurat dan efisien untuk mendukung pengelolaan kawasan konservasi," ujar Syarif Iwan di Berau, Minggu (24/05)
Syarif menambahkan, pemantauan udara ini mampu menjangkau area-area terisolasi yang selama ini sulit diakses secara manual. Data detail yang dikumpulkan nantinya akan menjadi fondasi penting bagi pemerintah dalam mengambil kebijakan berbasis ilmiah (science-based policy) demi kelestarian kawasan tersebut.
Melalui survei udara yang telah berjalan, tim gabungan berhasil memetakan habitat penyu di 12 lokasi berbeda. Berkat kamera beresolusi tinggi dengan tingkat ketelitian spasial mencapai 1,5 hingga 5 sentimeter, peneliti dapat membedakan objek penyu dengan benda laut lainnya secara akurat.
Citra udara tersebut berhasil menangkap aktivitas visual penyu di beberapa ekosistem krusial, seperti perairan dangkal, padang lamun, serta darea terumbu karang. Dari hasil pemindaian teknologi ini, tim sukses mengidentifikasi sebanyak 913 individu penyu yang tersebar di wilayah perairan KKP3K KDPS.
Manajer Senior Perlindungan Laut YKAN, Yusuf Fajariyanto, menegaskan bahwa kunci sukses konservasi jangka panjang berada pada kombinasi antara teknologi mutakhir dan partisipasi aktif warga.
Baginya, pemerintah atau lembaga konservasi tidak bisa bergerak sendiri. Masyarakat pesisirlah yang memegang peran sentral karena mereka hidup berdampingan langsung dengan habitat satwa dilindungi tersebut.
"Temuan sebanyak 913 individu penyu di KKP3K KDPS tersebut memperlihatkan bahwa wilayah ini merupakan habitat penting yang perlu terus dijaga bersama," pungkasnya.(rein/daa)
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0