KPID Kaltim Dorong Kolaborasi Radio dan Televisi dengan Media Sosial Hadapi Perubahan Perilaku Audiens

Aug 1, 2026
KPID Kaltim Dorong Kolaborasi Radio dan Televisi dengan Media Sosial Hadapi Perubahan Perilaku Audiens
Awang Jumri, Ketua KPID Kaltim (Dok: Istimewa)

KARTANEWS.COM, SAMARINDA – Perubahan pola konsumsi informasi masyarakat yang kini beralih ke platform digital menjadi tantangan besar bagi lembaga penyiaran konvensional. Menyikapi kondisi tersebut, Komisi Penyuaran Indonesia Daerah (KPID) Kalimantan Timur mendorong radio dan televisi untuk membangun kolaborasi yang lebih erat dengan media sosial agar tetap mampu menjangkau masyarakat luas.

Ketua KPID Kalimantan Timur, Awang Mohammad Jumri Syafi'i, menilai perkembangan teknologi tidak seharusnya dipandang sebagai ancaman, melainkan peluang bagi lembaga penyiaran untuk memperluas jangkauan siaran melalui berbagai platform digital.

Menurutnya, kebiasaan masyarakat dalam mengakses informasi telah berubah secara signifikan. Jika sebelumnya radio dan televisi menjadi sumber utama dan hiburan, kini masyarakat, khususnya generasi muda, lebih banyak menghabiskan waktu di platform digital seperti Instagram informasi, Facebook, hingga berbagai layanan media sosial lainnya.

“Kami berharap bisa terus berkolaborasi dengan media sosial. Kalau sekarang hanya mengandalkan frekuensi siaran saja, kemungkinan jumlah pendengar dan penonton bisa semakin berkurang karena sudah memiliki banyak pilihan platform digital,” ujar Awang belum lama ini.

Ia menjelaskan bahwa keberadaan media sosial tidak perlu diposisikan sebagai pesaing radio maupun televisi. Sebaliknya, media sosial dapat menjadi sarana promosi sekaligus pintu masuk untuk mengajak masyarakat kembali menikmati konten yang diproduksi oleh lembaga Penerbitan konvensional.

Menurut Awang, strategi tersebut penting dilakukan mengingat perubahan perilaku masyarakat dalam memperoleh informasi berlangsung sangat cepat. Konten-konten yang dipublikasikan melalui media sosial dapat menjadi jembatan bagi publik untuk mengenal program-program radio maupun televisi yang berkualitas.

“Kita ingin menggalang teman-teman media sosial untuk menarik kembali pendengar dan penonton agar mengenal bahkan menikmati siaran radio maupun televisi. Jadi bukan saling bersaing, tetapi saling memperkuat,” katanya.

Ia menambahkan, pola kemitraan seperti itu telah mulai dibangun KPID Kalimantan Timur melalui komunikasi dengan berbagai pengelola media digital dan kreator konten di daerah. Langkah tersebut dinilai menjadi bagian dari adaptasi lembaga penyiaran terhadap perkembangan informasi teknologi yang terus berubah.

Awang menyebut, kolaborasi lintas platform merupakan kebutuhan yang tidak bisa dihindari apabila industri penyiaran ingin tetap bertahan di tengah derasnya arus digitalisasi. Radio dan televisi tetap memiliki keunggulan dalam menghadirkan informasi yang telah melalui proses penyuntingan, verifikasi, serta berada di bawah pengawasan penyiaran.

Di sisi lain, media sosial memiliki keunggulan dalam kecepatan distribusi informasi dan kemampuan menjangkau berbagai kelompok masyarakat secara lebih luas. Oleh karena itu, menurutnya, kedua platform tersebut dapat saling melengkapi.

“Kolaborasi itu sangat mungkin dibangun. Kita bisa terjadi dengan teman-teman media sosial maupun platform over-the-top atau OTT sebagaimana istilah yang digunakan di Kementerian Komunikasi dan Digital,” jelasnya.

Lebih lanjut, Awang mengatakan transformasi digital harus direspons dengan inovasi oleh seluruh lembaga penyiaran di Kalimantan Timur. Tidak cukup hanya mengandalkan pola siaran konvensional, tetapi juga harus mampu menghadirkan konten yang mudah diakses melalui perangkat digital.

Ia berharap setiap stasiun radio maupun televisi mulai memperkuat kehadiran mereka di berbagai platform media sosial melalui potongan siaran, tayangan langsung, maupun konten-konten kreatif yang mampu menarik perhatian masyarakat, khususnya kalangan muda.

Menurutnya, keberhasilan lembaga penyiaran pada masa mendatang tidak hanya diukur dari kekuatan frekuensi siaran, tetapi juga dari kemampuan membangun ekosistem digital yang terintegrasi dengan berbagai platform komunikasi modern.

KPID Kalimantan Timur, kata Awang, siap menjadi mitra bagi seluruh lembaga Penerbitan dalam mendorong transformasi tersebut. Pendampingan, komunikasi, hingga penguatan kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan akan terus dilakukan agar industri penyiaran daerah mampu berkembang di tengah persaingan media digital yang semakin ketat.

Ia optimistis radio dan televisi tetap memiliki masa depan apabila mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan prinsip-prinsip jurnalistik dan penyiaran yang sehat.

“Yang terpenting adalah bagaimana kita membangun kemitraan dan kolaborasi. Dengan begitu, masyarakat tetap mendapatkan informasi yang berkualitas melalui radio maupun televisi, sementara media sosial menjadi ruang untuk memperluas jangkauan tersebut,” tutupnya. (Irla)

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0