Teknologi Drone dan Kolaborasi Internasional Perkuat Perlindungan Penyu di Pulau Derawan
Penulis: Mursyidah Auni | Editor: Dewi
KARTANEWS.COM, BERAU – Upaya pelestarian penyu di Kepulauan Derawan, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, semakin diperkuat melalui kolaborasi regional dan pemanfaatan teknologi pemantauan udara.
Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) bersama enam negara dalam kawasan Segitiga Terumbu Karang (Coral Triangle) mendorong langkah terpadu guna menjaga keberlanjutan populasi penyu dan ekosistem pesisir.
Enam negara yang tergabung dalam Coral Triangle Initiative (CTI) meliputi Indonesia, Malaysia, Filipina, Papua Nugini, Timor Leste, dan Kepulauan Solomon. Kawasan ini dikenal sebagai pusat keanekaragaman hayati laut dunia dan menjadi habitat penting bagi berbagai spesies penyu.
Manajer Senior Perlindungan Laut YKAN, Yusuf Fajariyanto, mengatakan bahwa konservasi di Derawan dilakukan melalui pendekatan kolaboratif dengan melibatkan masyarakat pesisir serta dukungan teknologi Unmanned Aerial Vehicle (UAV).
“Dalam mendukung upaya pelestarian penyu di Kepulauan Derawan, Kabupaten Berau, selain melibatkan warga lokal kami juga memanfaatkan teknologi Unmanned Aerial Vehicle atau UAV,” ujarnya, diikutip dari Antara, Selasa (24/2/2026).
Yusuf menambahkan, pada Oktober 2025 telah dilakukan survei udara menggunakan drone untuk memetakan sebaran penyu, memperkirakan populasi, serta mengidentifikasi penggunaan habitat di kawasan perairan. Data yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan pendekatan Sea Turtle Nesting Beach Indicator Tools.
“Penggunaan UAV memungkinkan pengumpulan data spasial beresolusi tinggi dengan jangkauan luas serta lebih efisien dari sisi waktu dan biaya,” katanya.
Menurut Yusuf, integrasi antara teknologi dan pemantauan berbasis masyarakat menjadi elemen kunci dalam penyusunan rencana aksi perlindungan penyu di Kawasan Konservasi Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Kepulauan Derawan dan Perairan Sekitarnya (KKP3K KDPS).
“Konservasi penyu merupakan kerja jangka panjang. Ketika masyarakat, pemerintah, dan mitra pembangunan berjalan bersama, kita tidak hanya melindungi penyu, tetapi juga menjaga masa depan ekosistem pesisir bagi generasi mendatang,” ujarnya.
Dukungan terhadap program ini juga datang dari Kementerian Federal Jerman untuk Lingkungan, Aksi Iklim, Konservasi Alam, dan Keselamatan Nuklir (BMUKN) melalui skema International Climate Initiative.
Sementara itu, Kepala Balai Pengelolaan Kelautan Pontianak, Syarif Iwan Taruna Alkadrie, menegaskan bahwa perlindungan penyu memiliki landasan hukum yang kuat, baik di tingkat nasional maupun internasional.
“Di tingkat nasional seluruh jenis penyu dilindungi penuh berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 dan diperkuat dengan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 66 Tahun 2025,” ujarnya dalam keterangan resminya di laman resmi YKAN.
Ia menjelaskan, penyu juga masuk dalam CITES Appendix I serta Daftar Merah IUCN dengan status terancam hingga kritis, sehingga tidak boleh ditangkap, diperdagangkan, atau dimanfaatkan dalam bentuk apa pun.
“Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dengan lebih dari 17.500 pulau dan kawasan laut yang menjadi rumah bagi keanekaragaman hayati global, termasuk penyu laut. Dari tujuh spesies penyu di dunia, enam di antaranya ditemukan di perairan Indonesia,” ujarnya.
Kepulauan Derawan sendiri memiliki posisi strategis dalam peta konservasi penyu. Pulau Sangalaki dan Derawan dikenal sebagai lokasi peneluran penting bagi penyu hijau (Chelonia mydas) dan penyu sisik (Eretmochelys imbricata).
Pantai berpasir putih dengan kemiringan landai, minim gangguan cahaya buatan, serta perairan yang relatif tenang menjadikan kawasan ini ideal sebagai lokasi bertelur penyu.
Pulau Sangalaki bahkan kerap disebut sebagai salah satu lokasi peneluran penyu hijau terbesar di Asia Tenggara. Pada musim puncak, puluhan indukan dapat mendarat dalam satu malam untuk bertelur.
Selain itu, ketersediaan padang lamun dan terumbu karang yang sehat di sekitar perairan Derawan menyediakan sumber pakan alami yang melimpah, mendukung siklus hidup penyu dari fase juvenil hingga dewasa.
Keunggulan ekologis tersebut menjadikan Derawan bukan hanya destinasi wisata bahari, tetapi juga benteng penting bagi keberlanjutan populasi penyu di tingkat regional dan global. Kolaborasi lintas negara, dukungan regulasi, serta partisipasi aktif masyarakat menjadi fondasi utama untuk memastikan spesies purba ini tetap lestari di perairan Kalimantan Timur.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0