Mengenal Suku Punan Batu, Komunitas Peramu di Pedalaman Hutan Kalimantan

Penulis : Mursyidah Auni | Editor : Dewi

Mar 30, 2026 - 13:59
Mar 30, 2026 - 15:20
 0  3
Mengenal Suku Punan Batu, Komunitas Peramu di Pedalaman Hutan Kalimantan
Sekelompok laki-laki dan perempuan Punan di dermaga di sebuah sungai di Kalimantan (dok.BBC Indonesia/ist)

KARTANEWS.COM, KALIMANTAN — Suku Punan Batu dikenal sebagai salah satu komunitas adat yang masih mempertahankan pola hidup berburu dan meramu di pedalaman hutan Kalimantan. 

Kelompok ini kerap disebut sebagai representasi terakhir dari tradisi hidup nomaden yang bergantung langsung pada alam tanpa sistem pertanian menetap.

Melansir dari Tempo.co, keberadaan Punan Batu tersebar di kawasan hutan Kalimantan Timur, termasuk wilayah terpencil dan terisolasi di Kabupaten Berau. 

Mereka hidup berpindah-pindah dengan memanfaatkan sumber daya hutan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, mulai dari berburu hewan hingga mengumpulkan hasil hutan.

Data sensus yang dilakukan pada 2003–2004 mencatat populasi Punan di Kalimantan Timur sekitar 8.956 jiwa. 

Angka tersebut diperkirakan telah mencakup sebagian besar populasi, meskipun peneliti masih membuka kemungkinan adanya kelompok kecil yang belum terdata karena hidup terisolasi di kawasan hutan yang sulit dijangkau.

Dalam kehidupan sehari-hari, sebagian anggota Punan Batu diketahui telah mengenal bahasa Melayu sebagai sarana komunikasi dengan masyarakat luar. 

Hal ini menunjukkan adanya interaksi terbatas dengan komunitas di sekitarnya, meski mereka tetap mempertahankan identitas budaya sendiri.

Secara kultural, Punan Batu memiliki perbedaan mendasar dengan kelompok Dayak yang umumnya hidup menetap dan mengandalkan sistem berladang. Punan Batu justru mengandalkan mobilitas tinggi dengan pola hidup berburu dan meramu sebagai sumber utama penghidupan.

Penelitian genetika juga menunjukkan perbedaan asal-usul antara Punan Batu dan kelompok masyarakat Kalimantan lainnya. 

Studi yang melibatkan peneliti dari dalam dan luar negeri mengungkap bahwa Punan Batu memiliki jejak genetika pra-Austronesia yang diperkirakan telah hadir di Kalimantan sejak ribuan tahun lalu, jauh sebelum gelombang masyarakat bercocok tanam datang di wilayah ini.

Mobilitas menjadi bagian penting dalam kehidupan mereka. Kelompok ini biasanya hanya menetap sementara di satu lokasi, seperti gua atau pondok sederhana, selama beberapa hari sebelum berpindah pada tempat lain dalam radius tertentu untuk mencari sumber makanan baru.

Dari sisi lain, Punan Batu juga memiliki sistem bahasa khas yang dikenal sebagai bahasa Latala. Bahasanya digunakan secara terbatas dalam komunitas, kerap disampaikan dalam bentuk nyanyian atau komunikasi internal yang tidak dipahami oleh masyarakat luar.

Menariknya, mereka juga mengembangkan sistem komunikasi nonverbal menggunakan tanda-tanda alam, seperti ranting dan daun. Tanda tersebut digunakan untuk menyampaikan pesan kepada kelompok lain, misalnya sebagai peringatan bahaya atau permintaan bantuan.

Keberadaan Suku Punan Batu menjadi perhatian berbagai pihak karena dinilai sebagai bagian penting dari kekayaan budaya dan pengetahuan tradisional. 

Pada arus modernisasi, komunitas ini tetap bertahan dengan cara hidup yang diwariskan secara turun-temurun, sekaligus menjadi pengingat akan keberagaman cara manusia beradaptasi dengan lingkungan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0