Mengenal Suku Banua: Jejak Sejarah dan Identitas Pesisir Berau

Penulis: Mursyidah Auni | Editor: Dewi

Mar 2, 2026 - 16:21
Mar 2, 2026 - 17:12
 0  5
Mengenal Suku Banua: Jejak Sejarah dan Identitas Pesisir Berau
Pakaian adat Banua Berau (Istimewa)

KARTANEWS.COM, BERAU – Tahukah kamu bahwa identitas masyarakat pesisir Berau yang dikenal sebagai Suku Banua terbentuk dari pertemuan panjang berbagai etnis di Kalimantan Timur?

Sebagai “Orang Berau asli” tersimpan sejarah akulturasi yang membentuk peradaban khas di wilayah pesisir ini.

Istilah “banua” dalam rumpun bahasa Austronesia berarti negeri, tanah air, atau wilayah tempat bermukim.

Dalam konteks Berau sendiri, istilah ini merujuk pada komunitas masyarakat pesisir yang berkembang di kawasan muara sungai dan garis pantai, terutama di sekitar Sungai Kelay dan Sungai Segah yang bermuara ke Laut Sulawesi.

Jejak Historis

Secara antropologis, Suku Banua bukanlah kelompok etnis yang terbentuk secara homogen. Identitas Banua lahir dari proses akulturasi panjang antara penduduk asli pedalaman Kalimantan dengan para pendatang yang datang melalui jalur perdagangan maritim.

Penduduk Dayak, khususnya dari kelompok Setulung dan Segai, diyakini sebagai bagian awal komunitas yang kemudian berinteraksi dengan masyarakat pesisir.

Seiring dengan berkembangnya jalur perdagangan pada abad pertengahan, wilayah Berau mulai didatangi pedagang Melayu dari Sumatera dan Semenanjung Malaya, serta pelaut Bugis dan Jawa yang aktif dalam jaringan niaga Nusantara.

Pertemuan berbagai etnis tidak berlangsung secara konfrontatif, melainkan melalui proses adaptasi sosial dan perkawinan antarkelompok. Penyebaran Islam yang masuk melalui jaringan perdagangan menjadi faktor pemersatu yang signifikan.

Agama ini tidak hanya membentuk sistem kepercayaan, tetapi juga memengaruhi struktur pemerintahan, hukum adat, pendidikan, hingga seni dan budaya masyarakat.

Kerajaan Berau dan Transformasi Politik

Sejarah Suku Banua tidak dapat dipisahkan dari berdirinya Kerajaan Berau yang diperkirakan muncul pada abad ke-14. Tradisi lisan menyebut Badrullah Edau yang kemudian dikenal sebagai Aji Raden Suryanata Kesuma sebagai pendiri awal kerajaan.

Kerajaan Berau berkembang sebagai pusat kekuasaan politik dan perdagangan di pesisir timur Kalimantan. Letaknya yang strategis menjadikan wilayah ini bagian dari jaringan perdagangan yang menghubungkan Kalimantan, Sulawesi, hingga wilayah Semenanjung Malaya.

Pada abad ke-19, dinamika politik internal serta pengaruh kolonial Belanda menyebabkan Kerajaan Berau terpecah menjadi dua entitas pemerintahan, yakni Kesultanan Sambaliung dan Kesultanan Gunung Tabur.

Kedua kesultanan memiliki wilayah kekuasaan yang dipisahkan oleh aliran sungai dan berkembang sebagai pusat adat serta kebudayaan Banua.

Arsitektur keraton yang masih berdiri hingga kini menjadi bukti kejayaan sistem pemerintahan tradisional tersebut. Bangunan-bangunan itu memperlihatkan perpaduan arsitektur lokal, pengaruh Melayu, serta unsur Islam yang kuat.

Bahasa sebagai Identitas Kolektif

Bahasa Berau atau Dialek Banua menjadi salah satu penanda identitas masyarakat pesisir ini. Secara linguistik, bahasa tersebut termasuk dalam rumpun Melayu dan memiliki kedekatan dengan Bahasa Kutai serta Banjar. Namun, terdapat kosakata dan intonasi khas yang dipengaruhi bahasa Dayak lokal maupun bahasa pesisir seperti Suluk dan Bajau.

Dalam praktiknya, terdapat variasi dialek di wilayah Berau, antara lain dialek Banua yang dominan di kawasan pusat kota dan pesisir, dialek pesisir dengan pengaruh komunitas maritim, serta dialek hulu yang berkembang di wilayah yang lebih dekat dengan pedalaman.

Bahasa ini tidak hanya menjadi sarana komunikasi, tetapi juga simbol kesinambungan sejarah dan identitas budaya masyarakat Banua.

Tradisi Bahari dan Struktur Sosial

Letak geografis Berau di kawasan muara sungai membentuk karakter masyarakat Banua sebagai komunitas maritim. Sejak masa kerajaan, masyarakat pesisir berperan sebagai pelaut, nelayan, sekaligus pedagang yang menjadi perantara hasil hutan dari pedalaman dengan pedagang luar.

Komoditas seperti rotan, damar, sarang burung walet, dan hasil laut menjadi bagian dari aktivitas ekonomi tradisional. Posisi ini menjadikan masyarakat Banua sebagai penghubung penting antara dunia pedalaman Dayak dan jaringan perdagangan regional.

Dalam kehidupan sosial, nilai-nilai Islam berpadu dengan adat lokal. Tradisi seperti Manutung Jukut, yakni kegiatan membakar ikan secara bersama-sama sebagai simbol kebersamaan dan rasa syukur, masih dikenal hingga kini.

Selain itu, Tari Dalling menjadi representasi seni pertunjukan yang mencerminkan pengaruh budaya pesisir dan Melayu.

Struktur sosial pada masa kesultanan mengenal stratifikasi bangsawan dan rakyat, namun dalam praktik kehidupan sehari-hari, nilai musyawarah dan kekeluargaan tetap menjadi prinsip utama dalam penyelesaian persoalan sosial.

Peran dalam Dinamika Modern Berau

Memasuki era modern, identitas Suku Banua tetap menjadi bagian penting dalam dinamika sosial Kabupaten Berau. Meski terjadi urbanisasi dan masuknya berbagai kelompok etnis lain, warisan budaya Banua tetap terlihat dalam bahasa sehari-hari, tradisi adat, hingga struktur sosial masyarakat.

Keberadaan keraton sebagai situs sejarah dan museum menjadi pusat pelestarian memori kolektif. Selain itu, berbagai festival budaya dan kegiatan adat turut menjaga kesinambungan nilai-nilai lokal di tengah perubahan zaman.

Suku Banua mencerminkan bagaimana pertemuan berbagai etnis dapat melahirkan identitas baru yang adaptif dan inklusif. Unsur Dayak, Melayu, Bugis, dan Jawa yang melebur dalam satu tatanan sosial membentuk karakter masyarakat pesisir Berau yang terbuka terhadap perubahan, namun tetap menjaga akar sejarahnya.

Sebagai bagian dari mozaik etnis Kalimantan Timur, Suku Banua tidak hanya menjadi penanda identitas lokal tetapi juga simbol harmoni budaya dalam lintasan sejarah panjang Nusantara.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0