Makna Nyepi, Dari Tradisi Kuno hingga Aksi Nyata Lestarikan Lingkungan

Penulis : Mursyidah Auni | Editor : Dewi

Mar 18, 2026 - 14:33
Mar 18, 2026 - 17:20
 0  3
Makna Nyepi, Dari Tradisi Kuno hingga Aksi Nyata Lestarikan Lingkungan
Upacara Melasti dalam perayaan Nyepi (istimewa)

KARTANEWS.COM, DENPASAR – Hari Raya Nyepi merupakan peringatan Tahun Baru Saka bagi umat Hindu di Indonesia yang dijalankan dengan cara berbeda dari perayaan tahun baru pada umumnya.

Jika sebagian besar perayaan identik dengan kemeriahan, Nyepi justru dilaksanakan dalam suasana hening total selama 24 jam sebagai bentuk refleksi diri dan penyucian lahir batin.

Berdasarkan informasi yang dikutip dari laman resmi Kementerian Agama NTT serta buku Beragama Tanpa Rasa Takut tulisan Gede Agus Siswadi dan I Dewa Ayu Puspadewi, secara historis, Nyepi berakar dari tradisi India kuno yang berkaitan dengan penanggalan Saka yang dimulai sejak tahun 78 Masehi.

Periode tersebut merujuk pada masa pemerintahan Raja Kaniska I yang dikenal berhasil menyatukan berbagai kelompok yang sebelumnya terlibat konflik, peristiwa ini kemudian dimaknai sebagai simbol perdamaian dan persatuan. Selanjutnya berkembang menjadi bagian dari tradisi keagamaan Hindu, termasuk di Nusantara setelah masuknya pengaruh budaya dan ajaran Hindu pada masa kerajaan-kerajaan kuno.

Dalam perkembangannya di Indonesia, khususnya Bali, Nyepi tidak hanya dipahami sebagai pergantian tahun, tetapi juga sebagai momentum spiritual untuk melakukan introspeksi diri.

Istilah Nyepi sendiri berasal dari kata “sepi” yang menggambarkan kondisi hening, di mana umat Hindu menghentikan berbagai aktivitas duniawi untuk memusatkan perhatian pada penyucian diri dan keseimbangan hidup.

Makna filosofis Nyepi mencakup upaya membersihkan diri dari perilaku negatif selama setahun terakhir sekaligus memperbaiki kualitas diri untuk menjalani kehidupan yang lebih baik ke depan.

Selain itu, penghentian aktivitas manusia selama satu hari penuh juga dimaknai sebagai bentuk penghormatan terhadap alam dengan memberikan waktu bagi lingkungan untuk beristirahat dari berbagai aktivitas yang berpotensi menimbulkan kerusakan.

Pelaksanaan Nyepi ditandai dengan penerapan Catur Brata Penyepian yang dijalankan selama 24 jam sejak matahari terbit hingga keesokan harinya.

Ada empat pantangan saat Nyepi, meliputi amati geni atau tidak menyalakan api dan lampu, amati karya atau tidak bekerja, amati lelungan atau tidak bepergian, serta amati lelanguan atau tidak menikmati hiburan, seluruh ketentuan ini dijalankan secara disiplin oleh umat Hindu sebagai bentuk pengendalian diri dan pendalaman spiritual.

Rangkaian perayaan Nyepi diawali dengan upacara Melasti yang dilaksanakan beberapa hari sebelumnya, prosesi ini bertujuan menyucikan diri dan benda-benda sakral dengan membawa pratima ke sumber air seperti laut atau danau yang dipercaya sebagai sumber kehidupan.

Selanjutnya umat Hindu melaksanakan Tawur Kesanga yang bertujuan menyeimbangkan unsur alam serta menetralisir kekuatan negatif.

Pada malam menjelang Nyepi, masyarakat menggelar tradisi Pengrupukan yang ditandai dengan pawai Ogoh-ogoh, patung raksasa yang melambangkan sifat buruk manusia diarak keliling desa sebelum akhirnya dimusnahkan, prosesi ini menjadi simbol pembersihan diri dari energi negatif agar pelaksanaan Nyepi berlangsung dalam keadaan suci.

Setelah Hari Nyepi, umat Hindu melanjutkan dengan Ngembak Geni yang menjadi momen untuk mempererat hubungan sosial melalui kegiatan saling memaafkan dan bersilaturahmi.

Tradisi ini, mencerminkan nilai kebersamaan dan keharmonisan dalam kehidupan bermasyarakat, di beberapa wilayah di Bali juga terdapat tradisi khas seperti Omed-omedan yang menjadi bagian dari kearifan lokal.

Selain memiliki nilai spiritual yang kuat, Nyepi juga memberikan dampak nyata terhadap lingkungan, penghentian aktivitas secara menyeluruh selama satu hari mampu menekan penggunaan energi listrik serta mengurangi emisi gas rumah kaca, kondisi ini menunjukkan bahwa tradisi keagamaan dapat berjalan selaras dengan upaya pelestarian lingkungan.

Rangkaian makna sejarah, filosofi, serta praktik yang dijalankan secara konsisten, Nyepi tidak hanya menjadi identitas umat Hindu tetapi juga menjadi simbol kearifan lokal Indonesia yang mencerminkan harmoni antara manusia, alam, dan nilai-nilai spiritual di tengah kehidupan modern.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0