Menyusuri Jejak Peradaban Islam di Berbagai Belahan Dunia
Penulis: Mursyidah Auni | Editor: Dewi
KARTANEWS.COM - Bulan Ramadan tidak hanya dimaknai sebagai periode ibadah puasa bagi umat Islam, tetapi juga menjadi momentum yang menghadirkan atmosfer spiritual khas di berbagai kota bersejarah dunia.
Di sejumlah negara dengan warisan peradaban Islam yang kuat, Ramadhan menghadirkan perpaduan antara tradisi keagamaan, budaya lokal, dan denyut kehidupan masyarakat yang berbeda dibanding bulan-bulan lainnya.
Sejumlah destinasi internasional kerap menjadi pilihan wisatawan yang ingin menggabungkan perjalanan spiritual dengan eksplorasi sejarah.
Berikut beberapa negara yang dikenal memiliki kekayaan sejarah Islam sekaligus suasana Ramadan yang semarak:
Turki: Harmoni Warisan Ottoman dan Bizantium
Turki, khususnya Istanbul, menjadi salah satu pusat peradaban penting dalam sejarah Islam. Kota yang berada di dua benua ini menyimpan jejak Kekhalifahan Utsmaniyah sekaligus peninggalan Bizantium.
Kawasan Sultanahmet menjadi titik utama aktivitas Ramadan. Masjid Biru (Sultan Ahmed) dan Hagia Sophia, masyarakat dan wisatawan dapat merasakan suasana buka puasa bersama yang digelar di ruang terbuka. Tradisi iftar sofrasi atau jamuan berbuka massal di taman kota masih dipertahankan hingga kini.
Selain itu, penabuh drum tradisional yang berkeliling membangunkan warga untuk sahur menjadi simbol kesinambungan tradisi sejak era Ottoman.
Pemerintah Turki juga biasanya menyelenggarakan festival budaya Ramadan, termasuk bazar kuliner, pertunjukan kaligrafi, hingga musik religi, yang memperkaya pengalaman spiritual pengunjung.
Mesir: Jejak Keilmuan dan Cahaya Lentera
Kairo kerap disebut sebagai “Kota Seribu Menara” karena banyaknya masjid bersejarah yang berdiri sejak abad pertengahan. Masjid Al-Azhar yang berdiri sejak abad ke-10, menjadi salah satu pusat keilmuan Islam tertua di dunia.
Kawasan Kairo Islam (Islamic Cairo) yang masuk daftar Warisan Dunia UNESCO menampilkan arsitektur klasik yang tetap hidup hingga kini.
Selama Ramadhan, jalan-jalan di Kairo dihiasi lentera warna-warni yang dikenal sebagai fanous. Tradisi ini dipercaya telah ada sejak era Dinasti Fatimiyah.
Kawasan Al-Muizz juga menawarkan suasana malam dipenuhi cahaya lampu dan aroma kuliner khas seperti koshary, ful medames, dan qatayef yang menjadi hidangan favorit berbuka.
Meski demikian, otoritas setempat biasanya mengatur jam operasional situs wisata dan museum selama Ramadhan, sehingga wisatawan disarankan menyesuaikan jadwal kunjungan.
Maroko: Keindahan Arsitektur dan Tradisi Magribi
Maroko menawarkan pengalaman Ramadhan dengan latar kota tua (medina) yang masih terjaga keasliannya. Fez El Bali, salah satu kawasan pejalan kaki terbesar di dunia dan situs Warisan Dunia UNESCO menjadi pusat aktivitas masyarakat. Sementara di Marrakech, Masjid Koutoubia menjadi ikon spiritual yang ramai dikunjungi.
Tradisi berbuka puasa di Maroko identik dengan sup harira, kurma, roti khas, serta teh mint hangat. Sejumlah kota, waktu berbuka ditandai dengan dentuman meriam, sebuah tradisi yang telah berlangsung selama ratusan tahun.
Aktivitas perdagangan di pasar tradisional juga meningkat menjelang waktu magrib, menciptakan dinamika sosial yang khas.
Arab Saudi: Pusat Spiritualitas Dunia Islam
Arab Saudi menjadi tujuan utama perjalanan spiritual, terutama di Mekkah dan Madinah. Pada bulan Ramadan, Masjidil Haram dan Masjid Nabawi dipenuhi jutaan jamaah dari berbagai negara.
Tradisi berbuka puasa bersama di pelataran Masjidil Haram menjadi pemandangan yang sarat makna kebersamaan. Beragam menu sederhana seperti kurma, air zamzam, dan nasi disediakan secara kolektif oleh masyarakat maupun lembaga filantropi.
Selain destinasi religius, pemerintah Arab Saudi dalam beberapa tahun terakhir juga membuka kawasan bersejarah seperti Diriyah di Riyadh serta situs arkeologi Al-Ula yang menyimpan peninggalan peradaban kuno.
Uzbekistan: Warisan Jalur Sutra dan Tradisi Ilmu Pengetahuan
Uzbekistan, khususnya Samarkand dan Bukhara, dikenal sebagai pusat peradaban Islam di Asia Tengah. Registan Square dengan arsitektur ubin biru menjadi simbol kejayaan ilmu pengetahuan Islam. Negara ini pula terdapat makam Imam Bukhari, salah satu perawi hadis terkemuka.
Suasana Ramadan di Uzbekistan berlangsung dalam nuansa kekeluargaan. Tradisi berbuka bersama di rumah-rumah penduduk mencerminkan budaya keramahan setempat. Hidangan plov, roti non, dan sup khas menjadi sajian utama saat iftar.
Wisatawan yang berkunjung selama Ramadhan perlu memahami penyesuaian jam operasional sejumlah tempat wisata, restoran, dan pusat perbelanjaan. Banyak negara mayoritas Muslim, aktivitas publik cenderung melambat pada siang hari dan meningkat setelah waktu berbuka.
Selain itu, penghormatan terhadap masyarakat yang menjalankan ibadah puasa menjadi hal penting. Pengunjung non-Muslim umumnya diperkenankan makan dan minum, namun dianjurkan untuk tidak melakukannya secara mencolok di ruang publik.
Ramadhan pada akhirnya bukan hanya perjalanan fisik ke situs-situs bersejarah, melainkan juga pengalaman sosial dan spiritual yang memperlihatkan bagaimana tradisi, sejarah, dan nilai keagamaan berpadu dalam kehidupan masyarakat.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0