Kematian Dokter di Cianjur Jadi Alarm Bahaya Campak, Kemenkes Ingatkan Risiko Fatal
Penulis : Mursyidah Auni | Editor : Dewi
KARTANEWS.COM, JAKARTA– Kasus meninggalnya seorang dokter internship di Cianjur pada 26 Maret 2026 menjadi peringatan serius terkait bahaya penyakit campak, terutama jika disertai komplikasi.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) menegaskan bahwa penyakit ini tidak boleh dianggap ringan, khususnya bagi individu yang belum memiliki kekebalan.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan bahwa siapa pun yang tidak memiliki imunitas, baik karena belum divaksinasi maupun tidak membentuk kekebalan pascavaksinasi, berisiko terinfeksi campak.
Kelompok paling rentan mengalami komplikasi berat adalah anak-anak yang belum divaksinasi serta ibu hamil.
Selain itu, risiko kematian akibat campak lebih tinggi pada individu dengan kondisi gizi buruk atau sistem kekebalan tubuh yang lemah dan aktor lingkungan seperti keterbatasan akses layanan kesehatan, konflik, hingga kepadatan hunian juga turut memperbesar potensi penyebaran penyakit.
Secara klinis, gejala campak biasanya muncul 10 hingga 14 hari setelah terpapar virus. Gejala awal meliputi demam, batuk, pilek, mata merah berair, serta munculnya bintik putih di dalam rongga mulut. Ruam khas kemudian muncul di wajah dan menyebar ke seluruh tubuh dalam beberapa hari.
WHO mencatat, sebagian besar kematian akibat campak disebabkan oleh komplikasi serius seperti pneumonia, ensefalitis, diare berat, hingga dehidrasi. Pada ibu hamil, infeksi campak juga dapat meningkatkan risiko kelahiran prematur dan berat badan lahir rendah.
Kemenkes RI mengonfirmasi bahwa dokter berinisial AMW (26) yang meninggal di Cipanas, Kabupaten Cianjur, merupakan kasus suspek campak dengan komplikasi berat.
Berdasarkan hasil investigasi awal, pasien mengalami gejala berupa demam, ruam, serta sesak napas yang berkembang menjadi pneumonia.
“Pihak RSUD Cimacan telah melakukan penanganan medis sesuai standar pada 26 Maret 2026. Namun pasien kemudian dinyatakan meninggal dunia setelah pihak rumah sakit mengupayakan pelayanan maksimal,” ujar Kepala Biro Komunikasi Kemenkes, Aji Muhawarman, Jumat (27/3/2026).
Menindaklanjuti kasus tersebut, Kemenkes bersama Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat dan Kabupaten Cianjur langsung melakukan penyelidikan epidemiologi untuk menelusuri sumber penularan serta mencegah penyebaran lebih luas.
Langkah yang dilakukan meliputi penelusuran kontak erat, pemetaan risiko penyebaran, serta pemberian vitamin A sebagai upaya menekan risiko komplikasi pada masyarakat sekitar.
Kemenkes menegaskan bahwa campak tidak hanya menyerang anak-anak, tetapi juga dapat berdampak fatal pada orang dewasa yang belum memiliki kekebalan.
“Kasus ini mengingatkan kita bahwa penyakit campak bukan hanya dapat menyerang anak-anak. Orang dewasa yang belum pernah divaksinasi atau belum pernah terinfeksi campak tetap memiliki risiko tinggi mengalami komplikasi serius dan berakibat fatal,” tegasnya.
Pemerintah mengimbau masyarakat untuk memastikan status imunisasi serta meningkatkan kewaspadaan terhadap gejala campak guna mencegah dampak yang lebih berat.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0