Gawat Darurat, Skrining CKG Ungkap Ratusan Ribu Anak Alami Gejala Cemas dan Depresi

Penulis : Mursyidah Auni | Editor : Dewi

Mar 15, 2026 - 13:54
Mar 15, 2026 - 15:08
 0  3
Gawat Darurat, Skrining CKG Ungkap Ratusan Ribu Anak Alami Gejala Cemas dan Depresi
Ilustrasi anak yang sedang depresi/istimewa

KARTANEWS.COM, JAKARTA — Hasil skrining Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang dilaksanakan Pemerintah pada periode 2025–2026 menemukan indikasi masalah kesehatan jiwa pada anak dalam jumlah yang signifikan dan memprihatinkan.

Sekitar 7 juta anak yang telah menjalani pemeriksaan, hampir 10 persen di antaranya terdeteksi mengalami gejala kecemasan dan depresi yang berpotensi memengaruhi perkembangan psikologis serta produktivitas di masa depan.

Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan, data skrining menunjukkan sekitar 4,4 persen atau sekitar 338 ribu anak mengalami gejala kecemasan (anxiety disorder), sementara 4,8 persen atau sekitar 363 ribu anak terdeteksi menunjukkan gejala depresi (depression disorder), temuan ini dinilai menjadi sinyal serius mengenai kondisi kesehatan mental anak di Indonesia.

“Ini menunjukkan masalah kesehatan jiwa pada anak cukup besar dan harus menjadi perhatian bersama, baik pemerintah, keluarga maupun lingkungan pendidikan,” ujarnya dalam situs resmi Kemenkes, dikutip, Minggu (15/3/2026).

Menurut Budi, gangguan kesehatan mental pada anak tidak muncul secara tiba-tiba tetapi dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berkaitan, mulai dari tekanan akademik di sekolah, perundungan atau bullying, konflik dalam keluarga, hingga penggunaan media sosial secara berlebihan.

Hal tersebut menjadi faktor keterbatasan ruang yang aman bagi anak untuk mengekspresikan emosi dan tekanan psikologis yang mereka alami.

“Yang perlu diperbaiki bukan hanya anaknya tetapi juga lingkungan di sekitarnya, pola asuh keluarga, suasana belajar di sekolah, serta kemampuan anak untuk menghadapi tekanan melalui keterampilan hidup atau life skill,” katanya.

Sejumlah penelitian internasional juga menunjukkan bahwa tekanan sosial dan perubahan pola interaksi akibat teknologi digital ikut memengaruhi kondisi mental anak dan remaja saat ini.

Laporan UNICEF 2023 menyebutkan paparan media sosial yang tidak terkontrol dapat meningkatkan risiko kecemasan, perasaan rendah diri, hingga depresi pada kelompok usia remaja terutama ketika mereka terpapar standar sosial yang tidak realistis.

Dari faktor lain, keluarga juga menjadi elemen penting dalam kesehatan mental anak, riset Kementerian Kesehatan dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menunjukkan konflik keluarga, komunikasi yang buruk antara orang tua dan anak, serta tekanan ekonomi rumah tangga dapat meningkatkan kerentanan anak terhadap gangguan kecemasan dan depresi.

Masalah kesehatan mental pada anak juga memiliki konsekuensi jangka panjang apabila tidak ditangani sejak dini karena dapat memengaruhi perkembangan kognitif, kemampuan belajar, hingga kualitas hubungan sosial saat mereka memasuki usia dewasa.

Data WHO menyebutkan sekitar 50 persen gangguan kesehatan mental pada orang dewasa sebenarnya mulai muncul sejak usia remaja namun tidak terdeteksi atau tidak ditangani secara memadai.

kondisi tersebut akhirnya dapat berujung pada rendahnya produktivitas, kesulitan beradaptasi di dunia kerja, hingga meningkatnya risiko perilaku menyakiti diri sendiri bahkan sampai mengakhiri hidupnya.

Tren yang sama juga tercermin dalam data Global School-Based Student Health Survey (GSHS) yang menunjukkan peningkatan percobaan bunuh diri pada pelajar di Indonesia dari 3,9 persen pada 2015 menjadi 10,7 persen pada 2023, peningkatan ini menunjukkan tekanan psikologis pada kelompok usia sekolah semakin besar dalam beberapa tahun terakhir.

Jika kondisi kesehatan mental anak tidak ditangani secara serius, dampaknya dapat terlihat dalam satu hingga dua dekade mendatang ketika generasi yang saat ini berada di bangku sekolah memasuki usia produktif sekitar 15 hingga 20 tahun ke depan, yakni periode 2040–2045 yang juga bertepatan dengan target Indonesia menuju visi Indonesia Emas.

Dalam skenario tersebut, gangguan kesehatan mental yang tidak tertangani dengan serius berpotensi menurunkan kualitas sumber daya manusia.

Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kemenkes, Maria Endang Sumiwi mengatakan hasil skrining CKG akan ditindaklanjuti oleh fasilitas pelayanan kesehatan di tingkat daerah terutama Puskesmas.

Menurutnya, langkah ini bertujuan memastikan anak-anak yang terdeteksi memiliki gejala mendapatkan pendampingan psikologis serta penanganan medis yang diperlukan dengan mudah dan cepat.

“Hasil skrining tidak berhenti pada pendataan saja, Puskesmas akan melakukan penilaian lanjutan dan memberikan intervensi sesuai kebutuhan anak,” ujarnya.

Saat ini, Pemerintah juga tengah memperkuat layanan kesehatan jiwa di tingkat layanan primer karena saat ini jumlah psikolog klinis di Puskesmas masih terbatas yakni sekitar 203 orang di seluruh Indonesia, sehingga Kemenkes mendorong penambahan tenaga profesional serta memperluas layanan konseling bagi anak dan remaja.

Selain itu, masyarakat juga dapat mengakses layanan krisis kesehatan mental melalui platform Healing119.id yang menyediakan bantuan psikologis bagi individu yang mengalami tekanan mental atau membutuhkan pendampingan darurat.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0