Dusta Sang Pendidik: Menguak Aksi Bejat Oknum Guru di Tanjung Redeb terhadap 5 Murid

May 6, 2026
Dusta Sang Pendidik: Menguak Aksi Bejat Oknum Guru di Tanjung Redeb terhadap 5 Murid
Ilustrasi

KARTANEWS.COM, BERAU – Sekolah seharusnya menjadi ruang paling aman bagi anak-anak untuk mengejar mimpi, terlebih bagi mereka yang dianugerahi keistimewaan luar biasa. Namun, di salah satu Sekolah di Tanjung Redeb, Berau, keceriaan itu mendadak luruh. 

Di balik dinding kelas yang sunyi, seorang oknum guru yang seharusnya menjadi pelindung, justru menjadi sumber trauma yang mendalam, karena diduga melakukan tindak pencabulan terhadap muridnya.

​Isyarat yang Nyaris Tak Terbaca

Luka tidak selalu berdarah, terkadang ia muncul dalam bentuk keheningan yang janggal. Awal mula terungkap tabir ini melalui salah seorang wali murid yang merasa ada yang salah dengan buah hatinya. 

Anaknya dikenal biasa berangkat sekolah dengan semangat, namun tiba-tiba menunjukkan ketakutan yang hebat. 

Wali murid tersebut mengatakan, anaknya menolak bersekolah dan sorot matanya menyiratkan kecemasan setiap kali nama sang guru disebut.

​Intuisi orang tua inilah yang akhirnya meruntuhkan tembok rahasia. Laporan pun dilayangkan ke Unit PPA Satreskrim Polres Berau.

Proses Penangkapan Terduga Pelaku

Selasa (05/05/2026) malam di Kelurahan Gunung Panjang, sekitar pukul 18.00 WITA, polisi bergerak sunyi. Pelaku, yang saat itu bersiap untuk menunaikan ibadah salat di sebuah masjid tak berkutik saat petugas meringkusnya.

Tidak ada perlawanan, namun tindakan yang disangkakan padanya telah meninggalkan bekas yang tak terhapuskan bagi setidaknya lima orang murid. 

"Korbannya sementara baru lima orang di salah satu sekolah. Karena korban disabilitas, kita tidak bisa langsung memeriksa seperti yang normal. Kita perlu pendampingan dan mengikuti alur mereka, tidak bisa ditekan," jelas Kanit PPA Satreskrim Polres Berau, Iptu Siswanto kepada Kartanews, (06/05/2026)

​Menembus Labirin Komunikasi

Mengungkap kebenaran dalam kasus ini bukanlah perkara mudah bagi kepolisian. Para korban adalah anak-anak istimewa—penyandang tuna rungu dan tuna daksa.

Secara fisik, beberapa di antaranya mungkin sudah menginjak usia remaja (17 tahun), namun secara psikologis, mereka masihlah anak-anak dengan pola pikir siswa sekolah dasar.

​"Kita tidak bisa langsung memeriksa seperti orang normal," ujar Iptu Siswanto

​Polisi harus melangkah dengan sangat hati-hati, mengikuti alur komunikasi para korban tanpa memberikan tekanan.

Dengan bantuan penerjemah dan psikolog dari Pusat Pelayanan Pemberdayaan Perempuan dan Anak (TP2A) Kabupaten Berau, setiap isyarat tangan dan ekspresi wajah para korban diterjemahkan menjadi kepingan bukti.

Menanti Keadilan bagi yang Rentan

Kini, lima korban telah teridentifikasi, namun penyelidikan masih terus berkembang. Ada kekhawatiran bahwa daftar korban bisa saja bertambah. 

Di balik jeruji besi, penyidik masih menggali motif pelaku melalui pemeriksaan psikologi yang mendalam. Kasus ini menjadi pengingat pahit bagi kita semua bahwa kelompok disabilitas adalah kelompok paling rentan yang memerlukan perlindungan ekstra.

Mereka yang tidak bisa berteriak minta tolong, atau mereka yang bahasanya sering kali tidak kita pahami, kini tengah berjuang menuntut keadilan. Polres Berau telah berjanji untuk mengawal kasus ini secara transparan.

Namun bagi para orang tua dan korban, perjalanan panjang untuk memulihkan luka batin dan mengembalikan rasa percaya terhadap dunia, baru saja dimulai. (REIN/daa)

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 1
Sad Sad 0
Wow Wow 0