Krisis Energi Global Picu Kepanikan, Warga India Serbu SPBU dan Berburu BBM

Penulis : Mursyidah Auni | Editor : Dewi

Mar 27, 2026 - 15:04
Mar 27, 2026 - 18:38
 0  3
Krisis Energi Global Picu Kepanikan, Warga India Serbu SPBU dan Berburu BBM
Warga India berbondong-bondong memborong BBM. Harga gas turut melonjak sehingga warga miskin terpaksa kembali memasak menggunakan kayu bakar. Ilustrasi. (Foto: REUTERS/Naseer Ahmed)

KARTANEWS.COM, NEW DELHI – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah mulai berdampak pada sektor energi global. Di India, situasi tersebut memicu kepanikan masyarakat yang berbondong-bondong mendatangi stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) untuk mengamankan pasokan BBM.

Dilansir dari CNN Indonesia, antrean panjang terjadi di berbagai kota besar, seperti Gujarat, Maharashtra, Tamil Nadu, hingga Telangana. Lonjakan permintaan ini dipicu kekhawatiran akan terganggunya distribusi energi akibat konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel.

Pemerintah India telah mengimbau masyarakat untuk tidak panik dan memastikan bahwa pasokan bahan bakar dalam kondisi aman. 

Namun, ketergantungan tinggi India terhadap impor minyak melalui Selat Hormuz membuat kekhawatiran publik sulit diredam, terlebih jalur tersebut kini terdampak konflik.

Situasi ini turut mendorong sejumlah perusahaan mengambil langkah penghematan energi, di antaranya menerapkan kebijakan kerja dari rumah (work from home) serta membatasi operasional fasilitas seperti kantin. 

Penggunaan kendaraan listrik dan energi juga mulai digalakkan guna mengurangi ketergantungan terhadap BBM.

Di ibukota New Delhi juga mulai tampak terasa krisis pada komoditas LPG. Harga gas melonjak tajam, bahkan beredar di pasar gelap dengan harga jauh di atas batas normal. Kondisi ini memukul masyarakat berpenghasilan rendah dan terpaksa kembali menggunakan bahan bakar tradisional.

Sheela Kumari, pekerja rumah tangga berusia 36 tahun, mengaku tidak lagi mampu membeli tabung LPG setelah harganya melonjak drastis.

“Dulu kami membeli tabung gas seharga 1.800 hingga 2.000 rupee, tetapi sekarang di pasar gelap mencapai 5.000 rupee,” ujarnya.

Ia menyebut kenaikan hampir menyamai total pendapatan bulanannya yang berkisar 6.000 rupee, sehingga pilihan untuk kembali menggunakan kayu dan batu bara menjadi langkah yang tidak terhindarkan.

“Pilihan terbaik bagi kami adalah kembali menggunakan kayu dan batu bara,” tuturnya.

India sendiri merupakan salah satu importir LPG terbesar di dunia dengan ketergantungan tinggi pada pasokan dari kawasan Timur Tengah. Gangguan distribusi akibat konflik dan blokade di Selat Hormuz memperburuk kondisi pasokan di dalam negeri.

Menanggapi situasi tersebut, Perdana Menteri Narendra Modi meminta pemerintah daerah untuk menindak praktik pasar gelap serta menjaga stabilitas distribusi energi. 

Ia juga menegaskan bahwa pasokan energi nasional tetap dalam kondisi terkendali dan masyarakat diminta untuk tidak melakukan pembelian yang berlebihan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0