Hormuz Membara, Pasokan 20 Persen Minyak Dunia Terancam, Harga Melejit?

Penulis: Mursyidah Auni | Editor: Dewi

Mar 2, 2026 - 14:19
Mar 2, 2026 - 17:17
 0  4
Hormuz Membara, Pasokan 20 Persen Minyak Dunia Terancam, Harga Melejit?
(BBC)

KARTANEWS.COM, SELAT HORMUZ – Ketegangan militer di kawasan Timur Tengah kembali mengguncang pasar energi global. Harga minyak mentah dunia melonjak signifikan setelah sedikitnya tiga kapal dilaporkan diserang di sekitar Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi penghubung utama distribusi minyak dan gas dunia.

Pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) melaporkan dua kapal terkena proyektil tak dikenal yang memicu kebakaran, sementara satu kapal lainnya mengalami ledakan dengan jarak yang sangat dekat dan seluruh awak kapal dilaporkan selamat.

Selain itu, satu insiden terpisah yang melibatkan evakuasi awak juga tengah diselidiki penyebabnya.

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim tiga kapal tanker bendera Inggris dan Amerika Serikat menjadi sasaran rudal dan terbakar. Namun hingga kini, pemerintah Inggris dan AS belum memberikan konfirmasi resmi terkait klaim tersebut.

Serangan terjadi di tengah meningkatnya eskalasi konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel. Ketegangan memuncak setelah serangan gabungan AS-Israel dilaporkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei yang kemudian dibalas Iran dengan serangan ke sejumlah titik di kawasan, termasuk Uni Emirat Arab, Qatar, Bahrain, dan Kuwait.

Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas dunia. Ancaman keamanan di kawasan tersebut memicu kekhawatiran gangguan distribusi energi global.

Iran sebelumnya telah memperingatkan kapal-kapal asing untuk tidak melintasi selat tersebut.mData pelacakan kapal dari platform Kpler menunjukkan sedikitnya 150 kapal tanker memilih berlabuh di luar kawasan Teluk dan menunda pelayaran.

Beberapa kapal berbendera Iran dan China dilaporkan tetap melintas, namun aktivitas pengiriman internasional secara umum mengalami perlambatan drastis.

“Karena ancaman Iran, selat secara efektif tertutup. Risiko terlalu tinggi dan biaya asuransi melonjak tajam,” ujar analis Kpler, Homayoun Falakshahi, dikutip dari BBC, Senin (2/3/2026).

Kenaikan risiko langsung tercermin di pasar komoditas. Pada perdagangan awal Asia, minyak mentah Brent melonjak lebih dari 7 persen menjadi 78,25 dolar AS per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) naik 7,3 persen ke level 71,93 dolar AS per barel.

Kepala Riset Energi MST Research, Saul Kavonic, menilai pasar masih menunggu perkembangan situasi.

“Pasar tidak dalam kondisi panik. Investor akan mengamati apakah lalu lintas di Selat Hormuz dapat kembali normal. Jika ya, harga berpotensi terkoreksi,” ujarnya.

Namun sejumlah analis memperingatkan, jika gangguan berlangsung lama atau jalur tersebut benar-benar ditutup, harga minyak berpotensi melampaui 100 dolar AS per barel.

Presiden Asosiasi Otomotif Inggris (AA), Edmund King, menyebut konflik berkepanjangan akan menjadi katalis gangguan distribusi energi global.

“Besarnya kenaikan harga sangat bergantung pada durasi konflik,” katanya.

Sebagai respons terhadap lonjakan harga, kelompok negara produsen minyak OPEC+ yang dipimpin Arab Saudi dan Rusia menyepakati peningkatan produksi sebesar 206 ribu barel per hari.

Kendati demikian, sejumlah pengamat meragukan tambahan suplai tersebut cukup untuk menstabilkan pasar jika jalur distribusi utama tetap terganggu.

Pada sektor pelayaran, perusahaan logistik global Maersk mengumumkan penghentian sementara pelayaran melalui Selat Bab el-Mandeb dan Terusan Suez dan kapal-kapalnya dialihkan melalui Tanjung Harapan sebagai langkah mitigasi risiko keamanan.

UKMTO mengimbau seluruh kapal komersial agar meningkatkan kewaspadaan saat melintas di Teluk Arab dan Teluk Oman.

Perusahaan keamanan maritim Vanguard Tech juga mengonfirmasi adanya laporan insiden yang melibatkan kapal berbendera Gibraltar, Palau, Kepulauan Marshall, dan Liberia.

Eskalasi terbaru ini mempertegas posisi Selat Hormuz sebagai titik rawan geopolitik yang berdampak langsung terhadap stabilitas energi global.

Jika ketegangan tidak segera mereda, dampaknya diperkirakan meluas ke sektor perdagangan internasional, inflasi global, hingga stabilitas ekonomi berbagai negara pengimpor energi.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0