Proyek Drainase dimana-mana, Tapi Kok Masih Banjir?
Sudah beberapa tahun terakhir, warga Samarinda hampir setiap hari disuguhi pemandangan proyek drainase. Jalan dibongkar, parit digali, alat berat bekerja di mana-mana. Namun, setiap kali hujan deras turun, genangan air bahkan banjir tetap datang. Pertanyaan sederhana pun muncul: “Proyek drainase di mana-mana, tapi kok masih banjir?” Menurut Andi Harun, terdapat sedikitnya tiga faktor utama yang memperberat situasi banjir. Pertama, curah hujan ekstrem yang dalam beberapa peristiwa mencapai lebih dari 193 milimeter. Kedua, kapasitas infrastruktur pengendali banjir seperti waduk dan saluran air yang belum optimal. Ketiga, perubahan tata guna lahan di kawasan hulu yang menyebabkan air bercampur lumpur mengalir cepat ke wilayah kota. Kompas.com (24/10/25) Kenyataannya, banjir di Samarinda bukan hanya soal saluran air. Ini persoalan sistem dari perencanaan yang tidak terpadu, perilaku masyarakat, hingga tata ruang yang semrawut. Banyak proyek drainase hanya memperbaiki sebagian saluran tanpa melihat aliran air secara keseluruhan. Di satu titik lancar, di titik lain justru tersumbat. Air yang seharusnya mengalir ke Sungai Karang Mumus akhirnya tertahan dan meluap ke jalan. Masalahnya makin rumit karena koordinasi antar instansi belum solid. Dinas Pekerjaan Umum membangun drainase, tapi Dinas Lingkungan Hidup menangani kebersihan, sementara pengawasan bangunan berada di dinaslain. Akibatnya, upaya penanganan banjir sering tumpang tindih. Tidak jarang proyek dilakukan hanya untuk mengejar serapan anggaran, bukan solusi jangka panjang. Dari sisi masyarakat, perilaku membuang sampah ke parit dan menutup saluran dengan bangunan juga masih sering terjadi. Padahal, drainase secanggih apa pun tidak akan berfungsi jika tersumbat oleh sampah rumah tangga. Di sisilain, ruang terbuka hijau dan daerah resapan air di Samarinda terus berkurang karena laju pembangunan. Air hujan yang seharusnya meresap ke tanah malah langsung mengalir ke saluran yang kapasitasnya sudah terbatas. Samarinda butuh pendekatan baru yaitu dari proyek ke sistem. Pembangunan drainase harus berbasis data hidrologi kota, bukan sekadar kebutuhan fisik tahunan. Pemeliharaan rutin dan pelibatan masyarakat harus menjadi bagian dari sistem, bukan tambahan belaka. Pemerintah juga harus berani menjaga dan memperluas ruang hijau agar air punya tempat kembali ke tanah, bukan ke rumah warga. Proyek drainase memang penting, tapi tanpa tata kelola yang baik dan kesadaran kolektif, hasilnya akan sia-sia. Banjir bukan sekadar persoalan air yang tidak mengalir, tapi juga cermin dari bagaimana kita mengelola kota ini. Samarinda tak akan bebas banjir jika kita masih menganggap drainase sekadar proyek bukan sistem kehidupan kota yang harus dijaga bersama.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0