<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
     xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
     xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
     xmlns:admin="http://webns.net/mvcb/"
     xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#"
     xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
     xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/">
<channel>
<title>Kartanews &#45; Rizand Fadjar</title>
<link>https://kartanews.com/rss/author/rizand-fadjar</link>
<description>Kartanews &#45; Rizand Fadjar</description>
<dc:language>en</dc:language>
<dc:rights>@PT Digitalindo Media Utama &#45; kartanews.com</dc:rights>

<item>
<title>Proyek Drainase di Mana&#45;Mana, Mengapa Banjir Masih Terjadi?</title>
<link>https://kartanews.com/proyek-drainase-di-mana-mana-mengapa-banjir-masih-terjadi</link>
<guid>https://kartanews.com/proyek-drainase-di-mana-mana-mengapa-banjir-masih-terjadi</guid>
<description><![CDATA[ Rizand Fadjar Muhammad - Proyek Drainase di Mana-Mana, Mengapa Banjir Masih Terjadi? ]]></description>
<enclosure url="https://kartanews.com/uploads/images/202601/image_870x580_696206e304a63.jpg" length="136385" type="image/jpeg"/>
<pubDate>Tue, 06 Jan 2026 20:12:04 +0800</pubDate>
<dc:creator>Rizand Fadjar</dc:creator>
<media:keywords>Proyek drainase Samarinda, Banjir di Samarinda, Tata kelola drainase perkotaan, Infrastruktur pengendali banjir, Manajemen perkotaan, Tata ruang kota, Ruang terbuka hijau, Perubahan tata guna lahan, Kebijakan publik daerah, Administrasi publik perkotaan</media:keywords>
</item>

<item>
<title>Proyek Drainase dimana&#45;mana, Tapi Kok Masih Banjir?</title>
<link>https://kartanews.com/proyek-drainase-samarinda-1638</link>
<guid>https://kartanews.com/proyek-drainase-samarinda-1638</guid>
<description><![CDATA[ Sudah beberapa tahun terakhir, warga Samarinda hampir setiap hari disuguhi pemandangan 
proyek drainase. Jalan dibongkar, parit digali, alat berat bekerja di mana-mana. Namun, setiap 
kali hujan deras turun, genangan air bahkan banjir tetap datang. Pertanyaan sederhana pun 
muncul: “Proyek drainase di mana-mana, tapi kok masih banjir?” 
Menurut Andi Harun, terdapat sedikitnya tiga faktor utama yang memperberat situasi banjir. 
Pertama, curah hujan ekstrem yang dalam beberapa peristiwa mencapai lebih dari 193 
milimeter. Kedua, kapasitas infrastruktur pengendali banjir seperti waduk dan saluran air yang 
belum optimal. Ketiga, perubahan tata guna lahan di kawasan hulu yang menyebabkan air 
bercampur lumpur mengalir cepat ke wilayah kota. Kompas.com (24/10/25) 
Kenyataannya, banjir di Samarinda bukan hanya soal saluran air. Ini persoalan sistem dari 
perencanaan yang tidak terpadu, perilaku masyarakat, hingga tata ruang yang semrawut. 
Banyak proyek drainase hanya memperbaiki sebagian saluran tanpa melihat aliran air secara 
keseluruhan. Di satu titik lancar, di titik lain justru tersumbat. Air yang seharusnya mengalir 
ke Sungai Karang Mumus akhirnya tertahan dan meluap ke jalan. 
Masalahnya makin rumit karena koordinasi antar instansi belum solid. Dinas Pekerjaan Umum 
membangun drainase, tapi Dinas Lingkungan Hidup menangani kebersihan, sementara 
pengawasan bangunan berada di dinaslain. Akibatnya, upaya penanganan banjir sering 
tumpang tindih. Tidak jarang proyek dilakukan hanya untuk mengejar serapan anggaran, bukan 
solusi jangka panjang. 
Dari sisi masyarakat, perilaku membuang sampah ke parit dan menutup saluran dengan 
bangunan juga masih sering terjadi. Padahal, drainase secanggih apa pun tidak akan berfungsi 
jika tersumbat oleh sampah rumah tangga. Di sisilain, ruang terbuka hijau dan daerah resapan 
air di Samarinda terus berkurang karena laju pembangunan. Air hujan yang seharusnya 
meresap ke tanah malah langsung mengalir ke saluran yang kapasitasnya sudah terbatas. 
Samarinda butuh pendekatan baru yaitu dari proyek ke sistem. Pembangunan drainase harus 
berbasis data hidrologi kota, bukan sekadar kebutuhan fisik tahunan. Pemeliharaan rutin dan 
pelibatan masyarakat harus menjadi bagian dari sistem, bukan tambahan belaka. Pemerintah 
juga harus berani menjaga dan memperluas ruang hijau agar air punya tempat kembali ke tanah, 
bukan ke rumah warga. 
Proyek drainase memang penting, tapi tanpa tata kelola yang baik dan kesadaran kolektif, 
hasilnya akan sia-sia. Banjir bukan sekadar persoalan air yang tidak mengalir, tapi juga cermin 
dari bagaimana kita mengelola kota ini. Samarinda tak akan bebas banjir jika kita masih 
menganggap drainase sekadar proyek bukan sistem kehidupan kota yang harus dijaga bersama. ]]></description>
<enclosure url="https://kartanews.com/uploads/images/202601/image_870x580_6960550d2014f.jpg" length="581826" type="image/jpeg"/>
<pubDate>Fri, 14 Nov 2025 09:44:53 +0800</pubDate>
<dc:creator>Rizand Fadjar</dc:creator>
<media:keywords>drainase, banjir, samarinda, proyek pemerintah, infrastruktur</media:keywords>
</item>

</channel>
</rss>