<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
     xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
     xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
     xmlns:admin="http://webns.net/mvcb/"
     xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#"
     xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
     xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/">
<channel>
<title>Kartanews &#45; Rizand Fadjar</title>
<link>https://kartanews.com/rss/author/rizand-fadjar</link>
<description>Kartanews &#45; Rizand Fadjar</description>
<dc:language>en</dc:language>
<dc:rights>@PT Digitalindo Media Utama &#45; kartanews.com</dc:rights>

<item>
<title>Proyek Drainase di Mana&#45;Mana, Mengapa Banjir Masih Terjadi?</title>
<link>https://kartanews.com/proyek-drainase-di-mana-mana-mengapa-banjir-masih-terjadi</link>
<guid>https://kartanews.com/proyek-drainase-di-mana-mana-mengapa-banjir-masih-terjadi</guid>
<description><![CDATA[ Rizand Fadjar Muhammad - Proyek Drainase di Mana-Mana, Mengapa Banjir Masih Terjadi? ]]></description>
<enclosure url="https://kartanews.com/uploads/images/202601/image_870x580_696206e304a63.jpg" length="136385" type="image/jpeg"/>
<pubDate>Tue, 06 Jan 2026 20:12:04 +0800</pubDate>
<dc:creator>Rizand Fadjar</dc:creator>
<media:keywords>Proyek drainase Samarinda, Banjir di Samarinda, Tata kelola drainase perkotaan, Infrastruktur pengendali banjir, Manajemen perkotaan, Tata ruang kota, Ruang terbuka hijau, Perubahan tata guna lahan, Kebijakan publik daerah, Administrasi publik perkotaan</media:keywords>
<content:encoded><![CDATA[<p>Banjir masih menjadi persoalan rutin di Samarinda, meskipun pembangunan drainase terus dilakukan dalam beberapa tahun terakhir. Hampir setiap hari, warga disuguhi pemandangan jalan dibongkar, parit digali, dan alat berat bekerja di berbagai titik kota. Namun, ketika hujan deras turun, genangan air bahkan banjir tetap terjadi. Kondisi ini memunculkan pertanyaan publik: mengapa proyek drainase yang masif belum mampu mengatasi banjir?</p>
<p>Wali Kota Samarinda Andi Harun pernah menyampaikan bahwa terdapat setidaknya tiga faktor utama yang memperberat kondisi banjir. Pertama, curah hujan ekstrem yang dalam beberapa kejadian tercatat mencapai lebih dari 193 milimeter. Kedua, kapasitas infrastruktur pengendali banjir—seperti waduk dan saluran air—yang belum sepenuhnya optimal. Ketiga, perubahan tata guna lahan di kawasan hulu yang menyebabkan aliran air bercampur lumpur mengalir cepat menuju wilayah perkotaan. Pernyataan tersebut dikutip dari Kompas.com edisi 24 Oktober 2025.</p>
<p>Namun demikian, banjir di Samarinda tidak dapat dipahami semata-mata sebagai persoalan teknis saluran air. Masalah ini bersifat sistemik, melibatkan perencanaan yang belum terpadu, perilaku masyarakat, serta tata ruang perkotaan yang belum tertata optimal. Sejumlah proyek drainase hanya memperbaiki bagian tertentu tanpa mempertimbangkan sistem aliran air secara menyeluruh. Akibatnya, satu titik terlihat lancar, sementara titik lain justru mengalami penyumbatan. Air yang seharusnya mengalir ke Sungai Karang Mumus akhirnya tertahan dan meluap ke jalan serta permukiman.</p>
<p>Persoalan tersebut diperparah oleh lemahnya koordinasi antarinstansi. Dinas Pekerjaan Umum berfokus pada pembangunan drainase, Dinas Lingkungan Hidup menangani kebersihan, sementara pengawasan bangunan berada di instansi berbeda. Fragmentasi kewenangan ini berpotensi menimbulkan tumpang tindih kebijakan. Dalam praktiknya, tidak jarang proyek drainase dipersepsikan lebih berorientasi pada serapan anggaran tahunan dibandingkan solusi jangka panjang yang berkelanjutan.</p>
<p>Dari sisi masyarakat, kebiasaan membuang sampah ke parit dan menutup saluran air dengan bangunan masih kerap terjadi. Padahal, sebaik apa pun sistem drainase dirancang, fungsinya akan terganggu apabila tersumbat oleh sampah rumah tangga. Di sisi lain, ruang terbuka hijau dan kawasan resapan air di Samarinda terus berkurang akibat laju pembangunan. Air hujan yang seharusnya meresap ke tanah justru langsung mengalir ke saluran yang kapasitasnya terbatas.</p>
<p>Kondisi ini menunjukkan perlunya pendekatan baru dalam penanganan banjir di Samarinda, yakni beralih dari pola proyek menuju sistem. Pembangunan drainase perlu berbasis data hidrologi perkotaan dan dirancang secara terpadu dari hulu hingga hilir. Pemeliharaan rutin serta pelibatan aktif masyarakat harus menjadi bagian integral dari sistem pengelolaan drainase, bukan sekadar pelengkap. Pemerintah daerah juga dituntut konsisten menjaga dan memperluas ruang terbuka hijau agar air memiliki ruang kembali ke tanah, bukan menggenangi rumah warga.</p>
<p>Pada akhirnya, proyek drainase memang penting. Namun tanpa tata kelola yang baik dan kesadaran kolektif, hasilnya berpotensi tidak berkelanjutan. Banjir bukan sekadar persoalan air yang tidak mengalir, melainkan cerminan dari cara sebuah kota dikelola. Selama drainase masih dipandang semata sebagai proyek fisik, upaya mewujudkan Samarinda yang lebih tangguh terhadap banjir akan sulit tercapai.</p>]]> </content:encoded>
</item>

<item>
<title>Proyek Drainase dimana&#45;mana, Tapi Kok Masih Banjir?</title>
<link>https://kartanews.com/proyek-drainase-samarinda-1638</link>
<guid>https://kartanews.com/proyek-drainase-samarinda-1638</guid>
<description><![CDATA[ Sudah beberapa tahun terakhir, warga Samarinda hampir setiap hari disuguhi pemandangan 
proyek drainase. Jalan dibongkar, parit digali, alat berat bekerja di mana-mana. Namun, setiap 
kali hujan deras turun, genangan air bahkan banjir tetap datang. Pertanyaan sederhana pun 
muncul: “Proyek drainase di mana-mana, tapi kok masih banjir?” 
Menurut Andi Harun, terdapat sedikitnya tiga faktor utama yang memperberat situasi banjir. 
Pertama, curah hujan ekstrem yang dalam beberapa peristiwa mencapai lebih dari 193 
milimeter. Kedua, kapasitas infrastruktur pengendali banjir seperti waduk dan saluran air yang 
belum optimal. Ketiga, perubahan tata guna lahan di kawasan hulu yang menyebabkan air 
bercampur lumpur mengalir cepat ke wilayah kota. Kompas.com (24/10/25) 
Kenyataannya, banjir di Samarinda bukan hanya soal saluran air. Ini persoalan sistem dari 
perencanaan yang tidak terpadu, perilaku masyarakat, hingga tata ruang yang semrawut. 
Banyak proyek drainase hanya memperbaiki sebagian saluran tanpa melihat aliran air secara 
keseluruhan. Di satu titik lancar, di titik lain justru tersumbat. Air yang seharusnya mengalir 
ke Sungai Karang Mumus akhirnya tertahan dan meluap ke jalan. 
Masalahnya makin rumit karena koordinasi antar instansi belum solid. Dinas Pekerjaan Umum 
membangun drainase, tapi Dinas Lingkungan Hidup menangani kebersihan, sementara 
pengawasan bangunan berada di dinaslain. Akibatnya, upaya penanganan banjir sering 
tumpang tindih. Tidak jarang proyek dilakukan hanya untuk mengejar serapan anggaran, bukan 
solusi jangka panjang. 
Dari sisi masyarakat, perilaku membuang sampah ke parit dan menutup saluran dengan 
bangunan juga masih sering terjadi. Padahal, drainase secanggih apa pun tidak akan berfungsi 
jika tersumbat oleh sampah rumah tangga. Di sisilain, ruang terbuka hijau dan daerah resapan 
air di Samarinda terus berkurang karena laju pembangunan. Air hujan yang seharusnya 
meresap ke tanah malah langsung mengalir ke saluran yang kapasitasnya sudah terbatas. 
Samarinda butuh pendekatan baru yaitu dari proyek ke sistem. Pembangunan drainase harus 
berbasis data hidrologi kota, bukan sekadar kebutuhan fisik tahunan. Pemeliharaan rutin dan 
pelibatan masyarakat harus menjadi bagian dari sistem, bukan tambahan belaka. Pemerintah 
juga harus berani menjaga dan memperluas ruang hijau agar air punya tempat kembali ke tanah, 
bukan ke rumah warga. 
Proyek drainase memang penting, tapi tanpa tata kelola yang baik dan kesadaran kolektif, 
hasilnya akan sia-sia. Banjir bukan sekadar persoalan air yang tidak mengalir, tapi juga cermin 
dari bagaimana kita mengelola kota ini. Samarinda tak akan bebas banjir jika kita masih 
menganggap drainase sekadar proyek bukan sistem kehidupan kota yang harus dijaga bersama. ]]></description>
<enclosure url="https://kartanews.com/uploads/images/202601/image_870x580_6960550d2014f.jpg" length="581826" type="image/jpeg"/>
<pubDate>Fri, 14 Nov 2025 09:44:53 +0800</pubDate>
<dc:creator>Rizand Fadjar</dc:creator>
<media:keywords>drainase, banjir, samarinda, proyek pemerintah, infrastruktur</media:keywords>
<content:encoded><![CDATA[<p></p>
<p></p>
<p></p>]]> </content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>