“No Kings” Menggema, Jutaan Warga AS Turun ke Jalan Tolak Kepemimpinan Trump

Mar 31, 2026
“No Kings” Menggema, Jutaan Warga AS Turun ke Jalan Tolak Kepemimpinan Trump
Aksi demonstrasi warga AS yang kritik kebijakan Presiden Donald Trump (AFP/ist)

KARTANEWS.COM, WASHINGTON – Gelombang demonstrasi besar melanda Amerika Serikat pada Sabtu (28/3/2026). Jutaan warga turun ke jalan dalam aksi bertajuk “No Kings” sebagai bentuk penolakan terhadap Presiden Donald Trump.

Penyelenggara menyebutkan sekitar delapan juta orang terlibat dalam aksi yang tersebar di 50 negara.

Lebih dari 3.300 titik demonstrasi menjadikannya salah satu gerakan sipil terbesar sejak Trump memulai masa jabatan keduanya pada Januari 2025.

Aksi ini dipicu berbagai kebijakan pemerintah yang dinilai kontroversial, mulai dari gaya kepemimpinan yang dianggap cenderung otoriter, penggunaan kewenangan eksekutif, hingga kebijakan militer yang disebut menyeret Amerika Serikat konflik dengan Iran.

Sejumlah massa di kota besar, seperti New York, Washington, Atlanta, hingga San Diego, memadati ruas jalan dan ruang publik. Di Ibu Kota Washington ribuan orang berkumpul di kawasan National Mall sambil membawa spanduk berisi kritik keras terhadap presiden Trump.

“Tidak ada negara yang bisa berjalan tanpa persetujuan rakyat, kami merasa konstitusi sedang berada dalam ancaman,” ujar Marc McCaughey, seorang veteran militer, saat mengikuti aksi di Atlanta. Dikutip dari kompas.com, Selasa (31/3/2026).

Partisipasi demonstran datang dari berbagai kalangan, termasuk tokoh publik di New York, aktor Robert De Niro yang turut hadir dan kembali menyuarakan kritik terhadap kepemimpinan Trump.

Aksi juga berlangsung di tengah kondisi cuaca ekstrem, seperti di Michigan. Warga bertahan dalam suhu di bawah titik beku demi menyuarakan aspirasi mereka.

Gelombang “No Kings” tidak hanya terjadi di dalam negeri, tetapi juga meluas ke sejumlah kota di Eropa, seperti Amsterdam, Madrid, dan Roma. Puluhan ribu orang dilaporkan ikut unjuk rasa dengan pengamanan ketat aparat setempat.

Gerakan ini merupakan kelanjutan dari aksi serupa yang digelar pada 2025 yang terus berkembang menjadi simbol perlawanan terhadap kebijakan pemerintah.

Sejumlah isu juga disorot, seperti kebijakan imigrasi, pendekatan hukum terhadap lawan politik, hingga sikap pemerintah terhadap perubahan iklim.

“Sejak aksi terakhir, kami melihat negara ini semakin diarahkan ke dalam konflik, baik di dalam negeri maupun luar negeri,” ujar Naveed Shah dari organisasi veteran Common Defense.

Minnesota menjadi salah satu titik perhatian dalam aksi kali ini, menyusul meningkatnya sorotan terhadap kebijakan imigrasi federal. Sejumlah tokoh politik dan seniman turut ambil bagian dalam menyuarakan kritik.

Pada saat tekanan publik yang meningkat, tingkat dukungan terhadap Trump dilaporkan menurun dan berada di bawah 40 persen, kondisi ini terjadi menjelang pemilihan paruh waktu yang akan digelar pada November mendatang.

Aksi “No Kings” mencerminkan menguatnya gelombang oposisi di tengah polarisasi politik yang kian tajam di Amerika Serikat, sekaligus menjadi penanda dinamika demokrasi yang terus bergerak di negara tersebut.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0