Inflasi Kaltim Maret 2026 Tembus 3,31 Persen, Samarinda Tertinggi
KARTANEWS.COM, SAMARINDA — Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Timur mencatat inflasi tahunan (year-on-year/yoy) pada Maret 2026 mencapai 3,31 persen, meningkat dari Indeks Harga Konsumen (IHK) 107,73 menjadi 111,30.
Meski mengalami kenaikan, angka tersebut masih berada di bawah inflasi nasional yang tercatat sebesar 3,48 persen.
Kepala BPS Kaltim, Mas’ud Rifai, menjelaskan bahwa kenaikan harga terjadi secara merata di sejumlah wilayah pemantauan utama di Kalimantan Timur.
“Tren inflasi ini terjadi di empat kabupaten dan kota yang menjadi wilayah pemantauan,” ujarnya dikutip dari Antara, Sabtu (4/4/2026).
Dari wilayah tersebut, Kota Samarinda mencatat inflasi tertinggi sebesar 3,92 persen dengan IHK 111,38, disusul Penajam Paser Utara sebesar 3,02 persen, Balikpapan 2,95 persen, dan Kabupaten Berau menjadi yang terendah dengan inflasi 2,38 persen.
Kenaikan inflasi didorong oleh peningkatan harga di hampir seluruh kelompok pengeluaran.
Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatat lonjakan paling tinggi hingga 15,65 persen, mencerminkan tekanan signifikan pada kebutuhan jasa dan gaya hidup.
Selain itu, kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar juga mengalami kenaikan sebesar 5,25 persen, diikuti kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 3,35 persen. Sedangkan sektor pendidikan tercatat naik 2,44 persen, sementara penyediaan makanan dan minuman atau restoran meningkat 1,71 persen.
Dari tren kenaikan tersebut, terdapat satu kelompok yang mengalami penurunan, yakni perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga yang mencatat deflasi sebesar 1,06 persen.
Secara bulanan (month-to-month), inflasi Kaltim pada Maret 2026 tercatat sebesar 0,72 persen. Sementara secara tahun berjalan (year-to-date), inflasi telah mencapai 1,37 persen.
Mas’ud menekankan bahwa tingginya inflasi di Samarinda yang mendekati angka empat persen perlu menjadi perhatian pemerintah daerah, terutama dalam menjaga stabilitas daya beli masyarakat menjelang periode tertentu yang berpotensi memicu kenaikan harga.
Ia juga menyoroti kenaikan pada sektor perumahan dan utilitas sebagai indikator meningkatnya beban biaya hidup yang berpotensi memberikan dampak langsung terhadap kondisi ekonomi rumah tangga, khususnya kelompok menengah kebawah. (AUNI/daa*)
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0