Inflasi Berau Februari 2026 Naik, Terkerek Tarif Listrik dan Harga Emas

Penulis : Mursyidah Auni | Editor : Dewi

Mar 20, 2026 - 14:42
Mar 20, 2026 - 19:12
 0  2
Inflasi Berau Februari 2026 Naik, Terkerek Tarif Listrik dan Harga Emas
Kepala Dinas Pangan Kabupaten Berau, Rakhmadi Pasarakan

KARTANEWS.COM, BERAU — Pemerintah Kabupaten Berau mencatat inflasi pada Februari 2026 mengalami kenaikan secara tahunan, namun secara umum masih berada dalam kondisi terkendali di tengah meningkatnya kebutuhan menjelang Ramadan.

Berdasarkan data yang disampaikan, inflasi year on year (yoy) meningkat dari 3,78 persen pada Januari menjadi 4,15 persen pada Februari, sementara secara month to month (mtm) berbalik dari deflasi minus 0,32 persen menjadi inflasi 0,15 persen, sedangkan secara year to date (ytd) masih tercatat deflasi 0,16 persen.

“Kalau kita lihat secara keseluruhan, inflasi masih terkendali, month to month hanya 0,15 persen dan year to date juga masih deflasi,” ujar Kepala Dinas Pangan Kabupaten Berau, Rakhmadi Pasarakan saat dikonfirmasi.

Rakhmadi menjelaskan, kenaikan inflasi di Berau tidak terlepas dari karakteristik wilayah yang luas serta ketergantungan pasokan dari luar daerah, sehingga rentan terhadap gangguan distribusi dan fluktuasi harga eksternal.

Ia juga mengatakan penyumbang utama inflasi secara tahunan pada Februari 2026 berasal dari kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga yang mengalami inflasi sebesar 14,51 persen dengan andil 2,24, didominasi kenaikan tarif listrik akibat perubahan kebijakan subsidi

“Inflasi ini banyak dipengaruhi kebijakan nasional, terutama terkait tarif listrik,” jelasnya.

Perawatan pribadi dan jasa lainnya, mencatat inflasi 13,94 persen, dipicu antara lain oleh kenaikan harga emas serta makanan dan minuman mengalami inflasi 3,94 persen, dengan kontribusi dari kelompok tembakau.

Sementara itu, sejumlah kelompok justru menyumbang deflasi, antara lain transportasi sebesar minus 3,71 persen serta rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar minus 1,62 persen.

Dari sisi pangan, pemerintah daerah menilai kondisi relatif stabil meskipun permintaan cenderung meningkat menjelang Ramadan.

“Harga pangan secara umum masih stabil, kenaikan yang terjadi lebih kepada pola musiman karena peningkatan permintaan,” ujarnya.

Dalam mengendalikan inflasi, Dinas Pangan Berau menerapkan sejumlah strategi utama yang difokuskan pada empat aspek, yakni:

  • Ketersediaan pasokan melalui inspeksi lapangan terhadap distribusi BBM dan LPG, serta pengawasan pangan bersama Satgas terkait.
  • Keterjangkauan harga melalui Gerakan Pangan Murah (GPM) yang telah digelar di sejumlah wilayah, serta rencana penyaluran bantuan pangan bagi masyarakat rentan.
  • Kelancaran distribusi melalui koordinasi lintas sektor guna memastikan distribusi barang tetap lancar tanpa hambatan.
  • Komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) dengan mengajak masyarakat berbelanja bijak dan menghindari panic buying.

Selain itu, cadangan pangan daerah juga diperkuat dengan stok di Bulog mencapai 46,6 ton dan rencana penambahan 50 ton pada tahun ini untuk mengantisipasi gejolak harga maupun kondisi darurat.

Terkait potensi penimbunan barang menjelang Lebaran, pemerintah memastikan akan melakukan penindakan tegas melalui Satgas pangan.

“Kalau ada praktik penimbunan akan ditindak sesuai hukum, karena kita juga tergabung dalam satgas pengawasan harga dan keamanan pangan,” tegasnya.

Menutup keterangannya, ia mengajak masyarakat untuk tetap tenang dan tidak terpancing lonjakan permintaan menjelang hari besar keagamaan, serta memastikan ketersediaan bahan pokok dalam kondisi aman.

Kami mengimbau masyarakat tidak melakukan pembelian berlebihan karena stok pangan tersedia,” tutupnya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0