BMKG Imbau Petani Pilih Tanaman Berumur Pendek Jelang Kemarau di Kaltim
Penulis : Mursyidah Auni | Editor : Dewi
KARTANEWS.COM, SAMARINDA — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Balikpapan mengimbau para petani di Kalimantan Timur untuk menyesuaikan pola tanam menjelang musim kemarau yang diperkirakan mulai pada akhir Mei 2026.
Ketua Tim Data dan Informasi BMKG Stasiun Kelas I Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan Balikpapan, Carolina Meylita Sibarani, menjelaskan bahwa saat ini wilayah Kaltim masih berada dalam periode musim hujan, namun fase kemarau diprediksi akan mencapai puncaknya pada Agustus mendatang.
“Petani disarankan menanam komoditas dengan masa panen singkat guna mengantisipasi keterbatasan air, terutama pada lahan tadah hujan saat kemarau berlangsung,” ujarnya dikutip dari Antara, Sabtu (28/3/2026).
Menurutnya, tanaman dengan masa panen lebih dari tiga bulan berisiko mengalami gangguan pertumbuhan akibat berkurangnya curah hujan, sehingga pemilihan varietas yang adaptif menjadi langkah penting dalam menjaga produktivitas pertanian.
Beberapa varietas padi berumur genjah yang direkomendasikan antara lain Inpari 32, Inpari 37, Inpari 42 GSR, serta MR70.
Varietas Inpari 32, misalnya, memiliki masa panen sekitar 120 hari dengan potensi hasil mencapai 6 hingga 8 ton gabah kering giling per hektare, tergantung pada teknik budidaya. Sementara itu, varietas MR70 dapat dipanen lebih cepat, yakni sekitar 110 hingga 115 hari.
Secara nasional, BMKG memprediksi musim kemarau tahun ini berpotensi berlangsung lebih panjang, dimulai sejak April hingga Desember, terutama apabila fenomena El Nino terjadi dalam beberapa bulan ke depan. Khusus di Kalimantan Timur, awal kemarau diperkirakan terjadi pada akhir Mei dengan kemungkinan durasi yang serupa.
Terkait kondisi cuaca panas yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir, Carolina menegaskan bahwa fenomena tersebut tidak sepenuhnya berkaitan dengan musim kemarau.
Ia menyebutkan bahwa peningkatan suhu dan kemunculan titik panas juga dipengaruhi faktor lain, seperti El Nino dan dinamika atmosfer, termasuk keberadaan bibit siklon yang memengaruhi pola pergerakan awan.
“Persebaran titik panas tidak hanya ditentukan oleh musim, tetapi juga dipengaruhi kondisi atmosfer yang menyebabkan awan tidak terkonsentrasi di satu wilayah,” jelasnya.
BMKG mencatat, pada Selasa (24/3/2026) terdapat 32 titik panas yang terdeteksi di lima wilayah di Kaltim dengan sebaran terbanyak di Kabupaten Kutai Timur.
Sementara pada hari berikutnya, jumlah titik panas meningkat menjadi 73 titik yang tersebar di sejumlah daerah, termasuk Kutai Timur, Kutai Kartanegara, Paser, Bontang, dan Mahakam Ulu.
Kondisi ini menjadi perhatian bagi berbagai pihak, terutama dalam upaya mitigasi kebakaran hutan dan lahan yang rawan terjadi saat periode kering.
BMKG pun mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi peningkatan titik panas seiring perubahan pola cuaca kedepan.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0