Ancaman Gejolak Timur Tengah Guncang Pasar Minyak, Bahlil Ungkap Stok BBM RI Aman 20 Hari
Penulis: Mursyidah Auni | Editor: Dewi
KARTANEWS.COM, JAKARTA – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia memastikan cadangan bahan bakar minyak (BBM) nasional dalam kondisi aman meski situasi geopolitik di Timur Tengah memanas akibat penutupan Selat Hormuz oleh Iran.
Menurut Bahlil, ketahanan stok BBM domestik saat ini berada di atas 20 hari.
“Stok masih cukup, di atas 20 hari,” ujarnya dalam keterangan resminya di Istana Negera, Selasa (3/3/2026).
Meski demikian, pemerintah tengah menghitung potensi dampak lanjutan terhadap sektor energi nasional, terutama karena Indonesia masih bergantung pada impor minyak mentah dan BBM.
“Karena bagaimanapun kita masih impor sekitar 1 juta barel per hari. Jadi ini harus kita antisipasi dari sisi pasokan dan harga,” tambahnya.
Bahlil menyebutkan akan melaporkan perkembangan situasi kepada Presiden Prabowo Subianto, sekaligus membahas langkah mitigasi bersama Dewan Energi Nasional (DEN).
“Besok kami rapat di ESDM bersama Dewan Energi Nasional untuk membahas dampaknya dan langkah yang perlu diambil,” ujarnya.
Ketua partai Golkar ini juga menegaskan hingga saat ini belum terdapat tekanan terhadap skema subsidi energi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Namun ia mengakui harga minyak mentah global berpotensi mengalami koreksi signifikan apabila ketegangan geopolitik terus meningkat.
“Sampai hari ini belum ada masalah terhadap subsidi. Tapi harga dunia pasti akan terkoreksi jika situasi di Timur Tengah semakin memanas,” ungkapnya.
Secara global, Selat Hormuz merupakan jalur vital perdagangan energi dunia. Sekitar 20 persen pasokan minyak global melintasi selat tersebut setiap hari.
Gangguan di kawasan ini berpotensi menghambat distribusi dan memicu lonjakan harga minyak mentah internasional.
Berdasarkan data terkini, harga minyak mentah acuan Brent tercatat mencapai US$78,91 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) berada di level US$72,23 per barel. Sejumlah analis memperkirakan harga minyak berpotensi naik ke kisaran US$80-100 per barel apabila ketegangan terus berlanjut.
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira memperkirakan harga minyak mentah berpeluang menembus kisaran US$100 hingga US$120 per barel jika eskalasi berlanjut. Dalam sebulan terakhir saja, harga minyak tercatat telah naik sekitar 13 persen.
“Jika Selat Hormuz terganggu, sekitar 20 persen pasokan minyak dunia terdampak. Ini sangat signifikan bagi pasar energi global,” ujarnya dikutip dari CNBC Indonesia, Selasa (3/3/2026).
Bhima menambahkan, risiko keamanan di kawasan konflik turut memengaruhi biaya logistik dan asuransi kapal pengangkut minyak. Sejumlah perusahaan asuransi disebut mulai membatasi perlindungan untuk kapal yang melintasi wilayah berisiko tinggi.
Kondisi ini dinilai dapat memperlambat distribusi dan memperberat biaya impor energi, termasuk bagi Indonesia sebagai negara net importir minyak.
Dalam asumsi makro APBN 2026, harga minyak mentah Indonesia (ICP) menjadi salah satu variabel kunci. Berdasarkan simulasi fiskal, setiap kenaikan US$1 per barel di atas asumsi APBN berpotensi menambah beban belanja negara sekitar Rp10 triliun lebih, terutama untuk subsidi dan kompensasi energi.
Jika harga minyak bergerak ke kisaran US$100–120 per barel, tekanan terhadap APBN diperkirakan meningkat signifikan. Beban tersebut tidak hanya berasal dari subsidi BBM, tetapi juga kompensasi kepada PT Pertamina (Persero) serta subsidi listrik.
“Ada potensi beban ganda terhadap APBN, terutama jika disertai pelemahan nilai tukar rupiah akibat arus modal keluar (flight to quality),” kata Bhima.
Sebagai catatan, ketahanan energi nasional selama ini mengandalkan kombinasi produksi domestik dan impor.
Produksi minyak dalam negeri berada di kisaran 600 ribu barel per hari, sementara kebutuhan nasional mendekati 1,5–1,6 juta barel per hari, sehingga selisihnya harus dipenuhi melalui impor.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0